ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Ngidam Pantai

elfarizi 3

Pantai Anyer

Sudah lama, sebetulnya, saya ngidam pengen lihat pantai. Lihat pasir putih, debur ombak, dan suasananya yang khas: panas dengan angin sepoi-sepoi. Sebagai orang yang “terlahir” di gunung, tinggal di kota yang dikelilingin gunung, kerja saban hari juga pemandangannya ya cuma gunung, di situ kadang saya merasa sedih. Susah sekali kalau lagi pengen lihat pantai. Terakhir kali ke pantai, dua tahun lalu, di Bengkulu.

Padahal kan gak perlu jauh-jauh ke Bengkulu buat liat pantai. Di Jawa, atau bahkan Jawa Barat, sangat banyak pantai yang bahkan sampai sekarang pun belum semuanya pernah dikunjungi. Nasib memang, setiap hari cuma keliling-keliling Bandung yang gak berpantai. Kalau pun mau, ya cuma liat cileuncang alias genangan air habis hujan. Gak beda-beda amat sebetulnya sama sensasi pantai, cuma gak ada pasir putih aja.

Sampai akhirnya, bermula Kamis lalu, saat mengunjungi resepsi pernikahan teman di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Setelah datang ke resepsi teman tersebut dan menyadari bahwa semakin langka “anak” seumuran yang masih single, hasrat pengen jalan-jalan pun makin besar. Refreshing. Kebetulan pula, pulang dari acara resepsi, punya niat main ke tempat teman di Serang, Banten. Sekaligus nengok papanya yang lagi sakit.

Sesuai rencana, Kamis sore saya sudah sampai di Serang, ibu kota provinsi Banten. Dari Jakarta, saya naik bis Primajasa jurusan Jakarta-Serang dengan ongkos Rp28.000,-. Perjalanan cukup lama, sekitar 3 jam dan yang paling lama justru saat bis masih “keliling” dalam kota Jakarta. Setelah keluar tol Kebun Jeruk dan masuk tol Merak, perjalanan sangat lancar. Sampai di Serang, saya langsung istirahat di tempat teman. Serang adalah kota kedua di provinsi Banten yang pernah saya kunjungi setelah Tangerang Selatan (selain Merak yang dikunjungi cuma buat nyebrang pulau pakai feri).

Sebagai ibu kota provinsi, sebetulnya kota Serang terbilang cukup “sepi”, apalagi sebagai provinsi tetangga ibu kota. Ruas jalan tidak terlalu padat dengan kendaraan, dan sepanjang jalan ada beberapa pusat perbelanjaan, termasuk yang terlihat paling besar adalah Mall of Serang (MOS). Sepintas pertama kali datang, saya berasa datang ke Cirebon. Apalagi pertama kali turun dari bis, ada tukang ojeg yang langsung nyambut dengan bahasa Jawa (yang katanya) logat Banten. Semua orang di pangkalan ngobrol pakai bahasa Jawa. Benar-benar gak berasa kalau provinsi ini pernah jadi bagian dari Jawa Barat.

Malam hari, saya diajak buat wisata kuliner khas kota Serang. Katanya, ada beberapa kuliner khas kota ini, macam sate bandeng, rabeg, dan nasi sumsum. Tapi malam itu, saya hanya makan nasi sumsum dan otak-otak. Sesuai namanya, nasi sumsum terdiri dari nasi dan sumsum daging yang bisa dipilih: sapi, kerbau, atau kambing. Nasinya dibakar dan dibungkus daun kelapa. Sayang gak saya foto, berhubung sebagai traveler yang gak sejati-sejati amat, saya masih suka memperhitungkan kondisi sekitar saat mau ngambil foto. Kesimpulannya: jaim.

Besoknya di hari Jumat, sesuai rencana, saya menjenguk papanya teman di Krakatau Medika Hospital di kota Cilegon. Di sela-sela jengukan, saya sempatkan buat jalan-jalan di kota penghasil baja terbesar se-Asia Tenggara tersebut. Suasana mirip-mirip Bekasi atau Cikarang, panas menyengat. Shalat Jumat di masjid agung Cilegon dan nonton di mal paling happening di sana, yaitu Ramayana yang terkenal dengan kasih sepanjang masanya (karena selalu diskon setiap hari).

Menara Suar Anyer

Menara Suar Anyer

Tugu 0 KM Anyer-Panarukan

Tugu 0 KM Anyer-Panarukan

Hari Sabtu, rencana selanjutnya adalah jalan-jalan ke pantai sesuai ngidam yang saya ceritakan di awal. Tujuannya adalah Pantai Anyer, pantai yang selalu saya ingat namanya sejak SD. Jadi ingat Bu Lia, guru saya pas kelas 4 SD, beliau pernah bertanya tentang pantai apa saja yang ada di Jawa Barat. Dulu, saya jawabnya Pangandaran, Anyer, dan Carita. Padahal dua yang terakhir sekarang masuknya provinsi Banten.

Pantai Anyer ini sebetulnya masuk wilayah Kabupaten Serang, tapi aksesnya lebih mudah ditempuh melalui kota Cilegon. Dari Cilegon, hanya perlu naik angkot berwarna perak (silver) ke Pantai Anyer. FYI, di Cilegon ini mudah mengingat jurusan trayek angkot, karena jurusannya dibedakan dengan warna. Perak ke anyer, merah ke Merak, dan ungu ke PCI. Dengan ongkos 5 rebu perak doang, saya sampai ke titik pertama, yaitu menara suar tempat KM 0-nya Jalan Anyer-Panarukan. Hanya perlu bayar Rp5.000,- untuk bisa naik ke menara setinggi 16 lantai tersebut.

Lepas memandang sekeliling Anyer dari menara suar, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Anyer. Dari menara suar hanya perlu beberapa menit sampai ke Hotel Marbela dengan angkot. Tapi, bukan hotel Marbela yang saya tuju, melainkan gang di sampingnya yang juga jalan menuju pantai. Sekitar jam 3 sore, pantai ramai dengan pengunjung. Di situlah, ngidam saya sedikit terbayar meski masih pengen ketemu pantai-pantai lainnya. Siapa tahu kan ketemu jodoh *oke yang ini curhat kebablasan*

Pulang dari Anyer, saya kembali ke Cilegon dan istirahat sejenak di rumah sakit tempat orangtua teman dirawat. Besoknya perjalananan dilanjutkan kembali ke Bandung, kota yang makin lama makin cantik. Dan, cantiknya semakin melenakan. Ah, semoga bisa selekasnya melepaskan …

14 comments on “Ngidam Pantai

  1. Revorma
    29 Januari 2016

    Bersyukur tinggal di Indonesia, banyak tempat-tempat yang super keren. kalau lagi suntuk tinggal pergi aja ke pantai atau ke puncak gunung, pasti ilang suntuknya, ya kan mas?

  2. Ping-balik: Pangandaran, Pantai Lagi! | ELFARIZI

  3. D I J A
    30 November 2015

    Dija sering ke pantai
    tapi belom pernah sekalipun ketemu mercusuar,,,
    😦

  4. pprakosa
    17 Mei 2015

    hahahha senasib bang jarang liat pantai, sekali ketemu girangnya setengah mati😀

    • elfarizi
      25 November 2015

      Haha, hayo kita ke pantai lagi!😀

  5. ilmii
    9 April 2015

    ngidam pantai sama ngidam jodoh… hakakakakkkk:mrgreen:

    • elfarizi
      25 November 2015

      Sama, Mi. Ehhhhh.

      • ilmii
        27 November 2015

        entah kapan aku komen itu, terlalu lama sampai lupa, mungkin komen itu diketik saat dinosaurus belom punah karena hujan meteor

  6. Ni Made Sri Andani
    1 Maret 2015

    Loh?! katanya kangen sama pantai..udah ketemu pantai..kok foto pantainya cuman dikit?…

    • elfarizi
      25 November 2015

      Di HP sebetulnya banyak, Mbak hehe

  7. fasyaulia
    24 Februari 2015

    Saya juga ngidam mantai soalnya di Bandung gak ada *yaiyalah*

    • elfarizi
      25 November 2015

      Ada juga Pantai Cikapundung yaaah …

  8. zilko
    23 Februari 2015

    Haha, jadi pengen ke pantai juga ini😀 . Pantainya bagus ya itu!😀 Lumayan untuk refreshing sejenak😛 .

    • elfarizi
      25 November 2015

      Betul, Zil, betul-betul refreshing!😀

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Februari 2015 by in Jalan-jalan, traveling and tagged , , , , , , , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: