ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Nge-chat Dosen

texting

Dulu, sewaktu masih berstatus “mahasiswa”, seringkali banyak dosen mengeluh mengenai cara mahasiswa menghubungi dirinya. Saya ingat, salah satu dosen perempuan pernah bilang, “Kalau mau menghubungi dosen itu pakai etika sebagai seorang mahasiswa. Salam, langsung pada permasalahan, dan pakai bahasa yang mudah dimengerti. Melihat beberapa contoh–kata dia–mahasiswa seringkali menganggap dosen itu sebaya dengan mengirim SMS seperti, “Ibu di mana?” atau “Bu, saya sudah di jurusan”. Kesannya, mahasiswa sudah ada di kantor jurusan dan si dosen tinggal mendatanginya di jurusan. Lah, siapa yang perlu?

Lain halnya dengan salah seorang dosen laki-laki yang sudah sangat senior. Dia pernah mengeluh bahwa (lagi-lagi) mahasiswa tidak menggunakan etika saat mengirimkan pesan. Sekali waktu, dia pernah membalas pesan seorang mahasiswa yang menanyakan dia masuk atau tidak. Dia bilang bahwa dia tidak masuk hari itu. Kemudian si mahasiswa membalas lagi, “Kenapa gak masuk, Pak?” Nah, itu yang kata dia kurang etis dilakukan. Sebetulnya, tidak perlu sampai menanyakan lagi kenapa dosen tidak masuk. Kalau kata “anak” zaman sekarang (saya salah satunya), gak usah kepo. Masa iya kita perlu tau kenapa dosen gak masuk, ke mana dosen pergi, ada urusan apa si dosen hari itu.

Saya yang saat itu masih mahasiswa, memahami mengapa kedua dosen sampai “menjelaskan” hal itu pada mahasiswa, termasuk di kelas saya. Mungkin, kedua dosen tersebut tidak merasa nyaman dengan cara komunikasi si mahasiswa. Meski tidak perlu dijelaskan si dosen, saya termasuk orang yang sangat “berpikir keras” dan sangat hati-hati saat perlu menghubungi dosen, saat itu. Jangankan untuk urusan yang tidak penting, yang benar-benar penting saja seringkali “was-was”, takut-takut cara saya juga dinilai kurang etis. Kalau kurang etis, bisa-bisa nilai subjektifnya memengaruhi nilai akademik:mrgreen: Tapi, setidaknya saya paham bahwa menghubungi dosen perlu penyampaian yang berbeda dengan teman-teman, keluarga, atau orang yang akrab lainnya. Makanya, saya gak habis pikir, kok, ada mahasiswa yang menghubungi dosen seperti itu.

Masalah lainnya adalah tentang media yang digunakan, apakah cara menghubungi (dosen) yang etis itu dengan SMS atau telepon? Beberapa dosen secara langsung ada yang bilang bahwa dia “lebih suka” ditelepon, ada juga yang bilang cukup di-SMS. Perbedaan keinginan itu seringkali membuat mahasiswa bingung menerapkan pada dosen yang tidak pernah menyinggung itu. Jadi seringkali kita menilai sendiri dari kepribadian si dosen itu. Dosen muda, yang akrab dengan mahasiswa, cenderung lebih santai. Pastilah dia cukup di-SMS. Lain halnya dengan dosen senior, apalagi termasuk orang “penting” (di kampus atau luar kampus), seringkali lebih ketat, apa cukup di-SMS atau telepon. Tapi seringkali anggapan itu keliru. Ada kok beberapa dosen muda yang (kelihatannya) akrab tak pernah sedikit pun membalas SMS mahasiswa, meski dirasa sangat penting.

Apalagi saat orang semakin akrab dengan telepon pintar (smartphone). Cara berkomunikasi bisa lebih mudah dengan messenger, seperti BBM, Line, atau Whatsapp. Beberapa tahun terakhir, banyak dosen saya juga sudah menggunakan messenger seperti itu. Saya rasa, meminta pin BBM atau Id Line kurang etis, apalagi untuk menghubungi yang pastinya hanya sesekali. Lain halnya dengan Whatsapp, jika nomor HP si dosen tersimpan di HP kita sendiri dan kebetulan dia pakai Whatsapp, secara otomatis akan terdeteksi. Nah, lagi-lagi, saya sendiri selalu merasa kurang etis jika harus menghubungi dosen saya via messenger seperti Whatsapp. Meski tahu dia seringkali online, tapi untuk urusan akademik (apalagi bimbingan tugas akhir), saya selalu mengirimkan pesan melalui SMS. Lain halnya dengan dosen yang sebelumnya sudah “mengizinkan” atau bahkan memilih untuk dihubungi via Whatsapp atau Facebook.

Melihat cara komunikasi mahasiswa-dosen seperti itu memang terlihat kaku. Tapi saya sendiri tidak pernah merasa keberatan, sebagai mahasiswa waktu itu. Karena bagaimana pun, situasi komunikasi yang diciptakan memang formal, minimal semiformal. Jika memang tidak memiliki hubungan kekerabatan atau bukan teman “main” sebaya, semuda apapun dosen, saya rasa memang perlu “prosedur” demikian saat menghubungi dosen. Meskipun pasti banyak mahasiswa yang mengeluh atau melihat komunikasi seperti itu sangat kaku, tidak akrab, dan mengesankan dosen “gila hormat”. Mereka tentunya ingin menciptakan suasana akrab. Pantas saja, ada mahasiswa yang menghubungi dosen seperti contoh-contoh yang sudah disebut di awal.

Nah, sekarang kondisinya sudah berubah. Sekarang saya tidak menghadapi dosen, tapi menghadapi mahasiswa. Untuk kepentingan perkuliahan, saya pun memberikan nomor kontak saya. Nomor tersebut adalah nomor primer yang sudah lama saya punya dan memang semua urusan penting selalu dengan nomor tersebut. Nomor itu juga saya gunakan untuk Id Whatsapp, agar orang-orang lebih mudah menghubungi saya. Tidak perlu pulsa untuk SMS. Saya sebetulnya tidak secara eksplisit menyebutkan kalau saya memilih ditelepon, di-SMS, atau boleh dikirimi pesan Whatsapp. Media apapun boleh digunakan mahasiswa jika memang perlu. Dan, benar saja, mahasiswa pun ternyata “berinisiatif” sendiri. Selain banyak yang mengirim SMS, beberapa di antara mereka ternyata lebih senang mengirim Whatsapp.

Dan, yang membuat saya kaget adalah cara-cara mahasiswa yang ternyata beraneka macam. Mulai dari cara yang “selayaknya” atau santun, dengan salam dan isi pesan yang jelas, hingga aneka pesan yang geje muncul di Whatsapp, seperti sekadar menyapa atau mengirimkan emoticon. Saya memang tidak tahu beberapa asalnya dari mana, apakah mahasiswa atau bukan, tapi baru kali ini saya mengalami hal tersebut. Sebelum nomor HP saya “go public”, tentu tidak ada yang memanggil saya “Bapak” atau bahkan tidak ada satu pun yang “mengerjai” via Whatsapp.

2

4

3

1

Ternyata, seiring berkembangnya teknologi (dan pastinya zaman), mahasiswa kian kreatif. Berkreasi menciptakan kebiasaan baru bahwa sekarang sudah lumrah mahasiswa sekadar menyapa dosen di messenger bahkan emoticon senyum. Mungkin ini juga masukan buat saya bahwa jangan terlalu “kaku” dalam menerapkan hubungan dosen-mahasiswa seperti waktu saya kuliah dulu. Anggap saja semacam perbaikan buat kepribadian saya sendiri yang memang terbiasa kaku dalam hubungan sosial. Mereka kan sekadar ingin mengakrabkan diri, bukan? Ah, tapi sepertinya saya sulit atau bahkan gagal paham. Bukan saya “gila hormat” atau penghargaan, tapi jatuhnya memang geli (orang Sunda bilang getek) kalau ada sapaan-sapaan semacam itu. Bukan saya gak mau akrab dan santai, tapi gak gitu juga kan caranya ….

Ada yang punya masukan, cara menghubungi dosen yang baik seperti apa?

32 comments on “Nge-chat Dosen

  1. hasannote
    1 Februari 2015

    Memang begitulah jadi dosen singel.Makanya ngaku aja udah kawin..haha

  2. iisnoor
    28 Januari 2015

    sudah lama tidak bersua,, ternyata pak kepala sekolah sudah menjadi dosen. Alhamdulillah..🙂

    • elfarizi
      25 November 2015

      Wah iya, Is. Kangen sama anak-anak SMPR nih.

  3. Tina Latief
    31 Oktober 2014

    kalau di kampusku dosen-dosen muda sih biasa saja Zi, yang jelas asal kita sopan dan tetep respect sama dia..
    malahan kita sering ketawa-ketawa ngga jelas juga loh di chat maupun didunia nyata. Dosen di kampusku santai-santai.. tapi ya beda kalau udha serius di kelas..😉

    • elfarizi
      25 November 2015

      Yah betul, Tin, sepakat. Sebetulnya gak ada masalah sama “keakraban”. Di mana pun oke, asal di kelas serius mengikuti kegiatan. Dan, masalah chat di HP ini, saya cuma takut terbawa-bawa ke kehidupan mereka setelah kerja, gak bisa bedakan situasi formal dan nonformal hehe.

  4. misstitisari
    31 Oktober 2014

    Aku dulu sih telepon ya El, kayaknya gimana gitu kalau lewat SMS, dulu belum ada WA sama BBM yaaa *ketauan angkatannya*😀

    • elfarizi
      25 November 2015

      Haha, wah ternyata angkatan belum ber-WA dan BBM ya? :p

  5. Abi Sabila
    30 Oktober 2014

    Selama ini saya berkomunikasi dengan dosen melalui sms, telfon, email dan WA, bahkan pernah ada dosen muda melalui inbox fb nya, alhamdulillah lancar-lancar saja, tentu dengan tetap memgutamakan tata krama dan sopan santun.

    • elfarizi
      25 November 2015

      Yap, poin terakhir paling penting. Media gak masalah ya mas hehe.

  6. Idah Ceris
    21 Oktober 2014

    Entah, ya. Aku sampai saat ini kalau chat sama Dosen belum bisa pake emotikon. Serius, Kak.😀 Paling ya tertawa garing, seperti: Hehehe.😆

    Apa kabar kamu, Kak?😛

    • elfarizi
      25 November 2015

      Haha, soalnya emotikon takutnya ditafsirkan beda sama dosennya. Kabar baik, Idah. Dirimu apa kabar?

  7. Dunia Ely
    7 Oktober 2014

    Semestinya sih pakai bahasa resmi ya El, ntar jadi kayak teman dong kalau model sapaannya geje geje begitu

    • elfarizi
      22 Oktober 2014

      Iya, betul Mbak El. Minimal, meski gak pakai bahasa resmi ya, yang enak aja dibacanya hehe😀

  8. Puji Lestari
    22 September 2014

    Met siang pak dosen, makan siang bareng yuk…😆

    Beruntung yak dosen pembimbing saya dulu bisa dihubungi via apa saja, dan langsung cepat direspon sama beliau. Cuma satu syaratnya, jangan nulis pakai singkatan-singkatan.
    Yang membuat saya terkesan, dosen saya itu selalu mengakhiri setiap sms, email dll dengan ucapan “terima kasih”. Ini kadang yang dilupakan mahasiswa.

    • elfarizi
      25 November 2015

      Hehe, iya betul. Singkatan-singkatan itu loh yang sering memusingkan. Apalagi singkatan mahasiswa sekarang lebih inovatif dari zaman dulu haha.

  9. ardiansyah pango darwis
    20 September 2014

    Wah sebagai maba saya dapat masukan🙂 thanks ya El😀

    • elfarizi
      25 November 2015

      Wah, ada maba nih. Sukses ya Ardi!🙂

  10. ndutyke
    20 September 2014

    Dlm menghadapi ato berkomunikasi dgn yg lbh tua, trutama bhs tulis, sbaiknya dgn cara yg resmi2 saja. Dan tetap sesopan saat berbincang scr langsung.

  11. JNYnita
    20 September 2014

    Klo di FKG bisa hampir tiap hari kerja sms-an sm dosen.. memang beda bahasanya, kadang kami suka saling crosscek kelayakan sms tersebut.. mayoritas sih gak mau ditelpon, jd via sms aja, dan bukan wa, line atau bbm (kecuali pas udah lulus & udah jd teman sejawat).. tapi pernah kejadian temenku, dia hubungi seorang prof via sms tapi gak dibalas2, iseng hubungi via wa lsg dijawab.. hahaha.. mungkin profnya lg lupa isi pulsa ya..

    • elfarizi
      25 November 2015

      Haha, profnya udah tahu kalo WA lebih efisien dan hemat pulsa daripada SMS🙂

  12. dannimoring.net
    20 September 2014

    iya ya..kadang mahasiswa hubungi dosen kyk ke temannya aja ya..
    tp satu sisi mahasiswa nya juga bingung, dia mau hubungi via telpon atau chat..nah penggunaan bahasanya jg mungkin dia bingung mau ngomong apa..untung aja ga nanya “udah makan belum?”😀

    • elfarizi
      25 November 2015

      Asal jangan bilang “kapan nikah?” aja bang haha.

  13. Martina Nofra Panai
    20 September 2014

    Salam kena Pak Dosen…

    ini juga sering jadi masalah di kampus tempat saya kuliah Pak.. bahkan teman saya pernah dimarahi dosennya karena mengirim sms yang bahasanya sama dengan mengirm pesan kepada teman..

    • elfarizi
      25 November 2015

      Salam kenal juga, Martina🙂

      Masalahnya sebetulnya bukan dosen ingin dispesialkan, tapi mahasiswa harus belajar dan membiasakan diri berkomunikasi sesuai konteks dan situasinya. Sukses ya Martina😉

  14. sariwidiarti
    20 September 2014

    waktu Kuliah masih pakai mobile phone, sering juga loh sms dan telepon dosen. Meskipun cuma tanya jadwal kuliah😀

    • elfarizi
      25 November 2015

      Haha, kenangan masa lalu ya🙂

  15. Ni Made Sri Andani
    20 September 2014

    ha ha.. jamanku dulu sayangnya belum ada mobile phone.. jadinya aku ngga pernah ngubungin dosenku.. cuma kalau mau ketemu ya nemuinnya di kampus/di kantornya saja.

    • elfarizi
      25 November 2015

      Haha, gak begitu banyak masalah ya mbak zaman dulu🙂

  16. Firman Pamungkas
    20 September 2014

    Menghubungi dosen via BBM pake emoticon. Like a Boss!😀

    Bagusnya sih konfirmasi ke dosennya dulu, lebih suka dihubungi lewat apa.

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 September 2014 by in Katarsis.

Arsip

%d blogger menyukai ini: