ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Cieee, Dunia Baru

teaching words

Setelah lulus secara sah dan meyakinkan melalui prosesi wisuda 28 Agustus lalu, saya memutuskan untuk kembali ke almamater sewaktu kuliah S-1 dulu. Kalau ditanya cita-cita, saya tak pernah ragu. Sejak kecil, gak terlintas sedikit pun ingin menjadi dokter, polisi, atau presiden. Waktu SD, setiap kali ditanya cita-citanya apa, saya selalu mantap bilang bahwa saya ingin jadi guru. Mungkin karena sejak kecil terbiasa melihat papa ngajar, mulai ngajar SD hingga anak-anak paket B. Saya selalu tertarik melihat papa membawa buku-buku modul Universitas Terbuka dan selalu membacanya sendiri. Makanya dari dulu, menjadi guru selalu terlihat begitu menarik dan mengasyikan. Lama-lama, saya makin menganggap guru adalah pekerjaan paling keren sepanjang masa😀

Alhamdulillah, sudah pekan ketiga saya menjadi guru di perguruan tinggi. Orang bilang namanya dosen. Dan, tentu ini adalah pengalaman pertama saya mengajar untuk level perguruan tinggi. Sebelumnya, paling cuma guru ekskul di SMA dan ngajar ngaji sewaktu KKN. Meski baru diterima sebagai dosen luar biasa (istilah keren buat nyebut ‘honorer’), tapi tentu saya mulai membiasakan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus dan mulai menantang diri untuk bisa mengajar. Karena jujur saja, saya tidak punya latar belakang ilmu keguruan, jadi mungkin tidak terlalu paham teknik mengajar yang baik dengan metode yang tepat. Saya selalu mikir, mengajar yang baik itu cukup indikatornya, mahasiswa jadi paham dan gak ngantuk pas saya menjelaskan:mrgreen:

Sebagai dosen junior, saya belum diberi kesempatan untuk jadi pengampu utama di setiap mata kuliah. Ada tiga mata kuliah yang sama ampu, mulai di semester 1, 3, dan 7. Saya masih berstatus sebagai dosen pendamping. Kebetulan yang saya dampingi memang dosen-dosen saya dulu yang juga pernah mengajari saya di kelas. Jangan ditanya rasanya seperti apa jadi dosen pendamping. Awalnya, rasanya nervous dan canggung. Gak nyangka rasanya kalau dulu saya pernah jadi murid mereka dan sekarang jadi rekan sejawat (cieee, rekan sejawat #songong). Bagaimana pun, saya tetap menaruh hormat pada mereka dengan tetap harus membiasakan diri bersikap profesional, menunjukkan kemampuan mengajar yang baik.

Singkatnya, ini adalah dunia baru bagi saya. Jadi guru yang benar-benar guru. Pertama kali menjadi pengajar suatu mata kuliah, meski masih berstatus pendamping. Pertama kali masuk ke lingkungan kampus, hal yang paling canggung adalah beradaptasi dengan dosen-dosen lainnya. Memang di situ almamater saya, tapi bagaimana pun saya datang dengan status yang berbeda. Apalagi, “rekan kerja” saya semua berusia jauh di atas saya. Gak ada rekan sebaya, apalagi yang benar-benar seumuran. Rasanya kikuk sendiri kalau sudah berkumpul. Apalagi orang kayak saya yang susah buat bisa nyaman dalam lingkungan baru. Dunia seolah benar-benar baru. Berasa baru kemarin masih senang jalan-jalan, nongkrong-nongkrong, hedon sana-sini sama teman-teman kuliah. Kini semua mulai berpencar menjalankan hidup masing-masing.

Tapi, lambat laun semua mulai bisa teratasi. Salah satu hal yang bikin saya lebih “betah” adalah dengan masuk ke kelas dan berbaur dengan mahasiswa. Rasanya ada energi positif. Utamanya saya jadi berasa ketemu teman-teman sebaya, meski jatohnya jadi rada gak sadar umur:mrgreen: Apalagi pas masuk ke semester 7, berasa ngobrol sama sebaya. Apalagi liat orang-orang yang beberapa di antaranya malah terlihat lebih tua dari saya, haha. Lain halnya, pas saya masuk ke semester 1. Ada satu kelas yang selalu heboh dan berisik. Mahasiswanya selalu aktif dan semangat. Maklum, mereka masih semester 1. Dosa dan beban pikirannya belum banyak :mrgreen: Cuma, ada satu hal yang bikin saya jadi lebih sering merenung. Sekarang semua orang manggil saya “Bapak”😦 Rasanya waktu begitu cepat berputar. Gak lucu pula kalau mahasiswa di kelas manggil saya “Kakaaak”. Pffft.

Di salah satu kelas di semester satu, saya malah kudu bisa “tahan banting”. Maksudnya, kudu benar-benar bisa menguasai diri karena takut malah jadi salah tingkah. Soalnya, di depan mahasiswa yang jumlahnya 40 orang dalam satu kelas, beberapa mahasiswa dengan kacrutnya bikin saya cukup kikuk. Alkisah, itu dimulai saat saya memberi contoh dengan menyebut salah seorang mahasiswi dalam penjelasan saya. Setelah nama mahasiswi itu disebut, serempak sebagian mahasiswa berteriak “Cieeee Bapak”. Awalnya saya cuma senyum-senyum sok cool gak menanggapi. Tapi setelah nama mahasiswi itu saya sebut lagi, serempak mereka berteriak lagi, “Cieeee Bapak modus”. Yang kedua kali cukup bikin makjleb. Sebetulnya cukup bikin kikuk dan sempat mikir beberapa saat. Untunglah, saya berusaha “menguasai” keadaan. Salah-salah kalau saya kelihatan kegeeran bahkan mati gaya, wah saya bisa jadi bulan-bulanan seterusnya.

Tapi, bersyukur sejauh ini semua baik-baik saja. Menjadi dosen untuk pertama kalinya dan memasuki dunia yang benar-benar baru. Meski konsekuensinya, menjadi seorang pengajar gak jauh beda sama muridnya. Dosen tetap harus belajar seperti mahasiswa, bahkan lebih banyak. Gimana pun, saya dulu pernah jadi mahasiswa, seringkali malas belajar dan mengerjakan tugas. Pernah datang terlambat, bahkan pernah ketiduran di kelas. Ah, semoga gak jadi karma. Semoga kalian jadi mahasiswa-mahasiswa yang baik ya, Nak! *sok tua*

19 comments on “Cieee, Dunia Baru

  1. Asop
    20 November 2015

    Hebaaaaaaat kereeeen jadi doseeen!! Wuiiiihh😀😀

    Luar biasa. Semoga kamu bisa terus melaksanakan amanah ini ya, insyaallah pekerjaan mengajar seperti ini barokah dan akan terus masuk sebagai ladang amal. Aamiin.🙂

    Tinggal kerja cerdas dan kerja keras nih.😉

    • elfarizi
      25 November 2015

      Aamiiiin. Makasih Asop. Sukses juga buat dirimu!😀

      • Asop
        26 November 2015

        Aamiin, saling mendoakan yah.🙂

  2. sedyadiasto
    27 Oktober 2014

    ciee dosen . . mudah mudahan ane nyusul pak , ,, ^^

    • elfarizi
      25 November 2015

      Aamiin, semoga segera menyusul😀

  3. ettysetyani
    19 September 2014

    Ciye bapak ciye… hahhaha

  4. Lailatul Qadr
    18 September 2014

    Selamat menghadapi dunia baru, Pak Dosen…😀

  5. belalang cerewet
    18 September 2014

    Selamat bertugas, Pak Dosen. Jangan sering modus loh ya hehehehe

    • elfarizi
      25 November 2015

      Haha, makasih. Gak janji ya, kalau gak modus😀

  6. JNYnita
    18 September 2014

    ciyeee bapak…hehehe…

  7. dewa putu am
    17 September 2014

    Cieee ciiieee bapak…

  8. Ni Made Sri Andani
    17 September 2014

    wah..selamat ya Pak Dosen.. Semoga selalu sukses ya..

  9. dannimoring.net
    17 September 2014

    hahahhaha cieee yang udah jadi dosen….ditunggu postingan berikut2nya😀

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 September 2014 by in Katarsis.

Arsip

%d blogger menyukai ini: