ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Asal-Usul Nama Cianjur

Selamat pagi, Kawan Blogger … Yang puasa, gimana puasanya? Yang enggak puasa, gimana enggak puasanya? (pertanyaan macam apa itu, ya!) Kalau kemarin saya cerita asal-usul si maknyus sambal Cibiuk, sekarang saya mau cerita asal-usul nama kota kelahiran saya, nih, Cianjur. Sebagai suatu folklore, asal-usul Cianjur ini diketahui berdasarkan tradisi lisan, dari mulut ke mulut, yang dipercaya sebagai suatu legenda oleh masyakarat setempat sehingga mungkin tidak berkaitan dengan fakta sejarah apapun. Dan, ternyata legenda asal-usul Cianjur ini udah dipatenkan, lho, oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. Jadi, saya ceritakan ulang (retelling) dari versi yang ada, nih.

***

Gunung Gede, salah satu andalan masyarakat Cianjur.

Syahdan (#tsaa, permulaan yang klasik) … di suatu desa di Jawa Barat, ada seorang petani yang kaya raya. Dia punya seorang anak bernama Tetep. Petani yang kaya raya itu menguasai seluruh tanah, sawah, dan ladang di desa tersebut. Oleh karena itu, dia mempekerjakan warga setempat untuk menggarap lahan pertanian dan perkebunan miliknya. Cuma, si petani kaya raya itu kikir alias pelit minta ampun. Orang Sunda bilang merege hese cap jahe. Jadi, karena kekikirannya,  petani kaya itu disebut Pak Koret oleh penduduk setempat. Koret itu bahasa Sunda, artinya pelit.

Suatu ketika di musim panen, Pak Koret mendadak galau. Betapa tidak, pada masa itu ada kepercayaan bahwa selepas panen, pemilik lahan harus membuat pesta syukuran. Jika tidak menggelar pesta itu, maka hasil panen pada musim berikutnya akan gagal. Pak Koret galau karena dia tidak mau membuang-buang hartanya demi menggelar pesta itu. Karena baginya, pesta itu hanya memuaskan dan mengenyangkan perut para penduduk masyarakat di desa itu.

Namun karena takut gagal panen pada musim berikutnya, Pak Koret tetap menggelar pesta syukuran. Seluruh warga diundang ke rumahnya. Hanya saja, Pak Koret sangat menghemat anggaran untuk pesta itu. Jadilah, makanan dan minuman yang ada tidak mencukupi. Banyak warga yang mengeluh tidak kebagian makanan dan minuman. Banyak ibu-ibu dan bapak-bapak menggunjing si Pak Koret. Bahkan, anaknya pun, si Tetep, gak habis pikir punya bapak seperti Pak Koret.

Lalu, tiba-tiba datanglah seorang nenek tua ke pesta tersebut. Dia yang kelaparan itu menghadap ke Pak Koret.

“Tuaaan, saya belum makan berhari-hari. Bolehkan saya meminta makanan?” kata si Nenek memelas.

“Apa?!?!?!” seru Pak Koret terkejut. Ekspresinya kayak di sinetron-sinetron. “Heh, Nenek Tua. Kamu kira dapatin nasi itu gampang! Sudah, makan dulu sanah, eh, pergi sanah! Jangan ganggu pesta ini!” hardik Pak Koret.

“Tapi, Tuan … bukankah Tuan punya banyak harta?” tanya nenek tua itu.

“Iya, saya memang kaya! Masalah buat kamu?” bentak Pak Koret sensi. “Semua harta kekayaan ini, saya dapatkan dengan susah payah. Jadi, saya tidak akan membagikannya dengan mudah. Sudah, sana pergi!!!”

Karena diusir, nenek tua itu pun pergi. Namun, baru saja dia keluar, seorang pemuda gagah rupawan mengejar dan menghampirinya.

“Nek, tunggu,” cegah pemuda itu yang ternyata si Tetep, anak Pak Koret.

Nenek tua langsung menghentikan langkahnya. Dia menatap si pemuda itu dengan tatapan penuh cinta. “Ada apa, Nak?” tanya si Nenek.

“Nek, saya Tetep,” kata Tetep memperkenalkan diri. Mereka pun bersalaman, berkenalan, dan bertukar nomor HP. “Tadi, saya dengar Nenek belum makan berhari-hari. Ini, saya bawakan makanan dan minuman untuk Nenek,” ujar Tetep sambil menyerahkan makanan dan minuman untuk bekal nenek tua itu.

“Terima kasih, Nak. Nenek jadi terharu,” kata si Nenek tua berkaca-kaca. “Semoga kebaikanmu dibalas dengan kemuliaan di suatu hari kelak,” ucap si Nenek mendoakan.

“Sama-sama, Nek,” kata Tetep.

Situs Gunung Padang, Cianjur, warisan zaman prasejarah.
(Sumber: http://www.atlantissunda.wordpress.com)

Nenek tua itu pun memakan makanan pemberian Tetep. Setelah makan, dia melanjutkan perjalanan ke atas bukit. Di atas bukit, nenek tua melihat rumah Pak Koret yang sangat megah, berbeda dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Nenek tua itu merasa sedih melihat penduduk setempat yang miskin, berbeda jauh dengan Pak Koret yang kaya raya, serakah, dan kikir itu. Dia kemudian berdiri sambil memegang tongkat yang selalu dibawanya.

“Dasar, orang tua serakah! Orang kikir! Rasakan pembalasannya nanti! Semoga Tuhan menenggelamkanmu dalam kekikiran dan keserakahnmu!!!”  teriak si nenek tua sambil menancapkan tongkatnya.

Usai berdoa, nenek tua mencabut kembali tongkatnya. Tiba-tiba (jreng … jreng … jreng), terpancarlah air dari lubang bekas tancapan tongkatnya itu. Air tersebut terus memancar hingga membanjiri desa. Para penduduk yang melihat banjir tersebut kemudian panik. Mereka hendak pulang ke rumahnya masing-masing, menyelamatkan harta benda dan ternaknya. Namun, Tetep melarangnya.

“Ayo, kita ke bukit. Biarkan ternak dan harta benda kalian. Banjir semakin dekat. Yang penting kita selamat!” teriak Tetep. Warga semua kemudian menuruti dan berlari ke arah bukit. Sedangkan Tetep masuk ke rumahnya, memanggil bapaknya, Pak Koret.

“Bapak, ayo kita pergi ke bukit, Pak! Banjir semakin dekat!” ajak Tetep kepada bapaknya.

“Tidak, aku akan menyelamatkan harta bendaku yang sangat banyak ini. Ini adalah hasil jerih payahku selama ini,” kata Pak Koret hendak menyelamatkan seluruh hartanya yang disimpan di kamarnya.

Berkali-kali Tetep mengajak bapaknya, namun Pak Koret tetap bersikukuh ingin menyelamatkan harta bendanya yang sangat banyak. Karena tak juga menurut, Tetep akhirnya pergi meninggalkan bapaknya untuk lari ke atas bukit.

Ketika semua penduduk, termasuk Tetep, telah sampai di atas bukit, dalam sekejap desa itu ditenggelamkan banjir yang sangat besar. Desa tersebut kemudian menjadi danau. Para penduduk hanya bisa pasrah, merelakan harta bendanya tenggelam bersama banjir.

“Tidak usah bersedih. Ayo, kita berpindah ke daerah lain yang lebih aman,” seru Tetep kepada seluruh warga.

Setelah mendapatkan lahan yang cocok, mereka pun mendirikan permukiman. Karena tidak ada pemimpin, para warga sepakat mengangkat Tetep menjadi pemimpin di desa itu karena Tetep yang menganjurkan mereka berpindah ke tempat itu. Di tempat itu, Tetep menjadi pemimpin yang bijaksana dan adil kepada warganya. Dia membagi tanah secara adil kepada warganya dan mengajarkan cara bercocok tanam dan mengairi sawah yang baik. Atas anjuran Tetep, seluruh warga hidup aman dan sejahtera. Maka, mereka menamakan desa itu pun desa Anjuran. Namun, seiring perkembangan zaman, desa itu pun meluas dan diberi nama Cianjur.

***

Begitulah, ceritanya. Jangan ngantuk, ya, bacanya!😆 Sekali lagi, ini hanya cerita rakyat yang mungkin tidak berhubungan dengan fakta sejarah. Saya, sih, hanya berusaha melestarikan budaya sendiri, termasuk karya sastra dari daerah saya sendiri. Ayo, siapa yang tahu asal-usul nama daerah sendiri?

44 comments on “Asal-Usul Nama Cianjur

  1. Sarifah s
    22 Desember 2013

    wihhh saya orng Cianjur nih,dapat pengetahuan baru.. pernah liat cerita nya versi video kartunn heheh seru deh😀

  2. iNs
    27 September 2012

    saya agak tergelitik dengan cerita versi ini karena dongeng bisa disebut jiplakan! dari Dongeng Sasalaka Situ Bagendit, Garut. untuk lebih lanjut, saya membuat ulasannya di blog saya

    mohon cerita ini tidak dijadikan referensi utama untuk karya tulis ilmiah, karena beresiko menimbulkan kesalahpahaman dan “gugatan” dongeng Situ Bagendit.
    saya sangat terbuka untuk mendiskusikan hal ini lebih dalam.
    trims.

  3. septiadiah
    2 Agustus 2012

    eh si Pak Koret gaul ya, untuk ukuran cerita yg dimulai dgn kata syahdan:mrgreen:
    gak ngantuk El, malah sambil senyum2 mbacanya😀

  4. yisha
    1 Agustus 2012

    wah………… ini legenda, kakaaaaaaa………..
    makasih nge post ini………

  5. anislotus
    1 Agustus 2012

    wahhh… aq paling suka baca cerita rakyat >,<

    jadi tau deh asal usulx Cianjur😀
    jd pengen tau asal usul kotaq… hwhwhw

    • elfarizi
      1 Agustus 2012

      Tasik atau mana, Anis?😀
      Ayooo, dicari pasti ada🙂

      • anislotus
        1 Agustus 2012

        kalo aq, Bondowoso…. hehe
        kalo tasikmalaya itu kotanya ibuku… tapi ntar aq cari juga dehh…😀

  6. SanG BaYAnG
    1 Agustus 2012

    Sebuah kisah terangkai indah penuh dengan wawasan sejarah.. Mantabs mase..😀

  7. Senjakala Adirata
    1 Agustus 2012

    seneng bisa dapatken cerita rakyat gini. sebab jaman maju gini udah banyak rakyat yang ndak demen lagi sama cerita rakyat. hahahahha, cerita rakyat tanpa rakyat jadinya gimana tuh..😀

  8. Sii Isni
    1 Agustus 2012

    Kalau dari sisi faktanya gimana asal-usul Cianjur?😀

  9. uyayan
    31 Juli 2012

    El,,,, jadi seuri sorangan pas maca nepi kana “Pak Koret mendadak galau”… hadeuh tapi benar El macana jadi teu tunduh (da puguh keur ngopi) hehe..
    terus kahandapna eta manini make jeung tukeur nomer hape sagala… kreatif….

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Hahaha … apanan legenda versi barudak kiwari, Kang😆

      • uyayan
        31 Juli 2012

        El usulan Tiara hade.. wajib di pertimbangkan… akang ngadukung….

        • elfarizi
          1 Agustus 2012

          Hahaha … hatur nuhun ah, saran sareng dukungana😀

  10. tiara
    31 Juli 2012

    bang el, nulis buku cerita rakyat dong, tapi dikemas model begini, pasti anak jaman sekarang jadi ga bosen bacanya😀

  11. sweetyvinz
    31 Juli 2012

    wah hampir sama kaya situ bagendit ternyata😀

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Ya, rata-rata memang hampir sama setiap daerah. Kalau gak danau, pasti gunung, hehehe😀

  12. zilko
    31 Juli 2012

    Ternyata orang zaman dahulu bisa galau juga ya El, #eh, hahahaha😆

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Hahaha … iyah, jutsru kita yang ngikutin orang dulu haha😆

  13. puchsukahujan
    31 Juli 2012

    gaya penceritaannya gokil amat, banyak bumbunya #eh sampai-sampai bawa iklan mie ayam spesial dan Shoimah segala😆

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Hehehe … menyesuaikan perkembangan zaman. Yang penting esensinya sama, hahaha😆

  14. onesetia82
    31 Juli 2012

    wexwexwexwexwex …
    lumayan sambil ngabuburit kang baca cerita ini dan lumayan dapat menghibur …😉
    mungkin Tjetjep bro bukan Tetep …😀

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Hahaha … orang Cianjur komen euy😀
      Kalo dari sumber cerita (yang dipatenkan) sih Tetep namanya. Kalo Tjetjep mah beda jauh sama Tetep kelakuannya hahaha *ups, sieun ah*

      • onesetia82
        31 Juli 2012

        awas aya sundawani kang bilih ngalegleg …😀

  15. Danni Moring
    31 Juli 2012

    hahahhahaa…..keren ceritanya😀..sekarang kayaknya sering update posting nih😀 #eh hehehe

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Hahaha … maksain lho nulisnya habis sahur hehe. Balas komen pas lagi gak ada kerjaan😆

  16. Ely Meyer
    31 Juli 2012

    baca ceritanya kayak baca buku cerita anak anak El, menarik juga ya, khas sekali yang jahat pasti mati😛

    aku dapat kosa kata baru nih koret😀

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Hahaha … memang biasanya, cerita rakyat itu standarnya dikonsumsi anak-anak😀

  17. SITI FATIMAH AHMAD
    31 Juli 2012

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Elfarizi…

    Kisah rakyat yang menarik dan tentunya sangat inovasi bagi orang-orang tua jaman dulu. Cuma kalau dibikin sama anak moden sekarang (kayak Elfarizi), ceritannya jadi lucu dengan ubahan bahasa yang simple dan santai. Wah… mengingatkan saya sama Raditya Dika.😀

    Satu usaha bagus untuk melanjutkan kisah rakyat di zaman moden ini.
    Salut ya.

    • elfarizi
      31 Juli 2012

      Alaikum salam wr. wb.
      Wah … makasih, Bunda. Saya memang senang dengan cerita-cerita rakyat😀

  18. Eko Wardoyo
    31 Juli 2012

    yang boneng tuch cerita bang hebat yah namanya, sebuah doa dimana menjadi Anjuran whoooohhhh #kaget-sambil-ketawa-sipu :))

    • elfarizi
      1 Agustus 2012

      Wah kenapa ketawanya sipu-sipu gitu? Haha😆

  19. Triyoga Adi Perdana
    31 Juli 2012

    Di cianjur juga dulu udah ada hape ya?
    Subhanallah.😀

  20. Dhenok Habibie
    31 Juli 2012

    hahahaha, berarti galau itu sudah mewabah sejak zaman dulu kala yaa eL.. retelling-nya bagus, disesuaikan dengan gaya bahasa ala eL😛

    • elfarizi
      1 Agustus 2012

      Haha … ya, galau kan masalah perasaan #tsaa, jadilah orang jadul juga pasti pernah galau hahaha😆

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31 Juli 2012 by in budaya, legenda, sastra and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: