ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Makjleb!

Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya.

Foto di atas diambil saat saya memulai kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dua tahun lalu. Terus ada apa dengan foto ini? Rasanya emang gak ada bedanya … Tapi, coba perhatikan sejenak foto di atas dengan saksama. Silakan Sahabat hitung, ada berapa orang yang “tertangkap” kamera? Genap, bukan? Lalu, coba perhatikan pintu yang terbuka di sisi kanan? Di sana tampak bagian luar yang sedikit terlihat … Perhatikan baik-baik. Apa yang sahabat lihat? Adakah yang aneh di sana?

***

Ya, tentu Sahabat akan melihat sesuatu. Demikian pula dengan saya. Namun, bukan itu yang hendak saya bicarakan di sini. Foto ini telah mengingatkan saya pada satu pelajaran penting. Ya, cerita di balik foto ini sulit saya lupakan karena terasa membekas.

Waktu itu hari Jumat. Kelompok KKN kami baru datang hari Kamis sebelumnya. Agenda pertama kami tentu perkenalan dengan warga masyarakat di lokasi KKN (disebut lokakarya). Saya, sebagai ketua kelompok, berencana membuat lokakarya itu Jumat sore atau Sabtu, dengan terlebih dahulu mendatangi ketua dusun (mandor). Hingga waktu shalat Jumat tiba, saya belum juga mendatangi Pak Mandor.

Kagetnya, selepas shalat Jumat dilaksanakan, Pak Mandor tiba-tiba mengumumkan sesuatu di masjid. Intinya, Pak Mandor meminta masyarakat setempat berkumpul di madrasah untuk mendengarkan pemaparan rencana kerja kelompok KKN. Jleb! Makjleb! Sekali lagi, jleb! Saya dag dig dug, gak keruan. Padahal, kelompok kami (termasuk saya sebagai ketua kelompok) belum mempersiapkan segala sesuatunya. Selain memaparkan rencana program, saya juga belum menyiapkan “kata-kata” untuk bicara dalam lokakarya tersebut.

Saya minta beberapa rekan untuk “mewakili” saya bicara depan warga. Tapi, semua enggan. Saya yang sudah diamanahi untuk jadi ketua kelompok terpaksa harus bertanggung jawab. Alhasil, digelarlah acara lokakarya dadakan di madrasah. Masyarakat (semuanya bapak-bapak) sudah berkumpul. Saya dan rekan satu kelompok bergegas merapikan diri dan make up-an barang sejenak.

Di hadapan warga, kami duduk dengan tenang, meski diliputi rasa waswas. Eh, gak tahu deng kalau teman-teman lain. Yang jelas, saya saat itu nervous tingkat Samudera Pasifik. Meski pasang senyum paling menawan seprovinsi Jawa Barat, saya berusaha menyeting otak untuk menyiapkan “kata-kata” yang tepat di hadapan warga.

Ya, yang jadi momok menyeramkan saat itu adalah “bahasa” yang ingin disampaikan, bukan isi pembicaraan yang berupa rencana program. Saya pikir, kalau sekadar berbicara dan memaparkan rencana program, itu bisa direka-reka atau dibicarakan secara mendadak. Tapi, saya terkendala bahasa untuk menyampaikannya.

Warga di sana menggunakan bahasa Sunda. Tapi, bahasa Sunda mereka (Bogor) berbeda dengan dialek bahasa Sunda saya (Cianjur). Bahasa Sundanya berkesan lebih kasar dibanding dialek Cianjur yang lembut. Tapi, bukan itu masalahnya. Mau dialek kasar atau lembut, sejujurnya saya tidak bisa berbahasa Sunda dalam situasi seperti itu. Ya, meski saya biasa bicara bahasa Sunda, tentu akan berbeda antara bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan bahasa yang digunakan dalam–misalnya–forum pertemuan seperti itu. Tidak seperti bahasa Indonesia, saya selalu siap bicara dalam kondisi dan situasi apa pun.

Daripada menggalau gak keruan di depan warga, saya buka saja pertemuan itu dengan salam dan mukadimah alakadarnya. Lalu, saya mulai bicara. Oke, lebih baik saya cari aman. Saya terpaksa pakai bahasa Indonesia! Mulailah saya bicara … Namun, belum sampai 5 menit saya bicara, ada seorang bapak (kalau gak salah ingat, bapak yang duduk di sebelah kanan bapak berbaju kuning) yang nyeletuk spontan. “Da urang mah urang Sunda, geus we ku Sunda atuh, Jang (Kita, kan, orang Sunda. Udahlah, bicara pake bahasa Sunda) …,” ujarnya tiba-tiba membuat saya, lagi-lagi, makjleb! Wajah dan tatapan si bapak itu tampak sinis dan dingin.

Lalu, saya–lagi-lagi terpaksa–bicara dalam bahasa Sunda. Meski terbata-bata, meski selalu berjeda, meski harus berpikir keras mencari pilihan kata yang tepat. Ya, boleh dibilang, MEMALUKAN. Orang Sunda tapi tidak bisa berbahasa Sunda dengan baik dalam komunikasi seperti itu. Jadi, sejak saat itu, saya dapat pelajaran penting bahwa saya harus belajar banyak tentang bahasa ibu saya sendiri. Saya juga harus banyak belajar untuk berbicara bahasa Sunda (public speaking) dan mempraktikkannya saat berkomunikasi dalam masyarakat umum.

Bagaimana dengan Sahabat semua. Sudahkah menguasai bahasa ibu masing-masing?

74 comments on “Makjleb!

  1. Falzart Plain
    12 April 2012

    Untung waktu saya KKN nggak ada tuntutan macam-macam dari warga…
    Hehehe… sebenarnya juga kalau saya disuruh berbahasa Makassar saya nggak tahu juga…😆

  2. kabutpikir
    10 April 2012

    waduh… ari ngobrol jeung sapantaran mah dek sakumaha kacaw na ge teu nanaon… tapi kan beda deui mun ka nu kolot mah. salah saeutik disebut teu nyopan… hehehe

  3. Emanuel Setio Dewo
    9 April 2012

    Hehehe… daku juga sudah luntur bahasa Jawa-nya.

  4. mygreatzone
    7 April 2012

    iya atuh aa’ pake bahasa sunda. hahahaha. bisanya cuma itu aja sih.😛

    • elfarizi
      7 April 2012

      kumaha atuh teteh teh hehehe😀

      • mygreatzone
        7 April 2012

        kula mboten saget basa sunda a’ hehehehe🙂

        • elfarizi
          7 April 2012

          Yo, we ojo nesu-nesu yooo <— taunya itu doank hahaha😆

          • mygreatzone
            7 April 2012

            hahahaha bahasanya sule tuh. bisanya itu doang😛

  5. harjo
    7 April 2012

    Kalau saya gk bisa bedakan mana bahasa sunda halus dan mana kasar. Jadinya, saya gk pernah pake bahasa sunda 🙂

  6. septiadiah
    7 April 2012

    duh, MAKJLEB juga buat saya😥
    saya asli jawa, tp belum bisa ngomong pake bahasa jawa, cuma ngerti doank. dr lahir sampe besar di aceh, tp sama jg nggak bisa bahasa aceh😦

    • elfarizi
      7 April 2012

      Jadi, amannya pake bahasa persatuan: Indonesia😀

  7. Mas Laloe
    4 April 2012

    Kren photonya, momen kebersamaan yang tentu sulit untuk dilupakan

  8. Ditter
    4 April 2012

    Saya orang Jawa, tapi nggak bisa ngomong pakai bahasa Jawa halus. Repot juga sih kalau menemui kondisi seperti yg sampeyan alami. Sereeeemmm… hehe….

    • elfarizi
      4 April 2012

      hehe … iya, Mas😀

    • ndutyke
      7 April 2012

      Iya sama. Ibu saya orang Jawa Tengah, tapi gak pernah mengajarkan saya berbahasa Jawa, apalagi yg alusan. Saya belajar ngomong bahasa Jawa ya yg kasaran Suroboyoan, hasil dr tinggal dan bergaul di Surabaya.

      Bapak saya keturunan Makassar yg lahir di Surabaya. Cuma bisa berbahasa Makassar yg pasif, tp gak bisa ngomong.

  9. Phie
    4 April 2012

    saya juga belum begitu bagus berbahasa ibu, bahasa Jawa. yang penting tetap berusaha untuk tetap memakai dan mempelajarinya.

    kalau orang Jawa bilang, “Aja nganti wong Jawa ilang jawane”
    = Jangan sampai orang Jawa kehilangan jawanya

  10. uyayan
    4 April 2012

    muhun sep ku basa sunda we da akang ge urang sunda hehe.
    (ceuk kuring bari nanggeuy gado)

    lain sep ari “Makjleb!” basa sunda lain ?? (nanya bari kerung)

    • elfarizi
      4 April 2012

      Makjelb teh basa Sunda kiwari, kang alias gaoool; haha😀

  11. Musik Sehat
    4 April 2012

    hoho sama ,saya juga tidak terlalu menguasai bahasa ibu saya

  12. sulunglahitani
    4 April 2012

    waa, sama kaya di Sumatra Barat. Kalau di pertemuan2 kaya gitu, msti diawali dengan petatah-petitih, juga pantun😀

    • elfarizi
      4 April 2012

      Itu dia, kalau di pertemuan itu ada “aturan” yang harus dipenuhi …

  13. grayrose
    4 April 2012

    pas baca intro,,kirain ceritanya horor wkwkwkkw

    • elfarizi
      4 April 2012

      haha … padahal isinya ngaco hehehe😀

  14. bensdoing
    4 April 2012

    sya walaupun ada darah sunda….tapi gag begitu menguasai bhs sunda…..lebih jago ama bhs betawi tempat dimana ane dilahirkan….😀

  15. Danni Moring
    4 April 2012

    justru yg jadi fokus gw itu nyari ada sesuatu apa yang katanya di pintu terbuka sebelah kanan itu el😉

    • elfarizi
      4 April 2012

      coba perhatikan baik-baik!!!
      pasti gak bakal ada apa-apa haha😀

  16. Tri
    4 April 2012

    Tri hanya bisa bahasa indonesia #Tertunduk malu😦

    Fotonya aman kog, gak ada yang aneh :-O

    • elfarizi
      4 April 2012

      Di sana bahasa Melayu kan? Yaaap, emang aman kok … gak ada apa-apa😀

  17. misstitisari
    4 April 2012

    ada apa sih EL di fotonya, udah tak pelototin sambil nungging, kayang, ngga nemu juga dimana anehnya
    teu tiasa nyarios sunda anu alus da abdi mah, nek boso jowo ope meneh😛
    orangtua saya orang Jawa, seharihari di rumah pasti ada bahasa Jawa, lahir dan besar di Bogor yang mana sekeliling orangorang Sunda, tapi teteplah bahasa paling aman bahasa Indonesia aja *nyerah*

    • elfarizi
      4 April 2012

      Haha … coba perhatikan baik-baik, insya Allah kagak liat apa-apa kok😀
      Ya, bahasa Indonesia bahasa persatuan😀

  18. Satusatuen
    4 April 2012

    persis kayak Dhe diatas. aku pelototin gambar, ga ada yang aneh kok. yang liat kale yang aneh. hehehehe

    • elfarizi
      4 April 2012

      Emang gak ada yang aneh kok, hehe😀

  19. Tebak ini siapa!
    4 April 2012

    Aku bisa dong Bahasa Jawa tapi buat percakapan seumur. Bahasa kasar.
    Jadi kalau sama nenek sama ibu pun juga pake bahasa kasar.
    Dari pada gak pake Bahasa Jawa, hihi~

    • elfarizi
      4 April 2012

      waaah … anak yang baik, ngomong kasar sama ibu ckckckck …

  20. Ilham
    4 April 2012

    maunya mas El datengin tuh bapak, trus tempelkan satu jari di bibirnya sambil pasang senyum2 romantis.. pasti tu bapak nggak protes lagi..

    • elfarizi
      4 April 2012

      Ngedipin mata sekalian ya … terus saling tatap 10 detik … Hoaaaa😐

  21. Gusti 'ajo' Ramli
    4 April 2012

    kadang saya miris, banyak orang tua zaman sekarang di daerah yang menggunakan bahasa indonesia dalam keseharian, bukannya bahasa ibu yang mereka gunakan. ..😦

    • elfarizi
      4 April 2012

      Di Padang juga tah? Kadang saya suka mikir, kalau di daerah yang bahasa ibunya Melayu gak begitu jadi masalah soalnya bahasa Melayu dan Indonesia, memang mirip …

  22. Dewa Putu A.M.
    4 April 2012

    haduwh,..bingung ouy,..
    mau blajar bhasa yg mana,.. ku org bali yang tingal dilampung tepatnya didaerah perantauan orang jawa ,…

    sekarang tinggal di daerah sunda,…

  23. jayireng
    4 April 2012

    klo mampir kesini suguhannye manteppisan euy

    seep lah🙂

    • elfarizi
      4 April 2012

      Eh, Afikaaaa ….
      Mantep apaan, Kang? Hahaha😀

  24. puchsukahujan
    3 April 2012

    masa-masa KKN memang tak terlupakan

    kulo riyin inggih nate dados MC wonten ing program KKN, mboten saget basa krama alus
    ngangge basa indonesia malah dipun dukani warga
    😀

    • elfarizi
      4 April 2012

      Sumuhun, kirang langkung sapertos kitu. Sim kuring oge sanes teu tiasa nyarios Sunda, mung teu tiasa upami kedah mayunan sepuh-sepuh mah. Komo deui, dina kempelan warga sapertos kitu😛

      Yap, masa KKN mah kagak pernah bisa dilupain, pokok’e😀

  25. zilko
    3 April 2012

    Hahaha, bahasa ibuku bahasa Indonesia😛

    Dan iya tuh, itulah mengapa aku juga sedikit-sedikit belajar bahasa Belanda disini, barang yang dasar-dasar aja (hidup disini tanpa kemampuan bahasa Belanda sama sekali nggak masalah loh, karena (hampir) semua orang jago-jago berbahasa Inggris, hehehe🙂 ). Tapi tetep lah ya, yg namanya hidup di suatu tempat, alangkah baiknya kalau dari kita juga ada usaha untuk setidaknya mempelajari bahasanya, walaupun dasar-dasarnya dulu, hehehe🙂

    Btw, memang di pintunya ada apa sih??

    • elfarizi
      3 April 2012

      Oh … jadi mereka juga mempelajari bahasa Inggris dari kecil dong ya? Baru tau🙂

      Di pintunya, gak ada yang aneh kok. Saya cuma liat daun, jadi lebih baik #abaikan haha😀

      • zilko
        4 April 2012

        Iya. Dan nggak hanya bahasa Inggris aja. Sepertinya sih mereka sadar bahwa Belanda itu negara kecil, sehingga bahasa Belanda relatif tidak terlalu banyak terpakai di dunia. Makanya mereka juga pada belajar, setidaknya, satu bahasa lain lagi (selain Inggris dan Belanda). Yang aku tahu sih biasanya mereka either ambil bahasa Jerman (karena ada kemiripannya gitu sama bahasa Belanda, jadi enak deh mereka, haha :D), atau bahasa Prancis, atau bahasa Spanyol, hehehe🙂 Tapi nggak semuanya juga sih, ada juga yang cuma dua bahasa doank. Dan ada juga (sedikit tapinya) yang cuma satu bahasa (bahasa Belanda doang), tapi yg ini biasanya yang udah tua-tua gitu deh, hahaha😛

  26. Eko Wardoyo
    3 April 2012

    kalau mamak saya orang cina harus kah saya belajar bahasa cina bang😥

    • elfarizi
      3 April 2012

      Ya, sekiranya bahasa itu penting dipelajari gak? Maksudnya, dipake komunikasi gak? Kalau saya, Sunda tentu wajib dipahami karena saya tinggal di lingkungan orang Sunda hehehe😀

      • Eko Wardoyo
        3 April 2012

        kumaha damang hahahaha🙂 – asal bukan bahas inggris lanjut yukk hehehehe

        kenapa ya bang saya kok susah makjleb banget belajar bahasa yang satu itu😥

        • elfarizi
          3 April 2012

          saya juga sama, lagi belajar …
          klasik sih sebetulnya —> niat dan usaha. Kalau niatnya mantap pengen bisa, pasti beragam cara dilakukan lho, Bang. Cari partner yang bisa dukung usaha itu. Minimal ada yang mau sharing ilmu atau teman buat praktik gitu😀

          Bisa, bisa😀

        • Eko Wardoyo
          4 April 2012

          wahahahahaa mau bayar tapi dompet ketinggalan bang hahahahaha :))

  27. eraha
    3 April 2012

    Bahasa ibu sudah dikalahkan oleh B@h4$a iBoE

    ane juga susah belajar bahasa jawa yang bertingkat,,apalagi bahasa kraton atau bahasa wayang,,,hufffff,,,

    • elfarizi
      3 April 2012

      Oh, ya … Jawa juga mengenal tingkatan, ya. Gak jauh beda sama Sunda. Itu dia “masalahnya”😀

  28. Dhenok Habibie
    3 April 2012

    emang ada apa di pintu eL?? udah dhe plototin kok gk ada apa2??

    • elfarizi
      3 April 2012

      masa sih?

      • Dhenok Habibie
        3 April 2012

        emang ada apa?? kok dhe penasaran yaa??

        • elfarizi
          3 April 2012

          Gak ada yang aneh, Dhe … saya sih cuma liat ada daun doank. Lagian, saya pikir lebih baik #abaikan deh hehe😀

          • Dhenok Habibie
            4 April 2012

            seriusan eL, emang ada apa sih?? kasih clue aja deh, biar ntar bisa lebih dhe plototin lagi

            • elfarizi
              4 April 2012

              Hehehe … seriusan, Dhe. Kalau masih minat, silakan pelototin lebih lama hingga terbawa pada halusinasi. Mungkin ada sesuatu. Tapi, sejauh ini emang kagak ada apa-apa😀

  29. Citra Taslim
    3 April 2012

    Saya sedang belajar n______n
    Dulu ga begitu fasih mengucapkan, tapi tau maknanya. Setelah tinggal di semarang jadi risih.masak belajar bahasa jawa bisa bahkan bisa mengucapkan, sedangkan bahasa Ibu tidak.

    • elfarizi
      3 April 2012

      emang bahasa ibunya apa? orang Sunda juga kan?🙂

      • Citra Taslim
        3 April 2012

        Hehehe
        hadewww,,, bukan riz.
        tapi asli sulawesi tenggara.
        campuran suku wawonii dan tolaki (suku asli sana).
        jadi lagi latihan berbicara dalam bahasa daerah kalo telponan sama Ibu di rumah.

        • elfarizi
          3 April 2012

          wah … orang Timur … uniknya, kalau di sana satu daerah biasanya terdiri dari banyak suku ya😀
          Pasti bahasanya ibunya juga banyak😀

          • Citra Taslim
            3 April 2012

            disana sukunya banyak banget riz. jadi dalam pergaulan sehari2 terbiasa pakai bahasa Indonesia.
            Soalnya beda suku, bahasanya beda banget.
            tapi itu yang jadi ciri khas orang sana.
            pelafalan bahasa daerah sangat mempengaruhi pelafalan bahasa indonesianya.
            jadi saat berbicara, kita bisa menebak dari suku mana orang itu.
            di kendari-sultra saja ada 6 suku besar, dengan bahasa daerah yang berbeda2.

            • elfarizi
              3 April 2012

              Waaah … saya makin tertarik kaji budaya sana😀
              Di kelas juga, ada teman dari Makassar. Banyak bicara budaya Sulsel sama Sulawesi pada umumnya.

              • Citra Taslim
                3 April 2012

                Membahas budaya, apapun bentuknya akan selalu menarik. Apalagi yang baru dalam dalam hidup kita.
                Kalau Makassar sudah sangat jauh lebih maju dari Kendari.
                Ibaratnya icon Indonesia Timur.
                Bahkan jauh lebih maju dari daerah Indonesia Timur yang lain.
                Menurutku yang lain masih jauh tertinggal.
                Sirik juga sama Jawa yang apa2 ada, mudah, terfasilitasi, lengkap, harga terjangkau.
                Tapi bentuk ke-sirkan itu jadi pemacu semangat juga. semoga bisa belajar kemajuan dan menyebarkan semangat kemajuan untuk teman2 disana.

                • elfarizi
                  3 April 2012

                  Ya, kurang lebih itu pendapat teman saya. Gak enak kalau saya yang sebut hehe😀

                  Yap, sepakat. Turut kasih semangat deh sama Mbak Citra, moga bisa bawa perbaikan (apapun bentuknya) untuk daerahnya. Yang saya kenal, ide-ide Mbak Citra kan selalu brilian hehe😀

                  • Citra Taslim
                    3 April 2012

                    hehehe… saya cukup realistis mengakui hal itu. #miris

                    Doain ya riz, semoga yang saya pikirkan tidak hanya berakhir menjadi ide semata tanpa pembuktian.
                    Apapun yang saya pikirakan tidak akan berhasil tanpa kerjasama yang baik dengan yang lain, berjalan sendiri untuk mencapai target besar tidak mudah.

                    • elfarizi
                      3 April 2012

                      Yap … itu juga tidak kalah penting. Berdoa agar diberi kekuatan dan dipertemukan dengan orang-orang yang satu misi dan visi, untuk berjuang🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 April 2012 by in Apr 3, bahasa, curhat, sosial and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: