ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Beranda 12 : Cowok Itu Harus …

Cerita Sebelumnya:

Beranda 1 [] Beranda 2 [] Beranda 3 [] Beranda 4 [] Beranda 5 [] Beranda 6 []

Beranda 7 [] Beranda 8 [] Beranda 9 [] Beranda 10 [] Beranda 11

***

Langit malam mulai terasa pekat. Di luar, hujan cukup deras. Ku sengaja membuka jendela kamar dan pintu agar segarnya air yang menimpa bumi dapat kurasakan. Toh, tak ada kamar lain di sebelahku. Di depan kamarku ada taman yang kecil tapi cukup indah, apalagi jika kupandangi di pagi hari. Gak ada ide yang lebih baik, kecuali merebahkan badan di kasur.

Aku menatap layar handphone. Kubuka inbox yang masuk. Ada 156 pesan yang belum kuhapus. Dan, cuma ada 3 nama di sana: Bila, Dendi, dan Pras! Tak ada lagi yang biasa kirim aku SMS. Mama papa kebanyakan nelepon. Teman-teman juga gak pernah SMS, walau sekadar menanyakan jadwal kuliah atau mengajak apapun. Betapa sepinya hari-hariku. Cuma ada celotehan Bila, kekonyolan Dendi, dan kekaleman Pras.

Aku membuang pandangan ke arah luar. Melihat rintik hujan yang mulai menipis. Sunyi, tak ada keramaian apapun di luar sana. Kuputar lagu-lagu yang biasa kuputar. Kini lagunya Rod Stewart, Have You Ever Seen the Rain, yang menemani malamku.

 Someone told me long ago
There’s a calm before the storm,

I know; It’s been comin’ for some time.
When it’s over, so they say,
It’ll rain a sunny day,
I know; Shinin’ down like water.

I want to know, have you ever seen the rain?
I want to know, have you ever seen the rain
Comin’ down on a sunny day?

Yesterday, and days before,
Sun is cold and rain is hard,
I know; Been that way for all my time.
‘Til forever, on it goes
Through the circle, fast and slow,
I know; It can’t stop, I wonder.
Yeah!

Tadi siang, Pras main ke kosanku. Aku banyak bercerita tentang Bila. Ya, tapi gak sampai aku bilang sama dia kalau Bila menyukainya. Awalnya, Pras hanya mendengarkan dengan saksama. Tapi, lama-lama dia makin antusias dengan ceritaku. Kita pun ngobrol banyak hal, meski pada akhirnya aku dibuat ilfil olehnya.

***

“Bila bilang, kamu sering ngobrol, ya, di Persma?” tanyaku membuka pembicaraan tadi siang.

“Lumayan, dia orangnya asyik,” jawabnya singkat.

“Dia juga bilang kalau kamu itu asyik. Udah cakep, cool, dan punya inner handsome yang kuat, hehehe,” godaku padanya.

“Hahaha, bisa aja kamu.”

“Kok, aku? Dia yang bilang gitu, bukan aku,” jawabku lekas.

Seperti biasa, Pras cuma tersenyum simpul.

“Ya, aku lihat dia juga cewek yang murah senyum, riang, supel, dan asyik diajak ngobrol,” tukasnya.

“Wah, jangan-jangan kamu suka sama dia, ya …,” tebakku sambil senyum.

“Haha, aku kira dia itu cewek kamu,” dia malah menjawab lain.

“Hehe, nggak lah. Dia temen deketku sejak aku pertama kuliah di sini,” jawabku.

“Tapi, biasanya kalo cowok sama cewek udah akrab dan biasa berteman lama, gak menutup kemungkinan …,” ucapnya langsung kupotong.

“Apaan? Jadi suka, cinta, terus pacaran? Nggak lah. Aku pikir berteman lebih baik dari pacaran,” kataku klasik.

“Hah, klise itu,” ujarnya.

“Tapi, kamu suka, gak, sama dia? Aku jamin, dia tuh cewek paling baik, kok, sekampus kita,” godaku lagi.

Pras hanya diam dengan senyumnya yang menyiratkan sejuta seratus tiga belas makna.

“Ad, kok, tiap aku ajak futsal, kamu gak pernah mau?” tanyanya mengalihkan pembicaraan dan sekaligus menohokku.

Episode ini yang paling aku gak suka. Rasanya pengen cepat ke season berikutnya.

“Ya, gak mau aja,” jawabku singkat berharap dia berhenti bertanya.

“Kamu gak suka futsal, ya?” tanyanya yang sangat gak penting, menurutku.

“Emang cowok harus suka futsal, ya?” aku balik bertanya agak nyolot.

“Harus, sih, nggak. Tapi, kebanyakannya, kan, begitu ….” ujarnya sambil senyum innocent.

“Terus kalau aku gak suka, kenapa? Aku bagian dari cowok yang sedikit, dong. Minoritas gitu?” tanyaku lagi.

“Jangan marahlah. Aku, kan, cuma nanya, hehehe,” katanya lagi. Kini senyumnya berubah jadi tawa kecil. Jujur, aku gak suka sama ketawanya yang tendensius itu. Aku jadi bete.

“Udahlah, aku, kan, bercanda. Masa cowok gitu aja harus marah?” tanyanya lagi semakin bikin aku bete.

“Emang cowok gak boleh, ya, sensitif? Gak boleh gampang marah? Gak boleh ngelakuin yang biasa cewek lakuin?” ocehku pada Pras. Pras kelihatan serius. Tampak mukanya menyiratkan rasa gak enak karena sudah menyinggungku.

“Gak, gak, kok …. Menurutku, kamu biasa aja,” tukasnya lagi.

“Maksudnya biasa?” tanyaku semakin heran.

“Ya, gak kayak cewek. Kamu biasa aja. Kan, ada tuh cowok yang gayanya itu rada-rada feminin ….”

“Ngondek maksud kamu? Apa cowok yang gak suka futsal, cowok sensitif itu kudu ngondek, kudu banci?” aku makin nyolot.

Jujur, bukan sekadar ucapan Pras yang buatku tersinggung. Tapi, aku jengah dengan situasi seperti ini. Ketika aku merasa dihakimi orang karena dinilai berbeda, dan itu hanya karena kesukaanku tidak sama dengan cowok kebanyakan. Apa maskulinitas itu hanya diukur dari suka bermain bola, suka merokok, suka berkelahi, suka jadi playboy? Tidakkah bisa pola pikir itu diubah bahwa sosok maskulin itu bertanggung jawab, bisa jujur pada diri sendiri dan orang lain, utamanya adalah siap memimpin dirinya dan keluarganya kelak.

Air muka Pras yang biasanya kalem semakin tersudut kikuk.

“Maaf, Ad. Aku gak bermaksud buat kamu tersinggung. Aku sebagai temanmu, cuma ingin tahu. Tak peduli kamu suka apa, tak peduli kamu hobi apa, yang jelas kamu tetap temanku,” kata Pras sedikit membuatku tenang.

Apa yang ia ucapkan bisa membuatku senyum seketika, meski kecut!

“Terus, apa yang buat kamu mau berteman denganku?” tanyaku lagi.

“Maaf, Ad. Tapi … cowok biasanya gak pernah bertanya sedetail itu,” ujarnya pelan tapi lagi-lagi menohok

Aku diam tak bergeming.

“Lagi-lagi cowok harus begini, cowok harus begitu …,” ujarku tak mau kulanjutkan. Selama kenal Pras, baru kali ini aku merasa bete dengannya.

“Baiklah. Aku berteman denganmu, karena kamu itu mau peduli. Ingat kejadian pertama kita bertemu. Sungguh waktu itu aku kehilangan segalanya. Rasa malu, harga diri, mau ditaruh di mana mukaku? Semua orang memandangku jijik. Sedangkan aku hanya orang baru yang tak kenal siapa pun di Bandung. Tapi, kamu datang dengan tulus membuatku lebih tenang waktu itu …,” cerita Pras panjang lebar. Mengingatkanku pada kejadian dulu, saat aku masih menjulukinya si Kelimis yang Cupu.

Aku jadi ingin tersenyum mengingat kejadian itu. Kupandangi wajahnya yang serba kikuk. Mukanya berubah jadi cemas, entah cemas untuk apa.

“Maaf, Pras. Akunya yang terlalu sensitif. Memang beginilah sikapku. Selalu memerhatikan yang detail yang sebetulnya tak pantas dipikirkan. Ya, aku memang begini …,” ujarku menghela napas.

Pras tersenyum.

“Jangan gitu, Ad. Aku lihat kamu jarang gabung dengan teman-temanmu. Pasti ada sesuatu yang kamu pikirkan. Aku siap, kok, kalau kamu mau sharing apapun denganku,” ujarnya menyemangatiku. Kata-katanya sungguh  menguatkanku. Yang lebih penting, semua ucapannya jadi cermin untukku, agar kubisa merenungkan lagi segala sifat dan sikapku yang bisa saja keliru.

😦

***

Dapat masukan dari Mbak Puch, biar Adya gak selalu terlihat “baik” dan lempeng-lempeng aja. Sulit banget membayangkan, gimana buat Adya biar lebih kelihatan “badung”-nya. Karena karakter Adya memang begitu: lempeng alias lurus, gak banyak tingkah, dan dalam pergaulan cenderung gak asyik, jadi ya … semoga sisi lain dari Adya ini bisa sedikit meruntuhkan kalau Adya itu gak sempurna, gak selalu terlihat “baik” (waswas Mode On)😀

17 comments on “Beranda 12 : Cowok Itu Harus …

  1. bastia22
    2 Juli 2012

    Ya iyalah.. Lagian Adya juga aneh sih, hal yang common buat cowok, ditanyai kayak gitu koq udah ilfeel? Justru dengan perasa and keenggakterimaannya Adya tu semakin membuktikan kalo Adya tu kurang ‘greng’ sbg cowok

  2. bastia22
    2 Juli 2012

    Ya iyalah wajar.. Adya tu aneh sih.. Hal yang common bwt cowok ditanyai kayak gitu koq ilfeel sih? Malah dengan perasa-nya Adya tu menunjukkan kalo dia kurang ‘greng’ sbg cowok

  3. Falzart Plain
    21 Maret 2012

    Hmmm… perbedaan budaya. Kalau saya jadi Pras, saya gak bakalan minta maaf karena udah nyinggung. Malah saya panas-panasi.😆
    Begitu juga kalau saya yang jadi Adya, saya akan nyolot terus sampai Pras tersudut dan merasa menang, terus ketawa…

    • elfarizi
      21 Maret 2012

      Ya, persis seperti apa yang saya dapatkan dari seorang teman Makassar. Kata mereka, sudah jadi adat orang Makassar, mereka bakal kukuh pada pendapat pribadi, yaaa …:D

  4. Ping-balik: OD di Pesantren « Catatan Elfarizi

  5. misstitisari
    20 Maret 2012

    lah si Pras juga kok usil amat sih, segala pengen tahu banget soal Adya

  6. Ping-balik: Beranda 13 : Tolongin Gue! « Catatan Elfarizi

  7. ilhammenulis
    18 Maret 2012

    over sensitif kalo sama sesama cowok, tapi gak peka pas sama cewek.. ya ampun lah si adya ini.. hahaha

    mana nih lanjutannya?😀

    • elfarizi
      18 Maret 2012

      Makasih udah dilumat, Bang … yaaap, saya lagi stuck. Ditunggu saja😀

  8. Idah Ceris
    17 Maret 2012

    sudah ku bilang jangan terlalau yakiin,
    mulut lelaki banyak juga tak jujur. . .wkwkwkw😛

    cowok itu harus. . .
    harus murah senyuum biar gak dikejar anjiiing. whahahahaaha

    • elfarizi
      17 Maret 2012

      ckckckck … belum beres juga ya nyanyinya
      *tutup kuping pake kapas* hehehe😀

      • Idah Ceris
        17 Maret 2012

        ahaha. . .

        gak mempan pake kapas, karena masih terdengan sayuh sayuup suaraku. . 😀

  9. yisha
    17 Maret 2012

    sukaaaa…….. nama ”adya” haha 😀

  10. puchsukahujan
    17 Maret 2012

    eh, ternyata si Adya bisa marah juga….
    semakin penasaran nih

    ada ya cowok macem gitu? hehehe…
    nunggu lanjutannya aja deh

    • elfarizi
      17 Maret 2012

      tapi marahnya juga tetep gak asyik haha😀

  11. Eko Wardoyo
    17 Maret 2012

    cowok itu harus jentell kalau suka bilang suka hahahaha

    hmmm aduhh ini kelemahan adya ya, atau malah kelebihannya <— pemikiran alternatif mbak una hehehehe

    kadang sensitifitas itu dikarenakan hal hal yang pernah ada dan berlaku di kehidupan kita, penasaran kenapa si adya begitu sensitif soal ini🙂

    baiklah ditunggu ditunggu ditunggu🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Maret 2012 by in muda and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: