ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Prokrastinator, Nikmatnya Menunda-nunda

Lâ tu’akhkhir `amalaka ilâ al-ghad mâ taqdiru an ta`malahu al-yauma

Don’t put off till tomorrow what you can do today

Dua pekan sudah bergelut dengan perkuliahan dan pekerjaan. Satu hal yang jadi momok selama dua pekan ini adalah capaian target dalam pekerjaan. Setelah khawatir karena tak bisa menyelesaikan pekerjaan di batas waktu (deadline), akhirnya selesai juga target itu. Lalu, mengapa saya sampai khawatir pekerjaan tidak selesai hingga batas waktu? Apakah karena aktivitas kuliah atau tugas yang mengganggu? Bukan. Bukan itu. Sebab utamanya adalah karena saya termasuk orang yang suka menunda pekerjaan. Bahasa kerennya (jiaaa, menunda pekerjaan pun disebut keren) yaitu prokrastinator.

Memang tidak bagus menjadi seorang prokrastinator. Selalu menyepelekan pekerjaan, baik pekerjaan yang sepele alias ringan hingga pekerjaan yang benar-benar menuntut keseriusan. Salah-salah, saya sering menghadapi banyak risiko jika tidak bisa memaksa diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditunda itu, mulai dari teguran, hilang honor, hingga hilang pekerjaan. Apakah saya takut dengan risiko itu? Ya, takut. Apa saya kapok menunda pekerjaan? Hmmm, harusnya, sih, begitu.

Kesalahan fatal seorang prokrastinator adalah kecenderungan berbohong kepada diri sendiri. Misalnya, saat menghadapi satu pekerjaan di pagi hari. Tak jarang saya bergumam, “Ah, nanti siang saja.” Setelah siang datang, lagi-lagi saya berujar dalam hati, “Nanti malam saja biar lebih tenang.” Lalu, saat malam menjelang, parahnya saya akan bilang, “Kayaknya lebih asyik kalau dikerjakan di sepertiga malam.” Sampai akhirnya, azan Shubuh berkumandang. Apakah itu hal baik? Tentu tidak.

Tak Peduli Deadline

Entahlah apa yang dirasakan orang lain yang juga suka menunda pekerjaan jika menghadapi deadline? Tapi, bagi saya deadline bukanlah tantangan besar. Ia adalah seorang teman, yang kadang bisa menyemangati tapi bisa jadi menjengkelkan karena sering membuat cemas dan tak jarang buat tertekan.

Setelah saya coba mencari informasi, sebuah tulisan cukup memecahkan kepenasaranan saya ihwal seorang prokrastinator. Info ini, saya dapat dari Tabloid Nova (tsaaa, bacaannya wanita karier, men …). Setelah saya “benturkan” dengan apa yang saya alami, setidaknya ada beberapa kesimpulan yang saya dapatkan.

  • Menunda pekerjaan bukan masalah kurang pengaturan waktu (time management) atau kurang perencanaan, melainkan masalah kurangnya pengaturan diri (self-management). Ya, sepakat dan sepaham. Pada keadaan tertentu, tidak jarang saya merencanakan apa yang akan saya lakukan. Namun, pada prosesnya tetap saja, ada semacam “kenikmatan” bila pekerjaan itu “diendapkan” terlebih dahulu sebelum dilumat.
  • Seorang prokrastinator kebanyakan adalah seorang yang perfeksionis. Yap, begitu pula dengan saya. Saya cenderung ingin melakukan sesuatu dengan “sempurna” meskipun kesempurnaan itu tidak akan tercapai. Jika hendak melakukan sesuatu, saya biasanya merasa jika ditunda terlebih dahulu, maka pekerjaan itu akan lebih sempurna hasilnya. Namun, pada akhirnya saya sendiri yang kelabakan jika harus bekerja di bawah-bawah bayang-bayang teguran dan risiko lainnya.
  • Seorang ayah (baca: keluarga) yang senang mengontrol akan menghasilkan anak-anak yang sulit mengembangkan diri sehingga anak tersebut suka menunda-nunda pekerjaan. Pada poin ini, saya tidak hendak menganggap bahwa kontrol keluarga adalah hal yang buruk. Namun, jika membandingkannya dengan apa yang saya alami, memang demikian adanya. Kebetulan orangtua saya senang mengontrol (dalam arti luas) anaknya, mulai dari pendidikan hingga pekerjaan. Namun, ini bukan berarti pengekangan atau protek yang berlebihan yang bersifat buruk.
  • Kurangnya skill  untuk membuat keputusan bisa menyebabkan orang suka menunda pekerjaan. Hmmm, prediksi yang semakin akurat! Saya pun cenderung sulit membuat keputusan. Bahkan, beberapa kali dititipi amanah untuk memimpin sesuatu, saya akan menghadapi banyak kesulitan jika harus membuat sebuah kebijakan. Tak jarang pula, saya “dikalahkan” kepentingan orang banyak, bahkan dimanfaatkan pihak-pihak yang licik.

Nah, itu dia kesimpulan dari informasi yang saya baca. Bisa jadi, keempat poin itu tidak sepenuhnya benar dan tidak sesuai bagi seorang prokrastinator yang lain. Namun, secara kebetulan keempatnya “cocok” dengan saya.

Harus Berubah

Walau bagaimana pun, sifat menunda pekerjaan bukanlah hal yang baik. Sudah sunatullah bahwa kesuksesan hanya diraih orang-orang yang gigih, semangat, dan pantang malas. Kesuksesan tentu tidak mengenal seorang prokrastinator. Oleh karena itu, solusinya adalah pengaturan diri yang lebih baik dan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya harus siap akan hal itu! Tidak terbayangkan sama sekali jika saya terus menjadi seorang prokrastinator hingga sampai saya nikah nanti. Bagaimana jika istri saya hamil akan segera melahirkan?

Pukul 6 Pagi

Istri      : Aa, perutku mulai kerasa mulas, nih. Ke dokter sekarang, yuk … Kayaknya aku mau segera ngelahirin …

Saya    : Iya, Sayang, sebentar. Nanti siang, deh, ya …

Pukul 12 Siang

Istri      : Aa, aku udah gak kuat, nih … Ke dokter, yuk …

Saya    : Ayo. Tapi, sebentar, ya … Agak sorean dikit …

Pukul 6 Sore

Istri      : Aa, ayo ke dokter …

Saya    : Iya, ayo … tapi sebentar lagi ya, agak malaman dikit …

Di kamar : Oaaa … Oaaa … Oaaa …

Saya     : ???

Wah, tentu saya tidak mau demikian. Jangankan pas nikah nanti, saat ini pun saya ingin bisa keluar dari jerat-jerat kenikmatan prokrastinator. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra`d [13]: 11). Jadi, kuncinya memang pada diri sendiri. Bagaimana dengan Sabahat, senangkah menunda pekerjaan?

55 comments on “Prokrastinator, Nikmatnya Menunda-nunda

  1. Ping-balik: Membaca Teman | ELFARIZI

  2. Ping-balik: Tiga Blogger Cantik Spesial « Catatan Elfarizi

  3. Ping-balik: Ternyata Saya Gak Normal « Catatan Elfarizi

  4. Ping-balik: Menghindarkan Kejutan « Catatan Elfarizi

  5. Ping-balik: Tiga B ( 3B ) untuk Sukses | ekoeriyanah

  6. Ping-balik: Terima Kasih Ultraman | ekoeriyanah

  7. Ncha
    12 Maret 2012

    thanks A…

    tapi kalo sya yg jadi istrinya mo naek angkot aja ke rumah sakit… heuheu….

  8. Phie
    12 Maret 2012

    (sedikit) menggelitik saya.. karena kadang sayang juga suka menunda. pfiuuh.. harus lebih berusaha mengontrol diri agar tetap pada rel supaya tenggat juga tidak terlanggar😥

  9. Abid Famasya
    11 Maret 2012

    🙂 contoh yang menarik. memang sulit kebiasaan menunda dihilangkan. saya juga setuju kalau menunda cenderung salah dalam self-management.

    salam kenal!

  10. hidupiniseperti
    11 Maret 2012

    Yap, being procrastinator is delicious though😀

  11. drieant
    11 Maret 2012

    wah artikel menarik, saya baru tau istilah prosiknator untuk orang yang sering menunda pekerjaan. makasih gan, ini waktunya berubah…. tenkyu

  12. drieant
    11 Maret 2012

    wah artikel menarik, saya baru tau istilah prosiknator untuk orang yang sering menunda pekerjaan. makasih gan, ini waktunya berubah….

  13. alinaun
    11 Maret 2012

    ini nih, bahaya. semoga bisa berubaah😀

  14. putrijeruk
    11 Maret 2012

    i am a good procrastinator :p

    aaaaa tapi parah bet suaminya kalo sampe begitu mah hihi

    • elfarizi
      11 Maret 2012

      Hahaha … jangan sampe deh saya kayak gitu😀

  15. rizalean
    10 Maret 2012

    wah, istilah yang baru kudengar. dan sepertinya, diriku pun terkadang *ehm, sering* menjadi prokastinator.

    ayo kita buat gerakan anti-prokastinator. dimulai dari yang kecil. dimulai dari diri kita. dimulai dari sekarang.🙂

  16. puchsukahujan
    10 Maret 2012

    waduh…waduh…kasihan istrinya Bang😆

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Kok gak kasihan sama saya? *sirik*😀

  17. Marczumi Rumambay
    10 Maret 2012

    ane jg trmsk nih, ska nunda2 prkjaan. tp moga kbiasaan ni g lama brcokol di diri ane…🙂

  18. Falzart Plain
    10 Maret 2012

    Tunda saja terus, itu namanya hobi…
    Dari: orang yang hobi telat…

    Sibuk banget nih, Bang… Sampai jadi procastinator…😆

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Bukan karena sibuk, Kawan … karena saat ini masih gagal mengatur diri. Tapi, seenggaknya kalau mandi belum saya tunda-tunda, kok …😆

      • Falzart Plain
        10 Maret 2012

        tuh, mulai lagi nih… Mau bahas procastinator, atau mau bahas postingan saya?
        Sekedar info ya… saya gak bau meski gak mandi selama lima hari…

        • elfarizi
          10 Maret 2012

          Yayayaya, Bang MFR. I am really really really sorry😀
          Kalau saya sih pas enggak mandi ……… (stop, case closed!)

          Semoga lekas saya keluar dari jerat kebiasaan yang menurut saya buruk ini. Bagaimana dengan dirimu, Brader? Nyaman dengan keprokastinatoranmu atau ada upaya untuk mengubah?

        • Falzart Plain
          10 Maret 2012

          I amn’t MFR like you think. That’s not my initial.

          Procastinate itu hobi yang merajalela. Kalau saya sih InsyaAllah sudah terbiasa dengan hobi ini. Saya hampir selalu bisa hentikan ini ketika saya ingin, karena ini ‘hobi’…😆
          Eh, semoga bisa mengendalikan ke-procastinator-anmu Bang ya… Itu hal yang parah kalau sudah di dunia kerja. Kalau saya sih, masih mahasiswa telat, jadi gak apa-apa…

          • elfarizi
            10 Maret 2012

            ya ya ya … however dah😀 <— makin xenoglossofilia, ah …

            Hmmm, iya Zart. Gak bisa dibiarkan kalau di dunia kerja. Bahaya kuadrat😐

        • Falzart Plain
          10 Maret 2012

          Tadi si Hitam marah sama saya, dia suruh saya minta maaf karena dia merasa komentar saya sebelumnya terlalu ‘sombong’… Jadi,…maaf yak!😦

          Terus, soal procastinator-procastinator-an itu kalau menurut saya penanganan simple-nya adalah jangan terlalu banyak mengagendakan sesuatu dalam satu hari. Rencanakan yang penting-penting saja. Saya pribadi merasa dengan begitu saya lebih mudah membujuk sisi diri saya yang ‘malas’ itu… Karena membujuk itu perlu waktu, dan memaksa juga perlu waktu, tergantung metode mana yang dipilih. Kalau saya pakai metode membujuk diri sendiri, bukan dibujuk oleh orang lain, dan juga bukan dipaksa oleh diri sendiri maupun orang lain….

  19. giewahyudi
    10 Maret 2012

    Menunda sih enggak apa-apa, tapi kalau sudah hobi menunda-nunda itu bisa membahayakan umat.🙂

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Itu dia, Mas … menunda-nunda kan berarti pengulangan alias kebiasaan hehe😀
      Memang bahaya😀

  20. stupid monkey
    10 Maret 2012

    anak yg baru lahir : “owa ..owa …, ayah kejam … teganya teganya ..owa ..owa ..”
    ahay, betul sob, menunda2 itu pekerjaan sia-sia, eitt .. tergantung juga sih, wew :p

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Gak semuanya sia-sia, kok, Bang Mon … Kalau suami istri yang baru punya anak, kan, lebih baik menunda-nunda dulu buat punya anak selanjutnya … Hahaha😀

  21. Satusatuen
    10 Maret 2012

    Point 3 gimana tuh El? soalnya aku kan udah “ayah” nih. tapi kalau di sambung sama point 4, kayaknya benang merah ada pada “bagaimana mengajarkan anak menentukan jalan keluar atau menuntunnya mencari jalan keluar dari sebuah masalah”
    Gitu mungkin ya El..

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Itu sekadar teori yang saya dapat dari literatur yang dapat dipercaya lho, Mas (tabloid Nova) … kebetulan setelah “dibenturkan” dengan kehidupan nyata, ada benarnya juga.

      Kalau memang poin 3 diyakini bisa membuat seorang menjadi prokastinator … mungkin ayah tidak perlu mengontrol segala keputusan anak dan biarkan anak belajar mencari dan membuat keputusan sendiri.

      Mungkin begitu ya … soalnya saya belum jadi ayah, hehehe😀

      • Satusatuen
        10 Maret 2012

        iya. Mungkin begitu. kalau kebiasaan di rumah dulu (sebelum nikah). Anak selalu diajak mencari jalan keluar setiap masalah. memang engga setiap masalah, palagi masalah penting yang hanya ortu yang tahu, tapi cukup masalah ringan saja.
        Tapi ketika sudah jadi ayah (meski baru 2 tahun), baca artikelmu jadi nyadar trus mikir gini “so..apa yang harus dilakuin nih?” gitu..

        • elfarizi
          10 Maret 2012

          Ckckckc … bapak yang bijak😀
          Jadi pengen cepat ngerasain hahaha <— malah curcol😀

  22. Ely Meyer
    10 Maret 2012

    kalau soal bersepeda aku nggak pernah menunda nunda nih El, soalnya dah kecanduan *nggak nyambung komennya ya *😛

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Hehehe … sambungin aja Mbak El … kata kuncinya kan “menunda-nunda” … kalau makan sate juga, saya gak mau nunda-nunda, Mbak hehe😀

  23. bensdoing
    10 Maret 2012

    “prokastinator”….mmg msh menjadi “musuh dalam selimut” buat sya El😀

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Wah kaya tumila donk, ya? hehe😀
      Harus dienyahkan segera tuh Bang Bens😀

  24. Ilham
    10 Maret 2012

    memang biasanya ada aja alasan buat mengalihkan perhatian dari pekerjaan. tapi makin ditunda justru makin bikin gelisah. fokus itu memang penting.

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Itu dia, gan … Prokastinator sering terlena untuk hal-hal “sepele” yang lebih dia gemari ketimbang “kewajiban” … salah satu hal sepele itu … blogging hahaha😆

      • Ilham
        10 Maret 2012

        weits tapi menurut saya blogging itu wajar membuat orang sering mengorbankan hal2 lain.😎 asal mesti mengatur porsi yang tepat buat tugas dan pekerjaan lainnya.😉

        • elfarizi
          10 Maret 2012

          Itulah dia … bari orang yang pengaturan dirinya baik, apapun bisa jadi kegiatan yang wajar. Tapi bagi saya sendiri, blogging itu melenakan. Tapi saya suka! Hahaha😆

          Buktinya, saya dari pagi diminta ngerjain kerjaan punya bapak. Sampe sekarang sore, kerjaannya masih nganggur, malah asyik Bewe hahaha <— mohon tidak ditiru😀

  25. Rio
    10 Maret 2012

    Elfarizi,, saya juga menderita penyakit itu, bahkan telah sekian lama. Saya sekarang mulai tidak suka dan ingin bebas darinya, tapi saya akui sangat sulit melakukanya.. Entar kalau kamu udah menemukan solusi terbaiknya di share ya hehe,,,,,,,,

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Hehe … saya juga sulit dari jerat itu, Bang. Cuma untungnya, saya “belum” dapat kerugian yang bisa bikin kapok, seperti teguran atau risiko buruk lainnya. Semoga, sih, gak sampe segitunya.

      Intinya, sugesti diri sendiri agar selalu lepas dari sifat ini, Bang🙂

      Semoga saya bisa😀

  26. Eko Wardoyo
    10 Maret 2012

    SEPERTINYA SAYA TERMASUK NICH😦

    prokastinator sama gak ya dengan malas bang fariz /(^.^”)?????

    sepertinya kita memiliki kesamaan nich dalam hal ini heo heo heo <— inget sesuatu hehehehe

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      Jangan ikut-ikutan saya Bang Eko, kasihan loooh … bentar lagi kan Bang Eko mau nikah, jangan jadi prokastinator heuheuheu <— geje😀

      • Eko Wardoyo
        10 Maret 2012

        that’s happend to me bang el😦 – i don’t know why <— belajar hahahaha

        S E M A N G A T

  27. misstitisari
    10 Maret 2012

    tapi ya, terkadang kalau belum mepet deadline, idenya ngga muncul, ngerjainnya kayak yang ngga fokus kurang serius, hasilnya jadi biasabiasa aja. beda kalau ngerjainnya mepet deadline, pasti hasilnya malah lebih bagus *curcol orang yg suka nundanunda kerjaan*

    • elfarizi
      10 Maret 2012

      hahaha … nyolongnya dalam keadaan sadar kan?😀
      Kalau saya, kebetulan pekerjaan tidak menuntut “ide” loh, jadi sebetulanya bisa langsung dikerjakan. Ya, cuma itu dia … menunda itu memang nikmat🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Maret 2012 by in curhat, Mar 3, muda and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: