ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Lais, Ingin Kembali ke Sana

Lais, sebuah daerah kecil di sepanjang pesisir barat Sumatra. Hanya berjarak 50 KM dari Kota Bengkulu. Tidak ada yang ditawarkan di sana, kecuali nikmatnya memandang matahari tenggelam di kala senja. Juga pasir putih sepanjang bibir pantai Samudera Hindia. Pantai yang indah dan masih terasa alami, tak banyak terkotori ulah manusia. Bukan hanya pemandangannya yang menakjubkan, Lais pun mengajari banyak hal, terutama ketegaran dan kesabaran!

Lais, 2008

Lais, 2008

Akhirnya saya bisa menikmati liburan semester. Dahsyatnya, saya bisa meluncur ke luar Pulau Jawa, pulau yang tak seberapa besar tapi cukup berat oleh manusia. Ya, saya akan mengunjungi Bengkulu bersama seorang sahabat. Dari Bandung, waktu tempuh 30 jam via darat. Melewati tanah Banten, menyebrangi Selat Sunda, bersafari di hutan Bukit Barisan, dengan disuguhi pemandangan pantai Lampung Barat yang memesona.

Lais adalah salah satu tujuan liburan saya kali itu. Saya menginap di rumah salah seorang kawan. Rumahnya berada di bibir pantai Barat Sumatra, menghadap langsung gagahnya Samudera Hindia. Sambutan keluarga yang ramah dan hangat, meski harus direpotkan dengan bahasa Rejang yang sama sekali tak saya mengerti. Bahkan, abah teman saya (kini telah almarhum), banyak mengajak kami ngobrol dan berkelakar. Bahkan, abah sempat dibuat kaget melihat saya! Bukan karena melihat ketampanan urang Sunda asli, tapi abah sempat geleng-geleng kepala melihat saya sama sekali tak menyukai olahan berbahan ikan! Parahnya, hidangan sambutan untuk saya bermacam-macam aneka masakan dan semua berbahan dasar IKAN!

Namun, saya banyak belajar dari abah, keluarganya, dan semua orang Lais. Lais baru saja bangkit dari keterpurukan. Setahun sebelumnya, September dan Oktober 2007, gempa meluluhlantakkan Bengkulu, termasuk Lais. Lais adalah pusat gempa kala itu. Banyak rumah retak-retak, roboh, bahkan rata dengan tanah. Sampai saat itu, ketika saya menginap, rumah abah masih retak-retak. DI dindingnya banyak retakan dan patahan. “Tinggal menunggu waktunya saja,” ujar abah sambil senyum. Padahal, cukup buat saya waswas kala itu. Takut, kalau saya pulang ke Bandung hanya membawa nama dan selembar KTP.

Adrenalin kembali berpacu malam itu. Saya tak bisa tidur karena deburan ombak yang terlalu ganas, seperti suara genderewo yang biasa diceritain nenek waktu kecil. Hanya ada jarak 100 meter ke bibir pantai, tapi seolah-olah ombak berada di depan jendela kamar yang siap menarik saya ke lautan lepas. Selang beberapa detik …tempat tidur bergoyang, saya lihat lampu bohlam kuning yang menggantung tepat di atas kepala bergoyang-goyang. Pigura duduk di atas meja kamar lalu jatuh. Ini gempa!

Saya heboh sendiri, langsung berteriak memanggil teman saya dan abah. Langsung berlari ke luar kamar, hendak menyelamatkan diri ke luar rumah. Apalagi saya ingat, rumah abah hanya “menunggu waktu”. Kalau tidak sigap, bisa jadi badan mungil saya tergencat asbes seketika. Saat saya berhasil membuka pintu kamar, ternyata abah sekeluarga sedang ngobrol asyik-asyik di ruang tamu. Pas saya keluar, mereka malah menatap saya dengan tawa. Saat bumi masih bergoyang, abah malah terlihat santai-santai saja.

“Loh, ada gempa, Bah,” ujar saya masih panik.

“Yang itu belum seberapa. Tenang saja,” kata abah cuek sambil memamerkan giginya.

Padahal saya yakin, itu bukan “gempa biasa”. Saya masih menatap satu-satu wajah di sana: abah, emak, dan kedua teman saya.

“Orang di sini sudah sering tertipu dengan apa yang mereka lakukan. Dengan gempa barusan, paling cuma ada satu rumah yang ambruk. Tenang saja, kalau memang tsunami itu datang, toh, di belakang ada kebun sawit yang lumayan tinggi,” lanjut abah semakin membuat degup jantung ngosngosan.

Ke mana ... Ke mana ... Ke mana ... (sumber: http://www.antaranews.com)

Bandung, 2012

Ya, kini saya ingin kembali ke sana. Bertemu dengan orang-orang yang kuat dan sabar. Ingin melihat, apakah rumah mereka kembali dibangun. Ingin kembali melihat emak mengolah aneka ragam masakan dari ikan: ada yang dibalado, disemur, digoreng, ditumis, disayur. Ya, hanya ingin melihat tanpa mau mencicipi. Yang saya ingin cicipi hanya bibir pantai Lais yang menggoda. Dengan seruputan degan dan segenggam pelajaran🙂

P.S. Menggalau gak jelas sambil ikut ramein GA-nya Mbak Una😀

Photobucket

60 comments on “Lais, Ingin Kembali ke Sana

  1. Ping-balik: Tentang Ikan « Catatan Elfarizi

  2. Falzart Plain
    12 Februari 2012

    Lais itu nama tempat rupanya…
    Awalnya saya kira itu nama snack yang ada iklannya di TV, yang nikmat tak tertahankan itu…
    Kenapa nggak suka ikan? Jadi sukanya apa? (saya bertanya bukan untuk niat menjamu)

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      salah besar … itu nama biskuit yang di tengahnya ada krim strawberry-nya … Lais O’lai😛

      saya gak suka karena kami tidak begitu dekat …😎

      • Falzart Plain
        13 Februari 2012

        Lais O’lai? Bukannya itu Slai O’lai? Hehehe…
        Jadi, dibutuhkan pendekatan secara persuasif kepada sang ikan agar kalian berdua saling menyukai, begitu?
        *Waduh, perasaan komentar saya di sini hampir ngaco semua.

        • elfarizi
          13 Februari 2012

          Salah ,,, yang bener Oreo😯
          Eit … jangan salah “tempat”-nya kalau merasa ada gejala ngengacoan yaaa😛

  3. Ely Meyer
    12 Februari 2012

    atau kali mulai rajin makan ikan setelah punya istri🙂

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      hehehe … amin lagi deh🙂
      mudah-mudaha begitu🙂

  4. Ely Meyer
    12 Februari 2012

    atau kamu itu tipe org yg suka trauma El kayak aku ? aku dulu itu ya wkt msh SD , krn ortuku menyembelih kerbau buat khitanan abangku, dan aku lihat itu kerbau menangis sebelum digorok dan kulihat pemandangan horror daging2 kerbau bergelantungan di rumah, sejak saat itu aku nggak bisa makan daging merah lagi, jadi ya makannya sering cuma tahu tempe melulu sampai aku dewasa

    tapi memang nggak bisa dipaksa kok El, santai saja, entar kalau sudah waktunya makan ikan juga akan makan sendiri kayak aku, tapi ceritaku aku mulai makan ikan sejak nikah jadi faktor suamiku juga kali ya, dan faktor tahu bahwa ikan itu bergizi tinggi

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      kalau pas ayam, dulu sempat trauma, tapi ikan sih … belum pernah sama sekali, kecuali ikan teri yang kecil sama ikan tongkol yang udah dikasih bumbu (hahaha, ribet yaaa😀 )

      ya, moga segera dapat hidayah deh, kali aja aku tertarik makan ikan bakar atau sop ikan hehe😀

  5. Ely Meyer
    12 Februari 2012

    padahal banyak ikan itu enak sekali El , aku baru menyadarinya setelah menikah dan tinggal di sini, apalagi ikan salmon wuiiiiiiiiiiii … lezat sekali, agak nyesal juga sih knp dulu aku menghindari makan ikan, padahal di tanah air itu banyak jenis ikan dan terjangkau harganya, jadi kalau ke tanah air itu menu ku kebanyakan ya ikan, tahu dan tempe

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      mungkin saya perlu semacam terapi … hehehe🙂
      Percaya atau tidak, dengan ayam pun saya baru bersahabat tahun 2011, sebelum itu, gak pernah sedikit pun nyentuh ayam heheh😀

      Ya, insya Allah deh, mungkin harus cari cara untuk bersahabat dengan ikan hehehe😆

  6. Ely Meyer
    12 Februari 2012

    dulu aku juga nggak suka segala hidangan berbahan ikan El, alasannya takut badanku gatal gatal, padahal mungkin hanya karena satu atau dua jenis ikan saja, sekarang setelah tinggal disini jadi suka nyantap ikan, dan tahu persis, ikan mana yg nggak boleh kumakan krn akan timbul gatal gatal

    memang kamu nggak suka menu ikan alasannya apa ?

    btw, itu si abah orgnya optimis banget ya

    sukses buat kontesnya

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      entah, Mbak El … mungkin karena saya gak biasa dikasih ikan aja hehehe😀
      tapi paling udang dan cumi, baru saya makan …
      Itulah abah, entah bentuk kesabaran atau kepasrahan, tapi demikian sikap abah dan semua orang di sana lho … saya juga tanya tetangga, hampir sama jawabannya …

  7. SITI FATIMAH AHMAD
    12 Februari 2012

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Elfarizi…

    hehehe… saya sampai menahan nafas membaca detik-detik cemas yang dirasai oleh Elfarizi sedangkan abah dan keluarganya tenang-tenang aja.

    Iyalah… kerana itu bukan kebiasaan kita yang mendatang sebagai tetamu berbanding penduduk asalnya yang sudah kelelahan dengan acara alami ini, pasti cemasnya alang kepalang.

    Semoga bisa kembali ke sana semula dan gagahi diri untuk mencicipi ikannya. Ternyata kita serupa ya, saya juga ngak suka makan ikan lho.😀

    Salam sukses untuk ikutan kontesnya. Tulisan yang menarik dan saya senang mengikuti aliran kenangannya.

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      Aalikum salam🙂

      Ya, karena pada dasarnya saya tinggal di daerah yang sangat jarang ada gempa. Sedangkan, mereka sudah sangat terbiasa dengan gempa, mulai yang kecil hingga yang dahsyat.

      Wah, kita sama, ya .. jadi kalau saya berkunjung ke Serawak, saya bisa makan hidangan lain hehehe😆

  8. dedekusn
    12 Februari 2012

    Ketenangan yg patut ditiru. SUasana ketenangan, keheningan, keindahan memang selalu ngangenin.
    Salam Sob!

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      betul sekali, gaan🙂
      salam juga …

  9. Racoonmaccon
    12 Februari 2012

    ngeri juga ya udah ada gempa tapi masih bisa setenang itu.

    kalo gue sakit perut ntar gimana ya ceritanya ?
    temen gue : yo, kok pup’nya di tahan sih ?
    gue : Yang itu belum seberapa. Tenang aja

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      saking udah biasanya gempa di sono itu, gan …
      wiii, kok dimisalinnya sama pup😆

  10. Goiq
    11 Februari 2012

    jadi belajar makan ikan yaaah… wkwkwkwkw

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      gak belajar kok … saya gak mau😀

  11. puchsukahujan
    11 Februari 2012

    tadinya, kupikir Lais itu nama tokoh novel gitu
    eh…ternyata nama tempat di Andalas

    sukses dah ikut kontesnya!
    btw, itu sendalku jangan dibawa ke pantai dong..
    cpet rusak ntar kena air garam😆

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      Haha … kalau mau, sih, bisa-bisa saja …
      coba Mbak Puch yang bikin novelnyaaa😀

      maaf ya, Mbak … saya juga gak mau pake sendal pink begitu …
      menurunkan sedikit maskulinitas 0.75 mg😦

  12. ardiansyahpangodarwis
    11 Februari 2012

    wah keren nyar ajak-ajak ya

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      oke oke oke … ntar saya ajak, asal MM saja ongkosnya hahaha😆

  13. zilko
    11 Februari 2012

    Hebat ya mereka, menjadi “kuat” dengan gempa itu🙂 Cuma sayangnya, sepertinya pemerintah gitu kok seperti kurang memperhatikan gitu ya? Kalau rumah abah retak-retak gitu, berarti ada kemungkinan bangunan-bangunan lain di sekitar sana juga dalam kondisi yang sama kan? Hmmm…

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      Lupa saya ceritakan … rumah abah yang “cuma” retak-retak itu gak seberapa. Waktu itu, sepanjang jalan utama … di pinggirnya itu rumah-rumah yang seolah punya pahatan masing-masing. Bahkan saya juga lihat rumah yang rata sama tanah, penghuni malah nebeng ke tetangganya …

  14. Ahmad Alkadri
    11 Februari 2012

    Rumah sudah menunggu waktu, namun kalau gempanya cuma segitu… tetap santai, masih kuat ya? Hebat… :O
    Tapi kebayang lah, saya juga pasti akan panik banget kalau gempa gitu, apalagi pigura sampai jatuh. Udah kaya’ di film-film Barat.:mrgreen:

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      Itulah yang saya salut dari warga sana. Soalnya yang bersikap seperti itu bukan cuma keluarga abah. Tapi, banyak tetangga pun berpendapat kurang lebih sama …

  15. imsfly
    11 Februari 2012

    kepengen kesana yah… hah

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      hayo, mas … segera kunjungi😀

  16. mygreatzone
    11 Februari 2012

    ikan? hmmmm enak banget tuh😛

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      tidaaaak!!!😀

      • mygreatzone
        11 Februari 2012

        tidak mau klo cuma sedikit yak. huuuuuu ternyata. sangat mengidolakan ikan diam2. terus terang aja terang terus. hahahhaha jadi iklan lampu😛

        • elfarizi
          11 Februari 2012

          udah … udah, ya … jangan paksa terus,
          takut keluar lagi neeeh😆

  17. stupid monkey
    11 Februari 2012

    dari ceritanya menggiurkan sekali sob, hmm … penasaran😀

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      penasaran sama apanya nih? hehe😀
      ayo, kunjungi segera😀

  18. Chita
    11 Februari 2012

    Wow, salut dengan keluarga kawan yang ada di Bengkulu, masih bisa berpikir positif. Kalo aku mungkin udah milih untuk pindah rumah aja. Ngeri sekali rasanya tiap beberapa hari sekali merasakan gempa.🙂
    Aku juga salut niy, dengan perjalanan darat 30 jam! Belum pernah deh perjalanan selama itu, apalagi perjalanan darat. It must be really challenging!

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      Itulah … aku juga salut dengan ketegaran (entah kepasarahan) mereka …
      yap, 30 jam itu sangat sangat menakjubkan!
      harus duduk di bis ber-AC dan melwati hutan Bukit Barisan yang rawan begal😀

  19. Eko Wardoyo
    11 Februari 2012

    aduhhhh pengalaman menarik lagi untuk disimak, *hmmm orang sana tegar dan hebat ya, kalau saya pasti kalang kabut gak jelas🙂 – /(^.^”)

    kenapa si nenek ceritain gondoruwo bang T.T…. pasti saya gak mau kesono (takut), tapi pengen jalan jalan – kalau perjalanannya saja sudah disuguhi pemandangan dan pengalaman yang luar biasa apa lagi tepat tujuannya, mudah mudahan saya juga bisa kesana bang fariz (amin)

    Suksess untuk kontesnya ya, *kali ini untuk kamu kamu kamu bukan dia dia dia =))

    jiayooooo d(^.^”)

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      Ya, mungkin suatu saat bisa ada Kopdar sekaligus backpacker-an deh ke luar Jawa, seru kayaknya😀

      wah harus dicoba deh, jangan takut … namanya musibah kan ada di mana aja hehe. Pokoknya, bakalan dibikin puas dah sama keindahan alamnya …

      makasih, Bang … Eko Eko Eko (niruin Dia-nya Afghan …)😆

  20. Rio
    11 Februari 2012

    Waduh saya sendiri yg orang sumatra juga gk tau tuh tempatnya,,
    habis gk tukang jalan2 sih, duitnya gk nyampek untuk jalan2 hehehe,,,,,,,

    • Eko Wardoyo
      11 Februari 2012

      yah bang rio – kalo saya suka boongin waktu kecil, mau diajak jalan jalan sama bapak

      ehhh gak taunya cuma muter ke jalan raya balik lagi kerumah jalan kaki, katanya ” ini kan yang namanya jalan jalan ” /(^.^”) hadouhhhh udah ngarep.dot.com padahal

      jadi jalan jalan gak perlu duit lah *hehehehehehe

      Tetep Semangattttt – d(^.^”)

      • Rio
        11 Februari 2012

        kalo sekedar jalan sih emang selalunya,, nih jalan-jalan makan anging kata orang malaysia yg maksutnya rekreasi gitu ke tempat2 jauh hehe,,

        • elfarizi
          11 Februari 2012

          Saya emang hobi berpusing-pusing alias jalan-jalan Bang Rio🙂
          Bukan berarti banyak duit juga, itu aja nekad cuma bawa bekel satu balikan doank. Alhamdulillah, pas mau balik Bandung, ada dermawan yang mau ongkosin … mungkin daripada akunya menuhin Bengkulu hahaha😆

          • Rio
            11 Februari 2012

            hahaha,, bisa aja kamu,,,,, ezie, (bolehya biar gampang manggilnya xixi,,)

        • elfarizi
          11 Februari 2012

          Apapun lah, Bang … yang penting enak dan bersahaja.
          Catatan: asal jangan dipanggil Tingting aja deh😆

  21. uyayan
    11 Februari 2012

    ngebayangin paniknya gan elfa hehe saat lari dari kamar ada yang ke tabrak ga gan ???

    trus gambar di atas apa hubunganya gan…??

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      panik tingkat Zeus, gan … nabrak nggak, tapi dulu sempet kayak orang mabok …
      niatnya sih upload fotonya Una yang ngadain GA “mau ke mana …”, kok malah kebayang Ayu Tingting … mungkin ada kesamaaan “ke mana … ke mana .. ke mana …” #TarikMang😆

      • uyayan
        11 Februari 2012

        haha untung baru kaya orang mabok jadi belum mabok hehe…

        kamana atuh hehe…..

  22. Mabruri Sirampog
    11 Februari 2012

    Lais?? baru denger nama itu,,,
    jawa aja blum seluruhnya disambangi mas, apalagi yang luar jawa… hheheh

    sukses deh ngontesnya

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      Tempat terpecil di Barat Sumatra … harus dicoba, dong, Mas😀

  23. Tebak ini siapa!
    11 Februari 2012

    Wkwkwkw serem amat.
    Eh itu apa tuh ada narsisnya segala @_@
    Ketampanan orang sunda asli😛

    Sudah kucatat ^^

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      haha … mengobati diri sendiri gak apa-apa tah?😆
      makasih Una😀

  24. bensdoing
    11 Februari 2012

    ane belum pernah nyampe sana….padahal belahan jiwa orang sumatra…
    kalo melihat samudera luas membentang spt itu….serasa kita kecil sekali ya….!
    #ucapSubhanalaah

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      harus dikunjungi, eksotis tempatnya, bang😀

  25. Muhammad Zakii Al-Aziz
    11 Februari 2012

    Pengen atuh kesana Za😀

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      hayo atuh, Zak … bekpekeran ke sono … ajib pokokna😀

  26. misstitisari
    11 Februari 2012

    eh beneran nggak suka ikan kang fariz? ikan kan enaaaakkk
    hahaha itu degdegan banget yahh, tapi yg punya rumah masih santaisantai aja..enteng bgt lagi, kalo tsunami suruh naik ke pohon sawit gitu maksudnya??😀

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      Yap … belum dikasih suka tuh😀
      yaaa, itu … entah kepasrahan atau memang bentuk kesabarannya seperti itu …
      adrenalin pokoknya😀

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Februari 2012 by in curhat, Feb 3 and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: