ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Mencintaimu pada Kunci C

Selalu kusesali kepergianmu/ Selalu kuterpuruk dalam resah/ Mengingat rasa sayang yang kauberi/ Mengingat besarnya cintamu untukku// Kau yang pernah di hatiku/ Tak pernah ada niatku menyakiti dirimu kasihku/ Kuakhiri semua/ Karena ku tak ingin membuatmu kecewa padaku// Bukan ku tak sayang/ Bukan ku tak cinta/ Semua kulakukan padamu/ Karena terpaksa//

Hanya beberapa bait lirik saja, tapi lagu yang sengaja kuciptakan untuk mengenangmu selalu jadi sajian pembuka saat kubermain-main dengan gitar klasikku. Aku memang tak pandai bermain gitar apalagi punya skill yang mumpuni, namun setidaknya ia teman terbaikku saat suka maupun duka (ceileh!). Aku juga tak pandai menggubah syair, tak pandai meramu lirik dengan musikalitas tingkat tinggi, namun setidaknya kusuka bermain-main kata dan kupadukan dengan kunci C. Hingga akhirnya menjadi sebuah lagu dengan lirik picisan.

Menciptakan lagu, setidaknya kulakukan sejak SMA dulu. Pertama kali kubuat sebuah lagu berjudul “Bila”. Dengan bermodalkan kertas binder warna biru muda, aku meramu puisiku yang selalu tercecer di bawah ranjang. Hanya bermodalkan kunci C, aku bisa mengungkapkan apa yang tak bisa kuungkapkan di depan gadis yang kusuka. Aku tak suka membaca puisi, mendeklamasikannya depan khalayak, karena aku tak bisa berekspresi–meskipun datar–untuk menjiwai sebuah puisi. Namun, dengan sebuah lagu, aku benar-benar puas berekspresi. Pendengar pertama adalah sahabat dekatku saat itu dan beberapa teman.

Bila benderang hari ini berganti/ Dan gulita bergegas merajai malam/ Bila semua pikirku telah membeku/ Karena hangat yang telah sirna/ Maka cintaku padamu mulai merasuki jiwa/ Mengitari relung kalbuku terasa hampa// Bila ada suatu yang kutanyakan/ Kenapa saat masa berganti/ Kau selalu membayangi/ Bila ada sesumbar yang kukatakan/ Aku inginkan cinta ini/ Kurasakan sepanjang hari/ Bila ada kau di hadapanku kini/ Ketahuilah ini malam-malamku yang selalu jadi diary//

Itu sebagian lirik lagu perdana yang kubuat. Ceritanya, ada bocah SMA yang lagi galau (dulu belum populer istilah galau, palingan juga disebut resah dan gelisah kayak Marshanda). Setiap hari, dia cenat-cenut tiap melihat seorang gadis berjilbab panjang yang selalu lewat di depan kelasnya. Lidahnya kelu tiap dia dipanggil olehnya. Halaaah, SM*SH abis pokokknya hehehe. Tapi, sayang si bocah sulit sekali untuk mengungkapkan apa yang selama ini mengganggu hidupnya, merasuki mimpinya, berlalu lalang dalam pikirannya, dan berputar-putar dalam benaknya.

Si bocah boleh berbangga karena ujung-ujungnya juga bisa menambatkan hatinya di gadis berjilbab panjang itu yang tidak lain teman SD-nya yang sudah terpisah selama 3 tahun hahaha. Garila. Tapi, sayang, prahara dalam batinnya tidak dapat dibendung hingga akhirnya si bocah itu memutuskan ikatan yang selama ini dibangun bersama gadis itu atas fondasi cinta (monyet). Meski tanpa masalah besar, tanpa pertikaian, tanpa sebab-musabab yang jelas, dia memutuskan begitu saja. Hingga akhirnya dia menyesal, dalam lubuk hatinya masih sangat sayang pada gadis itu. Hingga akhirnya, kuciptakan lagu berikut.

Tersenyumlah untuk yang terakhir kalinya/ Dan itulah senyum terindahmu bagiku/ Kan kusimpan senyum itu dalam hati/ Dan tak kan pernah hilang// Lambaikan tanganmu sebelum engkau pergi/ Jangan teteskan air matamu di depanku/ Karena ini memang sudah seharusnya terjadi/ Cintaku, engkau pergi// Berikan yang terindah darimu/ Sebelum engkau tinggalkan diriku/ Kuharap kau temukan yang terbaik/ Dalam hidupmu/ Setelah kau palingkan wajahmu/ Jangan kau tatap lagi mataku/ Karena ‘kan menoreh luka di hati/ Yang t’lah lalu//

Waah, makin sore makin terasa galau haha. Yang jelas, aku suka meciptakan lagu, meski tidak sebagus ciptaan musisi papan jati, meski tidak dengan musikalitas yang tinggi dan berkualitas. Tapi, aku suka. Dengan menciptakan lagu, rasanya jiwa lebih tentram dan gairah untuk melanjutkan hidup lebih besar. Meski tidak semua lagu, kuciptakan hanya karena penggalauan cinta semata. Saat dapat hidayah dan merasa ada semacam titik balik spiritual, secara tak sengaja kadang ingin menciptakan lagu-lagu yang lebih reflektif (maaf bahasa tingkat tinggi), yang lebih bersifat perenungan, dan pencarian jati diri.

Mohon maaf, kalau dalam edisi ini, lebaynya sangat kentara. Tulisan dalam blog ini semata-mata hanya untuk menyemarakkan Ramadhan 1432 H dan dalam rangka ngabuburit digital. Happy fasting all!

9 comments on “Mencintaimu pada Kunci C

  1. Danni Moring
    3 Juli 2012

    hahahahahah galau :D…
    upload dong di youtube lagunya😀

    • elfarizi
      3 Juli 2012

      Kagak bisa maen gitarnya, Bang hahaha😆
      Itu kan galaunya zaman dulu😛

      • Danni Moring
        3 Juli 2012

        wakakkaka..boong banget lah itu postingannya😆
        ayo yo diuploadyooo😀

        • elfarizi
          3 Juli 2012

          ya, kan gue udah bilang, sama sekali gak punya skill, cuma bisa genjreng-genjreng doank. mungkin situ yang musti gitarin haha😆

        • Danni Moring
          3 Juli 2012

          kyknya gw pernah denger tuh yang lagu BILA…..😆 #sokTahu

          • elfarizi
            3 Juli 2012

            waaah, dimana tuh dengernya??? emang kita pernah tetanggaan gitu? haha😀

  2. Asop
    2 Februari 2012

    Kunci C?
    Yang bener akord C.😀😀

    • elfarizi
      2 Februari 2012

      yappp, kang asop … tapi sengaja pakai istilah kunci buat menunjukkan keawaman saya di musik dan nunjukin orang awam musik pun boleh-boleh saja menciptakan lagu hehe😀

  3. JAHAR
    25 Desember 2011

    gue suka kreativitas lu di nada “Bukan kutak cinta, bukan kutak sayang”….

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Agustus 2011 by in curhat, musik and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: