ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Ups, Kuhamil Duluan!

Awalnya aku cium-ciuman. Akhirnya aku peluk-pelukan. Tak sadar aku dirayu setan. Tak sadar aku, ku kebablasan. Kuhamil duluan sudah tiga bulan. Gara-gara pacaran tidurnya berduaan. Kuhamil duluan sudah tiga bulan. Gara-gara suka gelap-gelapan.

Stop! Jangan diteruskan. Itu cuma rangkaian lirik lagu dangdut yang saya dengar tadi pagi di salah satu radio swasta Bandung. Musiknya asyik, dangdut remix yang bisa bikin kaki menghentak, kepala angguk-angguk, bahkan kalo makin dinikmati bisa goyang pinggul kiri-kanan sambil ngibas-ngibasin tangan. Hoooah, musik yang melenakan. Bukan cuma musiknya, tapi liriknya sama sekali gak bernilai bahkan cenderung kotor dan really disgusting.

Lagu ini memang lagi booming-booming-nya setelah keong yang udah gak beracun. Siapa lagi yang bikin heboh kalau bukan duo Shinta dan Jojo (Shinjo). Dua cewek manis, imut, dan legit ini lagi-lagi menyalurkan hobi lipsinc-nya dan menguanggah lagu ini ke Youtube dengan gaya centilnya yang khas. Pokok’e bikin gereget. Gereget pengen apa? Ya, terserah yang baca dan yang lihat…

Tapi, dengerin lagu ini bukan cuma ingat Duo Shinjo. Saya juga teringat dengan telepon ibu saya di kampung, malam kemarin. Ibu menginformasikan update kabar hilangnya seorang gadis di kampung saya. Hilang? Bukan hilang, tapi kabur alias minggat.Terus apa hubungannya sama Shinjo? Gak ada sih. Tapi, yang menghebohkan, gadis tersebut ditemukan dalam keadaan ‘hamil duluan’ 5 bulan. Jadi, begini ceritanya ….

Gadis tersebut (sebut saja Bunga) meninggalkan rumahnya dua minggu lalu. Gadis manis berperawakan sedang itu lulusan SMP. Dia pernah sekolah di SMK, namun berhenti di tengah jalan. Kebetulan dia juga mengaji di rumah saya dan diajar oleh ibu saya. Nah loh! Dengan kata lain, dia masih santri ibu saya. Ckckck, really outrageous!

Banyak desas-desus warga yang melihat ciri fisik Bunga sebelum kepergiannya: lebih chubby dan agak gemuk. Tapi, semua diredam hingga akhirnya Bunga dijemput paksa Tim Panitia Khusus (Pansus) penjemputannya yang terdiri dari bapak saya, bapaknya Bunga, dan beberapa teman Bunga. Alhasil, Bunga berhasil ditemukan dengan suatu pengakuan yang mengagetkan: kuhamil duluan, sudah lima bulan, gara-gara suka gelap-gelapan (tolong dinyanyikan sama persis lagu Dangdut di atas).

Mengagetkan? Hmmm, setidaknya itu yang saya rasakan. Namun sebenarnya kabar tersebut bukanlah hal yang mengagetkan di kampung saya. Itu pula yang membuat saya dan keluarga miris, berhubung keluarga kami pun masih baru (baru beberapa tahun, maksudnya) tinggal di kampung itu. Kenapa tidak mengagetkan? Karena dalam kurun satu tahun ini saja, bapak saya sudah menikahkan banyak pasangan yang ‘hamil duluan’. Ouh, benar-benar lahan dakwah yang basah ….

Balik lagi ke lagu dangdut di atas. Saat ini, sebetulnya banyak sekali lagu yang sudah mulai terkotori dengan lirik-lirik yang kurang bermanfaat. Seolah-olah pembuat lagu hanya memikirkan lagunya enak didengar, musiknya easy-listening, liriknya ringan, dan gampang dihafal. Mungkin ini sangat subjektif, sekadar penilaian saya penikmat musik-musik Indonesia. Saya tidak menampik bahwa saya juga suka beberapa lagu dangdut, apalagi kalau bisa menghibur di kala galau dan gundah gulana (waduuuh). Tapi, sangat disayangkan banyak sekali lagu, terutama lagu dangdut yang kosong dan hampa, tidak ada yang bisa diambil dari adanya lagu tersebut kecuali musik menghentak, menghilangkan penat, dan bikin otak melanglang buana.

Maka tidak heran, banyak kasus-kasus seperti di kampung saya itu. Tidak bisa dipungkiri, lirik-lirik menjurus pada aktivitas negatif (umumnya perzinaan) akan sangat memengaruhi mental dan jiwa pendengar. Minimal, aktivitas-aktivitas yang digambarkan seolah-olah sudah sangat lumrah dan jauh dari kesan tabu. Parahnya, lagu-lagu seperti itu dengan sangat mudah dinikmati di pagi hari dari radio maupun televisi lokal. Bayangkan, bagaimana jika yang mendengarnya anak kecil?

Coba simak lirik beberapa lagu dangdut di bawah, ini saya dengar dari sebuah stasiun radio swasta di Bandung pagi hari sambil makan nasi kuning dan gorengan.

Setiap malam di pinggir pantai mobil bergoyang/ Tidak di pantai  tidak di hotel orang bercinta/ Setiap malam di bawah lampu yang remang-remang/ Ada patroli tapi tak peduli yang penting happy/ Ada yang genit, ada yang centil, ada yang nakal/ Dan ada pula kaum wanita penjaja wanita/ Cari yang enak tak perlu mahal di hotel-hotel/ Biar di pantai setiap mobil nikmat bercinta/ Yang penting senang bergoyang-goyang/ Di setiap mobil digoyang-goyang/ Dipeluk cium merangsang-merangsang/ Biarkan orang, ah tegang/ Asalkan senang bukan kepalang/ Duh, aduh sayang terasa melayang// (Mobil Digoyang, Lia MJ dan Asep Rumpi).

Hmm, apa kira-kira pesan moral dalam lirik tersebut? Ada? Silakan ambil sendiri.

3 comments on “Ups, Kuhamil Duluan!

  1. Danni Moring
    3 Juli 2012

    hahahahhaa…
    parahhh isi liriknya..

    • elfarizi
      3 Juli 2012

      hahaha … bikin khayalan tingkat tinggi, Bang😆

      • Danni Moring
        3 Juli 2012

        kagak..malah gw baca liriknya aneh😀..

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Juli 2011 by in gaya hidup, musik, sosial and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: