ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Disiram Gara-gara Lupa Bilang Punten

Ya, Allah betapa sombongnya aku! Selama ini, aku selalu merasa diri ini ramah, selalu senyum meski pada orang yang tidak dikenal, selalu menjaga agar terhindar dari sombong, judes, jutek, dan berusaha menjaga sopan santun. Tapi, kejadian kemarin cukup membuatku jadi benar-benar tertegun. Gara-gara lupa bilang “punten”, kakiku disiram air. Huh! Kesal sih, tapi hmm… anyway, pelakunya juga orangtua, sudahlah, maafkan dan lupakan!

Ya, sore itu, saya hendak pergi ke tempat teman. Seperti biasa, rute yang ditempuh: Jalan Manisi-Dokter Rosimi-Sekre PMII-Lapangan tenis-Tribun UIN yang penuh misteri-Kampus-Permai-dan tujuan akhir. Tapi, kejadian yang tidak menyenangkan itu terjadi saat saya masih menempuh jalur sekre PMII. Tepat di depan sekre PMII Kabupaten Bandung, seorang bapak tua sedang menyiram bunga di depan halaman rumahnya.

Entah apa yang terjadi, antara disengaja dan tidak, saya melewati bapak itu dengan perasaan biasa saja. Saya anggap bapak tua itu tidak terlalu dekat di bibir jalan dan saya pun dalam kondisi yang tidak terlalu awas. Jalan pun sambil agak-agak melamun (kayak banyak pikiran). Burrrrr! Entah disengaja atau tidak, bibir penyiram bunga menyemburkan air tepat di atas kaki saya. Selain sandal, tentu kaki dan celana jeans juga ikut basah dan kotor terkena cipratan debu jalan. Hoaaah! Bete tingkat dewa saat itu juga.

Sudahlah saya cuek dan gak banyak komen. Meski hati gondok dan meletup-letup, pengen gigit tuh siram bunga. Saya berheti sejenak sambil membersihkan ujung jeans yang saya pakai. Tiba-tiba si bapak tua nyeletuk, “Cik atuh ari lempang teh tong siga hayam. Kepret sia ku aing.” (Artinya: Makanya kalo jalan, jangan kayak ayam. Ditabok, tau rasa!”) Drrr! Wah perasaan makin gak menentu. Itu bapak emang sakit darah tinggi, gila hormat, atau emang lagi banyak masalah keluarga! Sudahlah, saya berlalu tanpa kata-kata.

Saya sebenarnya menerima kesalahan saya yang lalai mengucapkan kalimat mantra urang Sunda, yaitu punten. Ternyata punten bisa jadi pemicu masalah, pemicu konflik, untungnya tidak terjadi antarras atau suku. Coba kalau yang lewat bukan saya, tapi orang di luar daerah Sunda. Wah, bisa berabe! Bukankah di Bandung banyak sekali pendatang dari luar daerah. Apalagi saat ini, isu-isu penduduk asli dan pendatang lagi menghangat di kota Bandung.

Ah, sudahlah. Hikmahnya memang saya harus banyak hati-hati, terutama dalam bersopan santun di masyarakat. Hatur nuhun, ah, Pak!

2 comments on “Disiram Gara-gara Lupa Bilang Punten

  1. Danni Moring
    27 Juli 2012

    ehhehe kalau orang luar mungkin bilang “permisi pak”…๐Ÿ˜€, pas lewat bapak itu kali ya๐Ÿ˜€

  2. iiz
    23 Juli 2011

    the power of “punten”๐Ÿ˜€

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Juli 2011 by in bahasa, curhat, sosial and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: