ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Diperlakukan Anak Kecil oleh Orangtua, Solusinya?

Seorang kawan, sebut saja Ari, mengadu, katanya sebagai anak laki-laki dewasa ia selalu merasa anak kecil di mata kedua orangtuanya. Bukan karena dia masih suka netek atau karena dia masih ngerengek-rengek minta jajan, apalagi karena dia masih bobo sama mama papanya, jelas bukan. Tapi, ia sangat bingung menghadapi orangtuanya yang selalu bersikap seolah-olah dia masih anak kecil, baik dari perkataan maupun perlakuan.

Sejak kecil, Ari memang merasa orangtuanya overprotektif. Sebagai anak laki-laki bungsu dan satu-satunya dari dua bersaudara, dia merasa gak sebebas teman-teman sebayanya. Dari kecil, Ari terbiasa mengikuti semua peraturan di rumah: gak boleh main sepulang sekolah, gak boleh nonton TV terlalu malam, jadwal belajar, teman main, sampai pilihan jurusan di SMA dan ketika masuk kuliah, mama papanya turut andil di dalamnya. Sampai kini setelah ia lulus kuliah, perasaan terlalu “diperhatiin” itu masih ada.

Setelah lulus kuliah, Ari ingin sekali membantu temannya yang punya usaha. Ia ingin sekali turut membesarkan usaha temannya, apalagi ia tertarik untuk mengikuti langkah temannya. Karena pilihannya itu, ia memilih tinggal di Bandung, tempat ia menuntut ilmu. Bukan di Bogor, tempat tinggal asalnya. Namun, hampir setiap hari ia selalu ditelepon mamanya, dari sekadara menanyakan kabar sampai diminta terus untuk pulang ke rumah. Orangtuanya gak mau Ari bekerja “gak jelas” dan selalu meminta Ari bekerja di perusahaan tertentu atau yang dalam pemahaman orangtuanya pekerjaan yang “jelas”.

Ari yang biasa penurut di keluarganya sangat sulit bersikap. Ia sangat hormat dan sayang pada kedua orangtuanya. Ia jarang melawan atau bermasalah dengan kedua orangtuanya. Lambat laun ia selalu memberi pengertian, terutama pada mamanya. Namun, besok lusa, selalu saja “teror” itu muncul. Hingga Ari mencoba melamar ke sana sini meski kurang nyaman dan berkesan “setengah hati”.

Sebenarnya, Ari punya program sendiri, sebagaimana orangtuanya memintanya merencanakan masa depan dengan “jelas”. Ia ingin bekerja lepas dan bebas seperti yang selama ini ia lakukan. Meski belum menuai hasil yang memuaskan secara materi, ia optimis suatu saat ia akan berhasil. Toh, saat berhasil ia berniat melanjutkan studinya dan bekerja sesuai cita-citanya, yaitu dosen.

Tapi, program itu ternyata tak sabar dinantikan kedua orangtuanya. Mama papanya nampak ingin Ari dengan instan menjadi orang sukses bergelimang harta, selayaknya harapan semua orangtua. Dilematis. Satu sisi ia memahami sikap orangtuanya yang sangat menyayanginya. Namun, satu sisi ia sangat “terbebani” dengan kecemasan orangtuanya. Ia hanya ingin orangtuanya lebih memberinya kebebasan dalam menentukan sikap. Karena bagaimana pun saran dan arahan orangtua, tentu ia yang menjalani hidup.

***

Hmm, sejenak saya berpikir. Sebegitu rumitnya kah masalah hidup sahabat yang satu ini? Apakah demikian “sayangnya” orangtua hingga malah ia nampak kagok untuk melangkah. Saya pikir,sayang orangtuanya justru gak sampai dan malah menimbulkan ketidaknyamanan. Siapa yang salah sebenarnya?

Hal ini terjadi mungkin karena beberapa hal. Pertama, karena Ari anak laki-laki satu-satunya dan bungsu pula. Ternyata stereotipe anak bungsu yang selalu dianakmamahkan itu masih berlaku. Kedua, mungkin orangtua masih menganggap anak adalah aset yang dimilikinya sehingga mereka lah yang berhak atas segala sesuatu yang dilakukan anaknya, meski ia bukan lagi usia kanak-kanak dan remaja yang masih mungkin diarahkan secara paksa. Ketiga, mungkin orangtua dari orangtua kita (nenek kakek) menerapkan pola yang sama dulunya. Keempat, justru sebaliknya dari yang ketiga. Bisa jadi nenek kakek kita sama sekali cuek dan gak memperlakukan kedua orangtua kita dengan “sempurna” sehingga ada keinginan keduanya untuk tidak meniru dan “membalasnya” dengan sangat menyayangi anaknya secara berlebihan.

Namun demikian, bagaimana pun mereka lah orangtua kita. Ibu yang melahirkan dan ayah yang ikut merawat dan membesarkan. Jasa mereka tak terhitung. Menghormati mereka adalah kewajiban mutlak. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS Al-Isra [17]: 23).

Maka, dalam menyikapi masalah seperti Ari, yang terbaik adalah memberikan pengertian sesering, sejelas, dan sehangat mungkin sambil berdoa dan berharap moga orangtua semakin bijaksana dan memahami keinginan anak. Bagaimana pun, orangtua adalah fase terakhir dalam keluarga, setelah mengalami masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa dan menjadi orangtua. Artinya, setelah orangtua tak ada fase lain. Sebaliknya dengan kita, anak muda, yang akan mengalami fase orangtua di masa yang akan datang.

Percayalah, berbuat sebaik mungkin pada orangtua akan berbuah kebaikan pula saat kita menjadi orangtua kelak. Masalah seperti Ari hanya jadi satu pelajaran agar kita tidak menirunya kelak. Bukankah anak yang baik yang selalu mendoakan orangtua adalah bekal kita di akhirat kelak? Semoga.

2 comments on “Diperlakukan Anak Kecil oleh Orangtua, Solusinya?

  1. Anonym
    16 Juli 2011

    Cerita sahabat ato pribadi nih,,hihi,,,
    yup,mdh2n jadi plajaran bwt Qt ktika mnjadi org tua kelak..

    • elfarizi
      17 Juli 2011

      hehehe… Ya, Na. Semoga jadi pelajaran bagi kita semua🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 April 2011 by in curhat, keluarga and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: