ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Demokrasi (yang Belum Tepat di Negeri Ini)

Demokrasi di Indonesia hanya membuat kebrutalan. Rakyat belum terdidik dengan baik. Pendidikan yang belum menerapkan sistem tepat guna belum mampu membuat seluruh rakyat ini cerdas dan melek “demokrasi”. Kondisi ekonomi carut marut, dan imbasnya rakyat miskin masih ditemui di segala penjuru negeri.Mereka hanya tahu satu: kebutuhan yang sulit terpenuhi.

Agama, sebagai jalan hidup manusia belum mampu menjawab tantangan zaman yang dihadapi negeri ini. Entah apa yang salah, seolah-olah agama hanya sebatas identitas pudar makna. Sebagian pemukanya berkutat dengan kepentingan—untuk tidak mengatakan kebanyakan. Individualitas masih kentara, konflik antaragama masih menjamur, ekstrimisme dan fanatisme buta masih subur.

Apalagi masalah politik, begitu runyam dan sulit diurai dengan logika. Rakyat banyak tidak mengerti politik, namun hampir semua—terutama rakyat miskin—hanya jadi objek penderita dari para pelaku politik. Mungkin, karena kemiskinannya, mereka sulit memalingkan wajah meski ternyata mereka sedang dicekoki bualan-bualan dan “pembunuhan” pelan-pelan.

Huh, sulit rasanya hidup di negeri ini dengan label: demokrasi. Kebebasan jadi kunci utama meski rakyat ternyata belum siap. Bak anak yang dipasung bertahun-tahun hingga akhirnya dilepas dan membabi buta karena kebebasannya. Rakyat gampang marah, mudah tersulut emosi, senang brutalisme, senang merusak.

Apalagi, kebebasan ini hanya biang keladi korupsi, ladang gembur para elite yang senang mengeruk uang rakyat—termasuk di dalamnya yatim piatu. Bebas ya bebas. Mereka juga bebas berkehendak: hukum bisa dibeli kok! Makin kaya, makin licin bila dibelit hukum. Banyak mulut disumpal uang.

Uang uang uang, ya uang. Makhluk ini tak mendengar, tapi ia bicara. Uang jadi raja di negeri demokrasi ini. Dengan uang, orang di negeri ini bisa jadi bupati, bisa spa dan karaoke di penjara, bisa jadi pegawai negeri (mulai dari 10 juta hingga ratusan juta), bisa lolos dari razia, bisa menggerakan massa, bisa meruntuhkan kebenaran, bisa membalikkan fakta.

Sedang yang tak punya uang cuma bisa mengemis, mengelus dada, dihina, diinjak, mendapat perlakuan sinis dari pelayan publik, hanya dapat cercaan di layanan publik, hanya bisa merampok hal-hal kecil—atas nama perut, hanya bisa bermain peran—yang sutradaranya para borjuis, hanya bisa mengeryitkan dahi melihat orang lulus jadi pegawai negeri, hanya harus unggul dalam otak—kalau bodoh makin dibodoh-bodohi. Huh, semua hanya bermula dari satu hal, demokrasi (yang belum tepat di negeri ini).

3 comments on “Demokrasi (yang Belum Tepat di Negeri Ini)

  1. fifit
    10 Februari 2011

    Bagi saya, bukan agama yang belum bisa menjawab tantangan jaman. Justru, karena meninggalkan agamalah negeri ini seperti sekarang.

    Keep Writing!

    • elfarizi
      11 Februari 2011

      Ya, maksud hati mempertanyakan kerja para pemuka agama. Belakangan mereka malah sibuk ngurusin politik dan pemerintah.

  2. Cecep
    10 Februari 2011

    Demokrasi gagal, ya Indonesia!

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Februari 2011 by in politik, sosial and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: