ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Tak Ada Tahun Baru Bagi Samsudin

Malam ini (31/12), beberapa anak muda tengah asyik membicarakan rencana untuk malam pergantian tahun. Sebagian mengusulkan, malam tahun baru dinikmati sambil melihat pesta kembang api di Dago atau Gasibu. Ada pula yang menyarankan, cukup menggelar acara bakar ayam di kos-kosan mereka. Meski berbeda pendapat, obrolan penuh canda tawa itu semakin hangat ditemani cemilan khas Bandung, yaitu aneka macam gorengan.

Gorengan merupakan cemilan wajib pengisi obrolan malam hari di kosan yang hanya dihuni laki-laki tersebut. Setiap petang hingga malam sekitar pukul 20.00 WIB, Samsudin (28) rutin nongkrong depan kos-kosan di Jalan Giri Mukti Barat Bandung. Masyarakat termasuk para mahasiswa yang tinggal sekitar jalan tersebut sudah tahu, waktu itu adalah jadwal Samsudin mangkal di tempat mereka, menjajakan aneka macam gorengan.

Iseng-iseng salah seorang mahasiswa menggoda Samsudin, menanyakan kemana ia akan pergi di tahun baru. “Ya, urang mah dagang we ,” jawab lelaki asal Indramayu ini datar. Begitulah gaya Samsudin bila sedang berkomunikasi dengan pembelinya yang juga mahasiswa. Akrab dan hangat.

Menurut lelaki yang sudah sepuluh tahun berjualan gorengan ini, baginya setiap tahun adalah sama. Ia hanya tahu usaha, usaha, dan usaha. “Saya mah , yang penting bisa makan dan menghidupi keluarga,” ujarnya dengan Bahasa Sunda berlogat Jawa. Ia tak peduli dengan orang yang mau melewati malam pergantian tahun dengan macam-macam acara. Ia hanya akan tetap berdagang tanpa ada acara khusus.

Yang spesial di tahun baru ini, anaknya yang kini kelas dua SD tengah berlibur bersamanya. “Pengen lihat Bandung,” katanya. Lebih lanjut duda satu anak ini menuturkan, pergantian tahun baru baginya selalu sama. Baginya, yang baru hanya angka, namun kesulitan hidup yang ia rasakan selalu sama bahkan semakin meningkat. Misalnya, saat ini harga kebutuhan pokok yang kian melambung tinggi.

Salah satunya adalah harga cabai rawit yang kini menembus harga Rp 60.000,- perkilogram. Hal itu membuat Samsudin risau, mengingat cabai rawit adalah “teman setia” gorengan. Meski banyak pelanggan yang selalu meminta, namun dengan terpaksa Samsudin tak memenuhi keinginan pelanggannya. Ia tak sanggup menyediakan cabai rawit saat ini. “Masa harus saya jual seratus perak perbiji,” katanya tersenyum getir.

Samsudin juga menceritakan panjangnya kehidupan yang ia jalani dengan menanggung gerobak gorengan. Bak orang terlanjur cinta, sepuluh tahun ia menekuni pekerjaannya tanpa kenal bosan dan lelah. Ia mengaku sudah berjualan hingga merambah tanah Sumatra, seperti Palembang dan Muara Enim. Pegangan hidupnya adalah ketekunan dan pantang malas. “Kalau malas usaha, saya yakin kita gak bisa makan,” imbuhnya dengan optimis.

Ironisnya, Samsudin terlihat menikmati hidupnya tanpa bermimpi menjadi orang yang lebih “mapan” di kemudian hari. Ia tak bermimpi usahanya membuahkan mobil mewah atau rumah yang dapat ia huni tanpa harus mengontrak seperti sekarang. Ia bahkan tak muluk-muluk anaknya harus menjadi orang besar kelak, apakah harus kuliah atau tidak. “Yang penting, sekarang itu usaha untuk keluarga. Yang penting mereka (anak, ibu, dan bapaknya) bisa makan,” ungkapnya seolah hendak menegaskan tujuan hidupnya.

Meski sepintas terkesan pesimis, namun itu lah hidup bagi Samsudin. Itulah bukti profesionalismenya. Ia begitu cinta pekerjaannya. Ia sadar, tukang gorengan adalah profesinya tanpa harus merasa itu kecil, rendah, dan hina hingga suatu saat ia harus meninggalkan pekerjaannya.

Cara berpikirnya pun begitu sederhana. Mungkin orang akan menilai itu cara berpikir pendek. Namun itu lah visi hidupnya. Masa depan tak harus dibicarakan saat ini toh ia akan datang. Ia hanya ingin keluarga hidup di masa depan tanpa muluk-muluk bermimpi yang belum pasti. Samsudin, Samsudin…

2 comments on “Tak Ada Tahun Baru Bagi Samsudin

  1. Ratna
    1 Januari 2011

    Subhanallah,,hidup pak Samdudin.

    • elfarizi
      1 Januari 2011

      Tapi, saya lebih senang menyebutnya “Mas” hehe… Mudah-mudahan mendapatkan ibroh🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 Januari 2011 by in sosial and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: