ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Horor Gula Darah di Usia Muda

Selepas kuliah, seperti kebanyakan sarjana lainnya, saya pun mencoba melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Setelah lama menunggu, akhirnya sebuah perusahaan swasta di bidang media yang sangat saya idam-idamkan mengundang saya untuk mengikuti rekrutmen yang sebelumnya diiklankan di medianya. Proses demi proses, saya ikuti. Dihitung-hitung, proses rekrutmen menghabiskan waktu hampir dua bulan.

Setelah lulus beberapa tahapan dan hanya “menyisakan” empat orang yang beruntung, akhirnya saya mengikuti tahapan akhir, yaitu medical check up alias tes kesehatan. Merasa badan sedang fit dan secara kasat memang tidak ada kelainan, saya santai saja mengikuti medical check up. Catatan, kecuali penyakit “dalam” yang saya tak informasikan dalam riwayat kesehatan J. Namun, kenyataan sangat pahit harus saya terima setelah kepala bagian SDM perusahaan tersebut menginformasikan bahwa dua orang di antara calon karyawan “terpaksa” harus dikembalikan ke pangkuan orangtua karena alasan kesehatan. Dan, salah satunya adalah saya hikshikshiks…

Selepas diskusi dengan beberapa pihak di perusahaan tersebut, ternyata mereka tidak menoleransi hasil cek kesehatan saya. Dalam catatan hasil medical check up, dinyatakan kadar gula darah saya tinggi (saya lupa angka akuratnya!). Owh, my God. Bahkan sebelumnya saya tidak menyangka kalau saya terindikasi penyakit gula darah (baca: diabetes). Padahal saya kan keturunan orang baik-baik (baca: kedua orangtua tidak menurunkan penyakit tersebut). Ya, sudahlah. Life must go on, bukan? Lagi pula, saya kan masih muda –untuk tidak dikatakan belia🙂.

Mendengar vonis agak mengerikan tersebut, tentu saya tidak tinggal diam. Saya langsung mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang gula darah dan cara menurunkan kadarnya. Mengapa tak ke dokter? Bukannya tak mau langsung ke dokter, tapi saya sengaja mencari tahu informasi tentang cara menurunkan kadar gula darah. Selepas itu, satu sampai dua minggu, saya kembali check up, mudah-mudahan saja kadar gula darah menurun drastis.

Tak ada pilihan lain untuk bisa mengubah hidup saya selain saya harus mengubah gaya hidup a.k.a. life style. Bukan urusan mode atau fashion, tapi maksudnya saya mengubah pola makan dan pola aktivitas. Huhuhu. Semenjak mendapat kabar pahit dari perusahaan tersebut, saya putuskan untuk mengubah gaya hidup. Minimal, pas saya check darah lagi setidaknya ada perubahan yang memuaskan dan bisa membuat saya tersenyum.

Oh ya, sebagai informasi saja konon diabetes disebabkan tubuh kekurangan insulin yang berfungsi sebagai pengontrol gula darah. Insulin akan mengolah gula (bahasa kerennya: glukosa) dari makanan yang kita konsumsi menjadi energi. Nah, kalau tubuh kekurangan insulin, maka proses itu tentunya tidak terjadi walhasil gula atau glukosa yang semestinya berubah jadi energi malah bertumpuk dalam darah. Mungkin, gara-gara ini, darah jadi manis kali ya🙂 (kalimat terakhir mohon tidak dibaca karena mengandung kengacoan).

Mengatur Pola Makan

Ini dia yang berat bagi saya. Kenapa tidak? Saya harus rela meninggalkan jauh-jauh hobi saya berwisata kuliner hikshiks. Indonesia kan surganya makanan, termasuk Bandung dan Cianjur—dua tanah yang saya cintai🙂 it’s so hard to leave all about food😦 . Mungkin kalau ada pedagang makanan baru, saya tak boleh lagi sembarang mencoba huhuhu.

Konon, dari beberapa sumber, tertulis maupun lisan, modern maupun tradisional, penyakit diabetes itu dapat disembuhkan dengan mengatur pola makan dan memilih asupan makanan yang tepat. Katanya sih, kita (kita?) harus mulai menghindari makanan yang mengandung karbohidrat yang kompleks alis sulit dicerna, seperti nasi. Tentu bukan harus menjauhi, namun saya harus mengontrol jumlah asupan nasi. Padahal nasi kan rajanya semua makanan yang saya makan. Kalau belum makan nasi, tentu belum berasa makan (filosofi urang Sunda huhuy). Yang biasa satu piring tambah satu piring (mungkin tambah satu lagi), kini menjadi setengah piring, yang kira-kira hanya habis dimakan dengan 8-12 sendok makan dengan ukuran wajar (bukan urang kuli bangunan).

Selain itu, makanan lain yang harus mulai dilirik adalah singkong, ubi (terutama yang warnanya merah), kentang kukus (lebih baik dibuat godeblagfood made in Cianjur). Itu semua bisa jadi pengganti nasi kalau kita gak tahan makan nasi sedikit, karena kebiasaan makan banyak. Atau, alternatif lainnya adalah nasi merah. Katanya juga, beras merah ini cocok untuk penderita diabetes. Apa alasannya? Silakan googling aja ya…

Selain itu, saya harus banyak makan makanan yang mengandung protein tinggi, seperti tempe tahu. Yah, itu sih bukan masalah. Lalu, ada resep jitu dari orangtua saya, katanya kadar gula bisa diturunkan dengan mengonsumsi makanan yang pahit, seperti pare (paria) dan patrawali. Walhasil, tiap sore saya harus rela ngecengin si mbak jamu hanya untuk mengonsumsi jamu patrawali yang super pahit gak ketolongan… Logika orangtua sih sederhana, darah yang panis harus “dibunuh” dengan sesuatu yang pahit biar darahnya ikut pahit. Penjelasan lebih ilmiahnya mungkin bisa ditemukan di Ustadz Google.

Hal lainnya, menghindari lemak yang jenuh dan bahaya. Mungkin ini bisa jadi terkandung dalam keanekaragaman gorengan (wuhhh, I love them most) dan kuah santan dalam lontong kari dan rendang padang. Apalagi kalau masakan dimasak dengan menggunakan minyak curah dan minyak habis pakai (bahasa kerennya jalantrah), itu sangat membahayakan. Jadi minta Mama untuk selalu menggunakan minyak dengan dua kali penyaringan atau minyak yang bisa diminum (???).

Lalu hindari makanan dengan pemanis buatan. Itu tentu yang mencemari darah jadi darah kian tambah manis saja. Katanya juga, kalau pemanis alami seperti kayu manis itu baik untuk dikonsumsi. Mungkin, teman-teman yang punya penyakit sama juga bisa pakai pemanis khusus untuk penderita diabetes yang kadar gulanya rendah seperti Tropicana Slim (mohon sensor sendiri merknya).

Pilihan terakhir dari diet untuk menurunkan kadar gula darah yang saya pilih adalah mengonsumsi susu khusus penderita diabetes (Diabetasol). Susu ini dapat dijadikan pengganti makanan berat di pagi dan malam hari, selain itu di siang hari saya masih bisa makan berat seperti biasa.

Mengatur Pola Hidup

Pola hidup yang dapat menurunkan kadar gula darah salah satunya olahraga teratur. Saya sih pilih yang murah meriah saja, yaitu lari. Karena sekarang masih konsentrasi berobat dan belum bekerja, saya masih bisa gunakan setiap hari untuk olahraga lari keliling alun-alun Cianjur setiap pukul 05.30 sampai 06.30 ditambah sit up dan push up. Ini sebenarnya berpengaruh pada pembakaran lemak dalam tubuh, apalagi kalau sampai keluar keringat. Dengan demikian, gula darah juga ikut terbakar dan terbuang. Lumayan juga buat mengatasi pipi chubby🙂.

Pola hidup lain mungkin diet seperti yang sudah dijelaskan di atas. Selain itu tidur secukupnya. Kata ahlinya, tidur yang baik itu sekitar 8 jam perhari, bisa dibagi antara tidur malam dan siang, yang penting 8 jam. Dan, kalau bisa tidur dan bangun dalam waktu yang sama setiap harinya. Okadah kalo begitu… Kalau program ini berhasil membantu menurunkan kadar gula darah, dua minggu kemudian saya tulis lagi di blog. Bye!

2 comments on “Horor Gula Darah di Usia Muda

  1. nova
    21 Oktober 2011

    Terimakasih infonya… Sangat berguna…
    Ibu saya terkena diabet..
    Salam kenal..

    • elfarizi
      5 November 2011

      Sama-sama, mbak Nova … terimakasih juga sudah berkunjung. Insya Allah saya juga mau silaturahim ke ‘rumah’ Mbak🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 Desember 2010 by in curhat, gaya hidup and tagged , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: