ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Jodoh Itu Seperti Duren, Ada Musimnya!

Hampir satu semester lalu, kawan saya (panggil saja Kasep) pernah berujar. Katanya, jodoh itu ada musimnya. Kalau lagi banyak ya banyak dan mudah. Kalau lagi susah ya susah alias seret bahkan satu pun gak ada yang nempel sama kita. Dia bilang kayak gitu pas saya sedang meminta ‘petunjuk’ darinya yang dikenal sebagai ulamanya anak sekelas.

Sejenak saya mengernyitkan dahi. Masa iya kayak gitu? Lalu seketika saya menampik keras seraya menunjukkan dalil populer ‘Johan’ alias jodoh di tangan Tuhan. Tafsirnya, saya percaya Tuhan punya kehendak termasuk memilihkan jodoh untuk makhluknya di saat yang tepat, di waktu dan momen yang pas. Dan, saya juga percaya tentu itu pun sesuai ikhtiyar kita. Artinya, jodoh di tangan Tuhan dan tangan Tuhan itu harus kita raih sehingga kita bisa berjabat tangan dengan Tuhan hehe J

Lalu Kasep sedikit menyanggah konsep ini. Dia keukeuh pada teorinya kalau jodoh itu ada musimnya! Katanya, itu beranjak dari pengalaman pribadinya. Katanya, dulu –ketika ia masih remaja dan muda—banyak cewek yang berusaha menggaet hatinya. Namun sekarang, di usianya yang ia akui sudah tak muda lagi, timbul semacam penyesalan di benaknya. Ia mengaku, boro-boro ada yang mendekat, yang ia dekati saja rupanya menjauh dan tak jarang pendekatannya bersambut luka. Ckckckck.

Makanya, berangkat dari penyesalannya, ia menyarankan agar saya “jangan menyia-nyiakan kesempatan” apabila suatu ketika ada yang berminat pada saya. Hmmm. Kalau saja saya lengah dan tak memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, belum tentu saat kita merasa perlu ‘pendamping’ kita mendapatkan dengan mudah dan mulus.

Ah, saya pikir teori ini terlalu hiperbola. Itu sih cocoknya sama pengalaman Kasep yang cukup dramatis mengenai konsep ‘jodoh’ hehe J Tapi saya juga tak mau terus menyanggah, saat itu kan bukan forum diskusi melainkan saya yang sedang bingung dilanda masalah jodoh dan hendak berkonsultasi dengan ulamanya. Masalahnya waktu itu, banyak (ukuran banyak ini adalah lebih dari satu) yang mendekat dan berminat, namun hati belum mantap dan selera belum terpenuhi. Ya, sudahlah saya sami’na wa atho’na. Saya kembali dengan hampa dan cuma membawa satu ilmu, bahwa jodoh itu ada musimnya!

Kini, satu semester telah berlalu. Kasep sudah jadi guru agama di Jakarta. Ilmunya yang saya dulu saya anggap tidak relevan dan tak bisa diterima tiba-tiba kini mencuat dalam otak. Saya baru sadar, ternyata ada benarnya juga teori jodoh Kasep itu. Berbulan-bulan, beberapa orang berusaha mendekat dan mencari simpatik namun saya acuhkan. Kini, saya baru sadar ketika orang-orang itu punya pilihannya sendiri dan mulai melangkah menjauh. Sedangkan saya hanya merasa sulit untuk mencoba mencari pilihan sendiri. Hahayyy, ternyata benar jodoh itu seperti duren, ada musimnya!

Wallahualam. Semoga kita tidak temasuk golongan orang-orang yang Sombong.

3 comments on “Jodoh Itu Seperti Duren, Ada Musimnya!

  1. Hamba Allah
    17 Desember 2011

    hoaxxxxx………….

  2. Ratna
    11 Oktober 2010

    hihihihi…jadi critanya ini teh pnyesalan krn dah nolak someone ,,huhu.Whatever, jalan ALlah indah pada waktunya.

    • elfarizi
      12 Oktober 2010

      bukan nyesal tapi lucu ajja kalo diinget hehe Ok frend🙂 ditunggu karyanya…

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Oktober 2010 by in cinta, curhat, muda and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: