ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Gue Mental Pelamar Kerja, So What!

Oleh : Reza Sukma Nugraha

Muda poya-poya, tua kaya raya, mati masuk surga. Siapa yang gak mau hidup dengan alur seperti jargon kuno tersebut? Jargon yang mengobarkan semangat hidup dengan gelimang harta dan kesenangan di dunia lantas dengan manisnya, pas mati masuk surga pula. Yang demikian, mungkin yang disebut orang dengan sukses dunia dan akhirat.

Sukses biasa dianggap orang sebagai sebuah keberhasilan. Sukses di dunia, artinya berhasil meraih segala keperluan dan kebutuhan duniawi yang kasat mata dapat diukur dengan harta melimpah, karier yang sukses, atau pangkat yang tinggi. Mendapatkan kesuksesan, secara teori, konon tak mudah juga tak sulit. Modalnya kreativitas dan kesungguhan untuk berusaha dan sukses. Betulkah?

Sebagai calon wisudawan—yang berarti secara administrasi, saya sudah menyelesaikan sakaratul mautnya para mahasiswa: sidang skripsi—saya lumayan deg-degan. Pasti  orang sudah maklum, apa yang saya deg-degani (yang membuat saya deg-degan, itu kalimat pasnya). Tentu adalah PEKERJAAN! Ya, saya lumayan deg-degan, apa pekerjaan kelak yang bisa menjadi lahan penghasilan saya. Apakah sesuai dengan keilmuan, apakah cukup layak jadi profesi, apakah bisa mewujudkan cita-cita saya untuk kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, apakah dari penghasilannya selama setahun bisa kebeli rumah, dan seabreg pertanyaan yang bagi sebagian orang mungkin itu so innocent!

Mengenai hal ini, ada satu kondisi yang membuat saya memutar balik otak dengan “kegelisahan” saya itu, apakah itu “kegelisahan” yang dapat dibenarkan atau terlalu berlebihan, atau bahkan “kegelisahan” itu tidak perlu sama sekali. Kondisi ini juga membuat saya harus menaubati kegelisahan tersebut karena banyak orang di dekat saya menganggap kegelisahan semacam itu dosa besar bagi seorang sarjana, lulusan universitas, dan dosa yang sangat besar bagi seorang pemuda!

Siapa yang bilang demikian?

Tentu kawan-kawan tercinta, kawan-kawan dekat yang biasa berinteraksi dengan saya dalam satu organisasi, satu komunitas. Kebanyakan mereka menganggap “kuliah bukan untuk cari kerja” atau “wisuda bukan diniatkan untuk mencari kerja.” Pendapat lain yang sering saya terima misalnya, “Alah, jangan mau ngelamar kerja coz gak enak disuruh-suruh.” Atau yang ini, “Mending menciptakan lapangan kerja, dari pada mengharapkan belas kasihan orang.” Terus juga ada yang bilang begini, “Ah, maneh mah mental pelamar kerja, ngalamar kaditu kadieu. Kuliah teh lain jang gawe, sia teh! (Ah, kamu mah mental pelamar kerja, ngelamar kesana kesini. Kuliah itu bukan untuk bekerja!”

Ckckckck, ternyata kawan saya orang-orang kreatif. Idealismenya tinggi. Jiwa mudanya berkobar. Memang di antara mereka sudah memiliki “aktivitas” masing-masing, ada yang editor freelance, blogger, penulis buku dan artikel di media, wartawan lepas, wirausaha—dari yang sukses sampai yang belum kelihatan sukses, pekerja event organizer, penganggur “cerdas”, bahkan ada yang kerja tapi saya gak tau kerjanya apaan, pokoknya dia bilang dia gak bergantung sama perusahaan manapun.

Ya, terimakasih kawan-kawan atas ilmunya. Ilmu itu rupanya bukan sekedar klise ilmu yang hinggap di jiwa-jiwa anak muda yang idealis. Sebagian kawan sudah menunjukkan bahwa idealisme mereka tak membuat mereka gelisah dengan masa depan. Dalam kalimat lain, mereka santai dengan sikap yang mereka pilih, santai, dan nampak tak ada tuntutan apa-apa. Sedangkan mereka menganggap saya berjiwa pragmatis.

Hal itu membuat saya rada-rada “jaim” kalau bicara urusan “masa depan” setelah lulus nanti dengan mereka. Karena merasa diri “rendah” apabila tak seidealis mereka, saya selalu jawab dengan jawaban diplomatis, “Ya, selagi ada kesempatan mengabdikan ilmu untuk masyarakat.”

Namun, setelah saya kembali ke dalam kehidupan “asli” saya di kampung halaman, ternyata keadaan memaksa lain. Kedeg-deganan (alias kegelisahan) kembali muncul. Apa yang dapat saya perbuat menghadapi pertanyaan keluarga, pertanyaan masyarakat (tetangga). Apa perlu “idealisme” seperti ketika berkumpul dengan kawan-kawan ditegakkan kembali. Jujur, saya belum sanggup dan tak bisa menyembunyikan kegelisahan saya itu.

Lantas, beberapa hari ke depan, saya banyak merenung dan memikirkan sikap apa yang harus saya ambil. Keluarga saya bilang, kalau saya biasa berorganisasi, saya tidak akan kaku dalam memulai suatu pekerjaan. Ya, memang ada benarnya. Tapi, masalahnya bukan pada itu saja. Organisasi membentuk saya bersikap mandiri, tak bergantung pada siapa pun (dalam hal penghidupan ekonomi). Dengan kata lain, membentuk idealisme seorang muda yang gak melulu memikirkan makan apa nanti, kerja apa nanti.

Namun, ternyata saya pikir saya tak perlu “jaim” dengan sikap yang saya pilih, kalau saya harus “gelisah” dengan masa depan saya. Saya harus mencari kerja sesuai dengan kemampuan saya, sesuai kenyamanan saya, dan sesuai dengan segala kondisi yang memaksa saya berpikir demikian. Ini idealisme saya. Yakni, idealnya, saat ini saya harus “bekerja pada orang lain” karena kondisi dan lingkungan yang saya pikir menghendaki demikian. Kondisi dan lingkungan yang setiap individu akan mengalaminya secara berbeda-beda.

Beberapa alasan yang jadi pertimbangan saya untuk mengambil sikap dan “idealisme” versi saya sendiri itu. Pertama, saya punya cita-cita melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi dan perlu tabungan ekstra. Kedua, orang tua saya menghendaki saya berpenghasilan untuk mendukung cita-cita tersebut. Dan, upaya untuk itu adalah melamar pekerjaan pada instansi atau perusahaan tertentu. Ketiga, saya 100 % memercayai ukuran kesuksesan tergantung pada kreativitas dan saya mendambakan berwirausaha dan menyediakan lahan pekerjaan untuk orang lain. Namun kondisi materi dan psikologis saya belumlah mendukung sikap demikian.

Jadi, kawan-kawan tercinta, saya memang mental pelamar kerja, so what!

8 comments on “Gue Mental Pelamar Kerja, So What!

  1. Ratna
    11 Oktober 2010

    the people said, “Seribu langkah besar dimulai dengan satu langkah yang kecil”. So dont give up n take ur way!

    • elfarizi
      12 Oktober 2010

      Thanx fren🙂

  2. Cecep Hasanuddin
    26 September 2010

    GUe juga,kok!

    • elfarizi
      12 Oktober 2010

      Loe mah mental dikasihani hehehe🙂

  3. aidakanialugina
    25 September 2010

    Idealis bukan diukur dari apa pekerjaannya, tapi bagaimana kita bekerja, jadi jangan pernah menyia-nyiakan peluang dan kesempatan. Sukses selalu, man jadda wa jadda. Semoga Allah selalu menyertai langkahmu (^_^)

    • elfarizi
      26 September 2010

      Yupz, da, betul sekali… Thanx.

  4. isdiyanto
    18 September 2010

    P E R T A M A X . . .
    tetep semangat pasti kelak suatu saat akan bisa didapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, roda kehidupan pasti terus berputar, adakalanya di bawah dan ada kalanya di atas.

    • elfarizi
      20 September 2010

      thanx brow🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 September 2010 by in curhat and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: