ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Wajah (Oknum) Pers di Mata Ahmad Setiyaji

Oleh : Reza Sukma Nugraha

Kebebasan adalah kunci utama setelah Indonesia memasuki gerbang reformasi. Lebih dari satu dekade, reformasi telah mengubah sendi-sendi berkehidupan, khususnya dalam hal kebebasan berekspresi dan bersuara. Hal tersebut juga didukung dengan semakin merdekanya dunia pers setelah sekian lama dibelenggu dan dikunci erat-erat pada orde prareformasi. Bahkan, pers selalu digaung-gaungkan sebagai the fouth power dalam pilar kehidupan berdemokrasi, berusaha mengimbangi kekuatan trias politica.

Sayang, kebebasan perssebagai simbol keberhasilan reformasi tak pelak menunjukkan wajah buram. Media massa, sebagai produk pers yang berfungsi sebagai pengendali situasi semakin hari makin nyata mengendalikan segala sendi hidup masyarakat. Tak banyak yang tahu, masyarakat boleh jadi sewaktu-waktu digiring untuk beropini pada sesuatu yang ternyata hanya bentukan media—terlepas itu murni fakta, fakta pesanan, tekanan, atau bahkan bukan fakta.

Kesimpulan ini dapat saya buat setelah mendengar “ceramah” seorang Ahmad Setiyaji, seorang pekerja pers yang mengakui keterpurukan rekan-rekannya (sesama wartawan pada umumnya) yang menjadikan rusaknya “susu sebelanga” karena perbuatan mereka yang ibarat “nila setitik”. Ilmu ini saya dapatkan saat ia menjadi pemateri pada Pelatihan Jurnalistik Remaja Mesjid (PJRM) di ICMI Orwil Jabar, Cikutra, Bandung (29/8).

Contohnya, soal wartawan amplop dan amplop wartawan. Tentu bukan hal yang tabu bila wartawan pada pekerjaannya sering menemui banyak “ucapan terimakasih” dari nara sumber. Ia menjelaskan kemana larinya “amplop-amplop” itu. Karena barang tentu, kantor tidak  akan menerima dan tidak menoleransi wartawan yang menerimanya, khususnya media yang sudah populer. “Sudah tidak aneh, teman-teman saya (para wartawan) punya simpanan di daerah,” ujarnya sammbil tertawa.

Wartawan harian terbesar di Jawa Barat ini menambahkan, dalam aktivitas media massa, hitam putih sangatlah tipis. Itu terbukti saat pimpinan redaksi sebagai pucuk tertinggi pengambil keputusan menurunkan suatu berita atau membatalkannya. Katanya, subjektivitas pimpinan media sangatlah mempengaruhi dipublikasikannya suatu berita. “Itu tergantung pimpinan, tekanan, pesanan, dan faktor lain-lainnya,” ujar pemilik konsep “jurnalisme jihad” ini.

Lebih jauh ia berpendapat, media massa, baik disengaja maupun tidak, dapat melakukan kebohongan publik. Ia mencontohkan berita-berita yang ditulis untuk laman berita dalam jaringan (daring, baca: online). “Dalam media online, bisa saja sebuah media menurunkan berita yang belum utuh atau belum sepenuhnya benar,” kata juara (entah I, II, atau III) penulisan KPK ini. “Apabila terbukti beritanya salah maka dengan mudah mereka mengeluarkan hak jawab,” sambungnya.

Tentu, apa yang ia jelaskan perihal kehidupan pers di negara ini merupakan satu stimulan bagi para peserta pelatihan yang mendengar ceramahnya untuk terus mengupayakan wajah dunia pers yang lebih jujur dan berkeadilan ke depannya. Sebenarnya ia menjelaskan secara detail, pengaruh media terhadap issu lainnya, terutama menyangkut issu-issu besar yang sekarang jadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Cuma, ya… Saya pikir terlalu sensitif dan cenderung subjektif. Yang jelas, apa ulasan ini ditulis dengan maksud agar para muda yang bercita-cita jadi pelaku dunia pers, harap waspada dan tentu banyak pelajaran yang dapat diambil dari “wajah” pers yang dibocorkan Ahmad Setiyaji ini.

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 September 2010 by in sosial and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: