ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Sssst… Gak Cinlok Gak Rame!

Kuliah Kerja Nyata (KKN) memang  menyisakan banyak cerita. KKN sebagai program akademik, semua orang juga tahu. Di KKN, harus banyak program kerja yang dilaksanakan mahasiswa, itu sih memang seharusnya. Biasanya, di KKN, mahasiswa dituntut menghadapi keadaan yang mungkin bagi sebagian besar mahasiswa adalah hal baru. Dan, itu adalah hal yang lumrah.

Satu hal lain yang lumrah terjadi—kata sebagian besar para mahasiswa yang sudah memiliki pengalaman KKN—adalah terjadinya kontak batin antara seorang laki-laki dan perempuan. Maksudnya, ada pertautan hati di antara dua orang atau lebih para mahasiswa dalam satu kelompok. Istilah populernya: cinta lokasi alias cinlok.

Memang bukan hal yang tak wajar kalau sampai di antara mahasiswa KKN ada yang saling jatuh hati. Tiga puluh hari, beberapa orang laki-laki dan perempuan, tinggal bersama di bawah satu atap. Mulai bangun tidur hingga kembali tidur, tak lekang dari pandangan mata. Selain program formal KKN, aktivitas sehari-hari saling diketahui. Kebiasaan masing-masing, yang baik, bagus, terpuji, hingga kebiasaan buruk dan memalukan bisa jadi terbongkar. Meski pertama-tama akan sangat jaim, haqqul yakin lama-lama aib pun tak bisa lagi ditutupi.

Begitu juga di kelompok saya. Sebut saja Dias dan Dina. Dias adalah mahasiswa keguruan sedangkan Dina mahasiswi hukum. Gerak-gerik mereka sepintas saya acuhkan. Namun lama-lama, setelah saya cermati, ternyata keduanya saling memadu hati. Padahal saya tahu, Dina sudah punya pacar yang kebetulan teman saya juga. Bahkan pacarnya pun sama-sama sedang KKN di kelompok lain. Walah, apa jadinya kalau pacarnya tahu. Atau, mungkin pacarnya pun diam-diam berkasih dengan perempuan di kelompoknya. Ah, entahlah.

Belakangan, saya tahu Dias pun ternyata sudah punya pacar. Pacarnya pun sedang KKN di kelompok yang tak terlalu jauh dari kelompok saya. Dias memang sering mengunjungi pacarnya di poskonya. Tapi, di luar itu ia juga sering ‘berkencan’ dengan Dian. Mesra di luar maupun di dalam posko. Kalau Dian sakit, Diaslah yang pertama kali memberi perhatian. Bak Arjuna, Dias pun selalu berada di garda terdepan apabila Dian tertimpa suatu kejadian.

Ada lagi Gugum (bukan nama sebenarnya), kawan satu kelompok dengan saya. Ia mengaku masih jomblo, bahkan ngebet ingin segera menggugurkan statusnya yang single. Karena seorang Bunga (nama palsu) senantiasa tertatap oleh kedua matanya, maka hati Gugum pun lama-lama terpikat. Suatu hari, Gugum menyatakan cintanya pada Bunga di sebuah tempat rekreasi yang sangat jauh dari posko.

Namun, Bunga pun segera menceritakan hal itu pada Sahrul (nama jadi-jadian). Entah diketahui Gugum atau tidak, bahwa ternyata selama ini Bunga pun sangat dekat dengan Sahrul. Bahkan Bunga dan Sahrul telah sama-sama menyatakan bahwa mereka berdua saling menyukai satu sama lain. Namun, Sahrul tak memilih sikap antipati pada Gugum. Karena tak ingin ada hal yang memperkeruh suasana KKN, Sahrul bersikap seolah-olah tak tahu bahwa Gugum punya niat untuk berpacaran dengan Bunga, perempuan yang ia sukai.

Selain itu, Sahrul sebenarnya punya masalah tersendiri. Saat itu, ia sedang menghadapi dilema dalam hatinya. Ia memang berstatus single setelah putus dari pacar lamanya beberapa bulan lalu. Akan tetapi, saat itu sebenarnya ia sedang menimbang-nimbang apakah ia akan kembali atau tidak pada pacar lamanya. Sebut saja, pacar lamanya Sinta. Mengingat Sinta masih berharap ia masih bisa menjalin hubungan dengan Sahrul.

Ada pula kisah dari posko kelompok KKN lainnya. Misalnya cerita Hadi (nama bohongan), teman sekelas saya yang KKN di kecamatan lain yang jauh dari saya. Ceritanya boleh dibilang unik, mengingat selama ini ia belum punya riwayat bercinta alias pacaran. Jadi boleh dibilang, ini cinta pertamanya. Apalagi selama ini, Hadi memang terkesan cuek dan masa bodoh untuk urusan pacaran.

Tapi hatinya luluh karena seorang Tina, seorang mahasiswi Hukum. Mereka sangat akrab dan dekat selama KKN. Bahkan, kedekatan mereka berbeda dari mahasiswa lainnya. Otomatis, teman-teman di kelompoknya sudah mengira kalau Hadi dan Tina berpacaran. Kemana-mana, selalu berdua, termasuk saat berkunjung ke posko saya.

Kata cinta belum terungkap dari mulut keduanya. KKN pun berakhir. Hadi semakin menggebu ingin bisa menjalin cinta dengan Tina. Tina pun memberikan signal yang baik. Selain lewat sikap dan ucapannya, Tina bahkan pernah mengajak Hadi mengantar Tina pulang ke rumahnya di luar kota, jauh dari kampus. Namun sayang, Tina yang mengaku sayang pada Hadi ternyata sedang menghadapi dilema. Ia sesungguhnya sudah punya pacar. Walau ia mengaku memilih Hadi, tapi ia masih belum bisa menentukan siapa yang akan ia pilih.

Lain halnya dengan Yana, teman sekelas saya yang lokasi KKN-nya berhadap-hadapan dengan Hadi. Meski begitu mereka berbeda kelompok. Uniknya, Yana malah terpikat pada Uli (nama samaran), mahasiswi keguruan yang masih satu kelompok dengan Hadi. Yang ini namanya cinta lintas posko. Tapi, saya belum bisa mengorek lebih dalam lagi karena Yana terkesan malu-malu. Yang jelas, keduanya suka jadi bulan-bulanan kedua kelompok yang poskonya saling berhadapan itu.

Cerita dahsyat datang dari Farhan (nama siluman), teman sekelas saya juga yang KKN di kecamatan lain. Kebetulan Farhan adalah ketua kelompoknya, seluruh peserta di kelompoknya ada sepuluh orang, lima laki-laki dan lima perempuan. Katanya, semua peserta KKN di kelompoknya pacaran! Artinya masing-masing orang di kelompoknya berpasangan. Tapi, Farhan mengaku ia sendiri masih pada tahap pedekate. Ia memang masih single, tapi beberapa teman KKN-nya sudah punya pasangan di luar KKN bahkan sudah tunangan dan menikah setelah pulang KKN. Wah, sempat-sempatnya pacaran dulu di tempat KKN. Ckckck.

Parahnya, salah seorang kawan Farhan mengadu pada Farhan kalau ia sudah berbuat khilaf. Kenapa? Karena suatu waktu, ia kecolongan mencium bibir pasangan cinloknya!

Itu baru beberapa saja fenomena cinta di lokasi KKN. Latar belakang variatif, gaya pacarannya pun unik-unik. Jadi, saat KKN, para pelaku cinlok sejenak melupakan kehidupan biasanya di kampus, di rumah, atau di tempat tinggalnya. Selama sebulan penuh, selama KKN, mereka memanfaatkan situasi dan kondisi untuk mengisi hati dengan cinta yang tersedia di depan mata.

12 comments on “Sssst… Gak Cinlok Gak Rame!

  1. Ratna
    18 April 2010

    ehm,,,ehmmm,,,virus cinta menjalar begitu mudah,,he

    • elfarizi
      18 April 2010

      ooo gitu ya?
      itu yang Na rasain kali ya di garut??? heuheu…

  2. imas
    12 April 2010

    kang reza juga ya,,,

    • elfarizi
      16 April 2010

      Hmmm… entah ya…🙂 Kayaknya yang comment deh…

      • imas
        17 April 2010

        aq ga! ma sapa coba?

      • elfarizi
        18 April 2010

        hmmm… sapa ya? kayaknya yg suka nganter2 pake motor deh…

    • imas
      18 April 2010

      kata sapa?

      • elfarizi
        19 April 2010

        aaa… ngakuu… cikiciw…

      • imas
        19 April 2010

        brarti cinlok na lobaan. da d anterna ge ku sasaha…..

      • elfarizi
        19 April 2010

        iya ya…

  3. Thomas
    12 April 2010

    Ini namanya sekali tepuk 2 lalat jatuh he he he.
    salam.

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/12/p-s-i-love-you/

    • elfarizi
      16 April 2010

      haha, thanx ya🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 April 2010 by in cinta and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: