ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Bimbel Spesial Liburan

Selamat datang kampung liburan!

Radit begitu puas menginjakkan kakinya di kampung ini. Wajahnya kian sumringah tatkala Sam menyetop mobil pribadi yang disulap menjadi angkutan umum ini.

“Ini dia dusunku,” ujar Sam sebelum melangkahkan kakinya.

“Wah, hutan bener, ya … Tapi, swear belum apa-apa, udah berkesan banget, apalagi tadi
sepanjang perjalanan!” tutur Radit yang masih masih mengeluarkan ekspresi takjub.

Sam tak perlu tersinggung dengan ucapan Radit. Hutan. Memang benar ini hutan. Tapi inilah tanah kelahiran Sam. Sebuah pemukiman para transmigran di utara Bengkulu. Orangtua Sam asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Tiga puluh tahun lalu, Apa dan Emaknya meninggalkan tanah Pasundan demi melaksanakan program pemerintah kala itu, transmigrasi.

Sam sendiri lahir dan besar di Bengkulu. Selepas menyelesaikan SD-nya ia hijrah ke kota Bengkulu untuk melanjutkan sekolah hingga SMA. Sudah barang tentu, ia lebih pantas disebut orang Bengkulu dari pada orang Sunda. Budaya Bengkulu kian melekat pada dirinya. Ia belum pernah tahu tanah kelahirannya, kecuali saat ini, karena ia kuliah di Bandung.

“Dit, udah dong kagumnya, kita mulai cabut ke rumahku,” ajak Sam memecahkan rasa takjub Radit.

“Iya, bentar. Wah, gue seneng banget suasana di sini. Adem kayaknya,” ungkap Radit yang masih menampakkan kekagumannya.

“Ya, di sini gak kayak di rumah kamu. Panas!”

“Oh, jadi elu nyesel gue ajak ke rumah?” Radit ngotot.

“Nggak, nggak. Bercanda.”

Sepanjang jalan, mereka melalui banyak pepohonan karet dan kelapa sawit. Sesekali ada pohon kelapa, ada perkebunan coklat, dan aneka hasil hutan lainnya.

“Gila, Sam! Berapa lama lagi sih ke rumah lu? Jauh amat dari jalan utama. Kaki gue tepos neh,” gerutu Radit.

“Sedikit lagi. Rumah aku di ujung jalan ini. Paling pojok.”

“Buset deh! Bener lu ya, butuh perjuangan buat menuntut ilmu. Jauh-jauh dari Bengkulu ke Bandung. Gila, gue hampir mati ketegangan selama perjalananan. Gue kira 30 jam Bandung ke Kota Bengkulu itu cukup. Eh, gak taunya nambah 10 jam lagi ke rumah lu. Ya Allah selamatkanlah hambamu ini.”

“Ya, namanya juga takdir. Dulu aku ingin sekali lihat tanah kelahiran orangtuaku di Tasik. Jawa tuh seperti apa, eh ternyata sama aja.”

“Sama apaan? Jauh kali. Yang ada di sana serba modern. Jalan tol, mal, hotel. Lah di sini, utan semua kayak gini. Listrik juga belum ada kan?”

“Enak saja. Listrik udah ada di sini. Cuma nyalanya dari jam enam sore sampai jam dua belas malam.”

“Masyaallah.”

“Lagi pula di Bandung atau Tasik juga masih banyak juga daerah terpencil.”

“Iya, tapi gak kayak gini.”

Mereka terus saling meledek. Tapi, biar bagaimana pun radit tetap senang dengan liburannya kali ini. Ini kali pertamanya melangkahkan kaki di Pulau Sumatra. Apalagi, Sam punya misi besar untuk mengubah Radit. Memang, apa yang mesti diubah dari Radit?

“Pokoknya, kamu disini harus mau menjalani terapi,” ujar Sam.

“Iya, siap. Gue siap menjalankan misi besar dalam hidup gue : reformasi.”

Sam nyengir.

“Dasar, orang kota. Pulang dari sini, kamu jadi hitam, aku gak tanggung jawab ya!”

“Iya, asal gue dikasih makan aja yang rutin. Yang jelas lu siap kan jadi guru gue?”

“Iya.”

Akhirnya mereka sampai di rumah Sam. Rumah permanen yang baru saja dibangun satu tahun lalu. Sebelumnya rumah Sam hanya bilik yang beratap alang-alang. Rumahnya dikelilingi rimba yang penuh dengan aneka ragam pepohonan. Di sebelah barat ada kebun karet, di sebelah timur ada sawah dengan kolam-kolam ikan nila, mas, mujair, di sebelah utara masih kebun karet dan ada juga sawit, dan di sebelah timur ada jalan yang kita lalui yang di sepanjang jalannya berjajar pohon serbamacam.

Setelah menyalami kedua orangtuanya, Sam mengenalkan tamu ‘kota’-nya itu. Menjelang senja, mereka saling melepas rindu. Mereka hanya berempat. Kedua orangtua Sam tinggal di rumahnya. Sedangkan kakak-kakak Sam yang lain bertempat tinggal di kota dengan keluarganya masing-masing.

Pelajaran Pertama : Menyayangi Hewan

Pagi yang sedikit mendung. Awan masih menutupi langit hingga mentari Nampak enggan berbgai senyum. Di luar rumah, tepatnya di depan dapur yang memang terpisah dengan rumah, Sam dan Radit meregangkan otot-otot. Emak sedang di kolam pancuran membersihkan beras.
Hal baru pertama bagi Radit : WC yang unik. Hanya dibangun dari kayu dan bambu di atas kolam yang penuh dengan ikan sepat. Karena terbuka, Radit memilih untuk buang air sedini mungkin. Di saat langit masih gelap. Sesekali Radit geli dan agak khawatir melihat ikan-ikan yang saling berebut ‘makanan’ alaminya yang dibuang dari tubuh Radit.

“Oke, hari ini hari pertama. Kamu harus ikuti semua kerjaanku hari ini. Aku hendak ke hutan, cari kayu bakar,” seru Sam.

“Waduh, jangan jam segini dong! Gila, ini baru jam enam pagi. Ngantuk!”

“Iya, lagi pula jam segini kayu-kayu masih basah. Jadi kita akan memberi makan untuk sahabat-sahabatku.”

“Maksudnya?”

“Kita akan melepas ayam dari kandangnya dan memberi makan.”

“Ya, silakan.”

“Ayo.”

Radit diam saja. Tak mengikuti langkah Sam yang hendak mengeluarkan ayam-ayamnya dari kandang. Sam sadar bahwa Radit tak mengikutinya.

“Dit, ayo. Cepet! Kok diam saja?”

Radit menggelengkan kepala. Senyum-senyum tanda enggan menuruti perintah Sam.
“Loh, katanya mau belajar? Ayo dong. Kamu harus dilatih supaya bisa dekat dengan ayam. Bisa menganggap ayam seperti saudara sendiri.”

“Gila lu! Masa iya ayam jadi saudara sendiri. Lu tuh, baru pantes.”

Emak yang mengintip polah mahasiswa ‘ingusan’ itu tertawa geli melihat Radit. Lalu Emak lewat di belakang mereka.

“Eh, Emak,” sapa Radit agak menunduk malu.

“Ayo beri makan ayamnya. Jangan mau makannya aja,” ujar Emak bercanda.

“Ah, nggak. Makannya juga gak pernah, Mak,” jawab Radit.

“Masa?”

“Iya, Mak,” sambung Sam. “Radit emang gak suka makan daging ayam.”

“Oh, baru tahu ya ada orang kota tidak makan ayam,” lanjut Emak dengan logat Sundanya yang kental.

“Dia ini orang kota tapi kelakuannya kayak orang kampung, Mak,” tambah Sam meledek.

“Dasar lu, ya!”

Emak pergi ke dapur hendak menyalakan kayu bakar di hawu.

“Ayo, kita beraksi,” seru Sam sambil menarik lengan Radit.

“Ogah, ah,” jawab Radit. Wajahnya nampak enggan dipaksa-paksa.

Akhirnya Sam membawa Radit menuju kandang ayam. Sam membuka perlahan kandang yang terbuat dari bambu itu. Satu persatu ayam dipangku dan dikeluarkan karena letak kandang jauh di atas tanah. Kecuali kandang yang langsung mengenai tanah, hanya dibiarkan pintunya terbuka.

Sam menggendong dan mengelus-elus satu ayam sayur kesayangannya. Lalu didekatkan pada Radit. Kontan Radit lari terbirit-birit menjauhi Sam.

Pelajaran Kedua : Mencari Kayu Bakar

Siang ini, sesuai dengan agenda, Radit dan Sam pergi ke hutan yang masih milik Sam. Pohon rambutan, kedondong, dan albasiyah mendominasi pandangan. Daun-daun kelapa yang jatuh mengering, Sam biasa menyebutnya barangbang, dan juga pohon-pohon albasiyah yang telah mati adalah tujuan mereka.

Radit menepuk sesuatu di betisnya.

“Ada apa, Dit?” tanya Sam.

“Dih, banyak banget sih nyamuknya. Panas nih pada digigitin nyamuk sialan,” gerutu Radit.

“Di hutan sudah pasti banyak nyamuk hutan. Gigitan lebih…”

“Lebih apa?”

“Lebih bahaya.”

“Serius lu?”

“Iya, kemarin saja tetanggaku meninggal.”

“Karena digigit nyamuk hutan?”

“Bukan. Ya, karena sudah waktunya saja ia meninggal.”

“Sialan, lu!”

Sam tertawa menang. Ia memaklumi polah sahabatnya itu. Radit terbiasa hidup di kota. Di tengah ramainya orang berlalu lalang di jalanan dan lorong-lorong mal. Terbiasa mendinginkan hawa dengan AC, chatting dengan Yahoo Mesengger, masak instan dengan kompor gas LPJ, hingga meminum aneka sirup segar dari kulkas.

Namun perilaku tak semata karena kehidupannya di kota. Radit tak terbiasa melakukan pekerjaan berat. Tak pernah diajarkan bagaimana bersentuhan langsung dengan alam. Parahnya, ia tak juga mempelajari ilmu memakan daging ayam semenjak kecil hingga ia benci dengan daging ayam.

“Nih, ada albasiyah mati. Kamu tebang rantingnya lalu batangnya.”

“Gimana, ya?”

Radit tampak bingung. Ia memegang golok namun belum tau cara menebaskan mata golok tersebut pada pepohonan di depannya.

Pelajaran Ketiga : Memanen Hasil dan Memperbaiki Tanggul

Hari ini, Sam mengajak Radit ke kebun buah-buahannya. Selain mengajarkan Radit memanjat pohon, Sam juga akan menguji seberapa pandai Radit membuka tapas kelapa.

“Wah banyak banget jenisnya,” ujar Radit kagum saat sampai di kebun buah.

“Disini kebanyakan coklat, tapi disana ada duren, jambu, mangga, sirsak, dan rambutan.”

“Wah gue kebagian kan jatahnya?”

“Asal kamu harus bisa mengambil sendiri buahnya.”

Radit menelan ludahnya dalam-dalam. Cobaan apa lagi yang harus menimpa dirinya.

“Gak bisa gue. Swear!”

“Harus bisa. Titik.”

Sam membawa Radit ke pohon rambutan.

“Aku beri contoh dulu ya,” ujar Sam. Kemudian Sam memnajat perlahan batang pohon rambutan. Setelah tiba di dahan yang agak besar dan kuat, ia mencoba meraih buah yang bergelantungan memerah. Kemudian ia turun setelah berhasil meraih beberapa gantung buah rambutan.

“Nah, giliran kamu,” kata Sam menyilakan Radit.

Radit terdiam, memperhatikan lekat-lekat pohon yang ada di depannya dari bawah hingga atas.

“Ayo,” desak Sam.

“Iya, bawel. Dah kayak oma gue aja lu,” jawab Radit manyun.

Dilematis memang. Radit memang sedang belajar menjadi lelaki yang serbabisa, seperti tuntutan mama papanya. Tapi jujur, ia bingung harus berbuat apa. Memanjat pohon. Sekali pun seumur hidupnya, ia belum pernah mencoba. Bukan tak pernah mau, tapi ia belum pernah bermain-main dengan alam sebebas ini semenjak kecil.

Radit mencoba memanjat. Disentuhnya terlebih dahulu pohon itu. Diperhatikan lagi dari bawah hingga atas. Tiba-tiba Radit kaget melihat sekawanan semut hitam berlari-lari di kedua tangannya. Ia heboh menggerak-gerakkan kedua tangannya. Ia coba mengusir. Sam hanya tersenyum lucu.

Lalu Apa menghampiri mereka di kebun.

“Sam, coba tolong bantu Apa. Tanggul bocor,” kata Apa tergopoh-gopoh.

Sam menarik tangan Radit. Mereka kembali ke rumah. Tanggul air yang juga berfungsi sebagai WC rusak. Kayu penyangganya roboh karena sudah dimakan usia. Apa tak tahan berlama-lama di dalam air sehingga menyuruh Sam untuk memperbaikinya.

“Wah kebetulan, Pa. Ada tukang service tambahan,” ujar Sam sambil melirik Radit.

“Apa lu?” tandas Radit menyikut tangannya.

Apa tersenyum.

“Sudah, kamu saja sendiri, kan bisa,” kata Apa.

Sam turun ke kolam memperbaiki kayu dan tiang penyangga yang roboh. Melepas kayu yang rusak tersebut. Dicabut lalu dibuang. Lalu ia segera meruncingkan batang albasiyah yang tadi ditebasnya bersama Radit.

“Dit, ayo sini turun. Bantu aku pegangi kayunya,”

Radit berpikir panjang. Mana mungkin ia akan berenang di kolam yang juga berfungsi sebagai septic tank. Ditambah kawanan ikan sepat yang bisa saja menggigitnya. Oh, tidak! Tak terbayang sama sekali.

“Katanya bisa sendiri juga,” kata Radit yang dari tadi hanya memperhatikan Sam dari atas kolam.

Lalu Apa turun seketika membantu Sam. Ia memegangi kayu yang akan segera ditancapkan Sam. Radit merasa malu pada Apa. Ia jadi bingung, apa harus terpaksa turun atau hanya terdiam melongo memperhatikan mereka yang sedang bekerja keras. Tapi apa daya, yang ia pikirkan telah mengalahkan niat baiknya.

Radit dan Apa selesai menyelesaikan pekerjaan mereka.

“Maafin Radit, Pa. Karewna gak bisa bantu,” kata Radit pada Apa.
“Iya, gak apa-apa. Bapak juga tahu Radit belum terbiasa dengan pekerjaan seperti ini kan?’
Radit hanya tersenyum. Lain halnya dengan Sam. Sentyumnya lebih kecut. Nampaknya ia merasa kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.

“Kenapa lu? Kesel ma gue?” Tanya Radit.

“Ya, katanya mau belajar. Tapi dari kemarin setiap diberi pelajaran menolak terus. Kapan bisanya kamu,”

“Iya namanya juga proses. Tinggal menunggu waktunya aja,” kata Radit tak mau disalahkan.

***

Liburan usai. Mereka harus kembali ke Bandung. Sam harus meninggalkan kedua orangtuanya di dusun. Sedangkan Radit harus berpamitan karena entah kapan ia bisa kembali lagi dusun ini. Hutan yang telah memberikan ia banyak pelajaran. Dan, Sam adalah gurunya.

Namun sayang, dari beberapa pelajaran yang Sam berikan. Hanya beberapa saja yang dapat dilakukan Radit. Menebas pohon dan mencari kayu bakar adalah favoritnya. Ada beberapa pekerjaan yang rapornya terpaksa harus bernilai merah. Mengupas kelapa dan memberi makan ternak di antaranya. Yang lain, gagal sudah.

Sam hanya tersenyum. Bagaimana pun Radit adalah Radit. Ia bukan Sam. Ia memang hidup di kota, namun ia yakin bukan itu penyebabnya.

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Februari 2010 by in fiksi, sastra and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: