ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Untuk Ibu, Sebuah Catatan Mengenang Juang Kita

Tiba-tiba saya ingat ibu. Ibu saya yang sedang berada di rumah nun jauh dari tempat saya menggali ilmu. Biasanya, setelah magrib seperti ini, ibu sedang memegang al-Quran dan membacanya. Setelah itu, tentu banyak hal yang dilakukannya. Bercengkrama dengan ayah dan satu-satunya kakak saya.

Bagi saya, ibu adalah manusia yang paling pertama saya cintai. Bukan sekedar merujuk sebuah hadits Rasulullah Saw (riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Muslim) bahwasanya orang yang patut dicintai pertama kali adalah ibu—bahkan Rasul menyebut ibu hingga tiga kali barulah setelah itu ayah, namun juga karena selama hidup ini saya banyak merasakan kehangatan kasih ibu yang nilainya tak berhingga.

Alasan umum yang setiap anak rasakan hingga ia begitu cinta pada ibunya mungkin adalah karena ibu telah melahirkannya ke dunia ini. Siapa pun yang bertanggung jawab atas terciptanya seorang anak (bahkan ayah yang telah menanam benihnya), hukum alam tetap menyatakan ibulah yang mengeluarkan anak tersebut dari rahimnya (lihat QS. 16: 78). Dan, proses melahirkan tersebut yang membuat saya tak pernah berpikir untuk berpaling dari kasih ibu.

Mengapa? Karena beberapa hari lalu, saya sempat berada di rumah sakit tempat para ibu melahirkan. Kebetulan, selama kurang dari 24 jam saya menyaksikan berbagai kejadian yang begitu membuat hati miris. Di sana, ada seorang ibu yang mengandung bayi yang ternyata sudah tak bernyawa dalam perut. Setelah bayi berhasil dikeluarkan dari perut sang ibu melalui proses yang mengerikan dan bahkan cukup menjijikan, ibu tersebut dalam kondisi yang tidak stabil. Hanya beberapa jam, penyelamatan sang ibu pun gagal. Saya dan ibu saya sempat melihat langsung ibu tersebut dalam keadaan kritis hingga akhirnya meregang nyawa. Selain itu, ada pula seorang ibu yang begitu bahagia karena bayinya berhasil diselamatkan. Padahal, sebelumnya dokter telah memvonis bahwa hanya ada satu di antara bayi dan ibunya yang dapat diselamatkan.

Selain alasan tersebut, tentu banyak hal yang membuat saya sungguh menyayangi ibu. Perhatiannya terwujud dalam setiap helaan nafas dan tak lekang oleh masa yang terus berjalan. Setidaknya yang saya rasakan hingga saya sedewasa ini. Dulu, ibu yang mengantar saya sekolah, ibu tempat saya berkeluh kesah tanpa rasa takut, dan ibu penasihat juga pengarah jalan hidup saya.

Berjuang Bersama Ibu: Sebuah Kenangan

Saya tak mungkin katakan bahwa saya adalah anak yang berbakti. Bagaimana pun, saya rasa seluruh pertaruhan nyawa ibu dan dedikasi hidupnya untuk saya dan keluarga tak akan pernah terjual dan terbeli. Tak tergantikan dengan apa yang saya beri, materi maupun kasih sayang saya.

Namun, pernah suatu ketika saat saya duduk di bangku SMA, saya harus rela berjuang dengan ibu menghadapi suatu cobaan—entah itu ujian—dari Allah. Ibu jatuh sakit secara perlahan. Setelah dokter memvonis bahwa ibu mengidap tumor, ibu juga ditimpa Tuberkulosa (TBC). Cobaan juga menimpa ayah yang berat menerima kondisi ibu hingga suatu masalah keluarga pun terjadi dan kondisi ayah semakin labil. Tak cukup di situ, kedua kaki ibu semakin membengkak seperti menderita filaria walau di kemudian hari dokter berpendapat itu bukan penyakit kaki gajah.

Kakak saya saat itu sedang kuliah di luar kota. Dengan semangatnya dan dorongan mental yang didapatnya, ia tetap tabah walau berbagai kondisi semakin tidak kondusif akibat masalah keluarga ini, terutama masalah ekonomi. Saat itu pula saya punya seorang adik cantik (yang kini telah berada di sisi-Nya) berusia sekitar 3 tahunan. Imbas yang harus diterimanya adalah ia harus rela “dititipkan” pada bibi saya yang rumahnya berada di kota. Maka, kondisi “memaksa” saya untuk menjadi seseorang yang dewasa saat itu.

Saya harus bangun lebih awal dari shubuh. Menyiapkan nasi untuk sarapan pagi dan membereskan rumah. Apalagi dalam rentang cukup lama, pompa air di rumah saya rusak tak berfungsi hingga saya harus mengambil air di sumber air yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah. Bolak-balik sampai bak di kamar mandi terisi penuh.

Maka, tak jarang saya datang terlambat ke sekolah yang jaraknya sekitar 3 KM dari rumah. Biasanya saya baru bisa mandi sekitar pukul setengah tujuh. Menyebalkannya, pada jam itu biasanya angkutan kota tujuan sekolah saya selalu penuh karena biasanya angkutan kota ‘narik’ penumpang hingga penuh di kota, sedangkan saya kan tinggal di pertengahan. Satu kenangan manis yang tak dapat saya lupa adalah tentang guru matematika saya yang saat itu menjadi wali kelas saya. Saking bosan menegur saya yang selalu datang terlambat, beliau pernah menitikan air mata dan saya pernah dihukum agar mengikuti pelajaran sambil berdiri di bagian belakang kelas selama jam pelajarannya. Hahaha.

Saya pun tak bisa main-main seenaknya seperti teman-teman. Saya harus siap menjaga ibu di rumah sepulang sekolah. Di rumah, biasanya ibu hanya tidur. Kalau ibu hendak pergi ke kamar mandi, maka saya harus memapahnya. Hingga suatu saat timbul ide, bila ibu hendak ke kamar mandi, ibu cukup duduk di bangku kayu panjang yang saya punya. Lalu saya menarik atau mendorong bangku itu hingga ibu dan saya seperti sedang bermain mobil-mobilan. Ibu pun tertawa. Sungguh, tawa dan senyum ibu adalah penawar gundah saya. Dengan melihat ibu tertawa, saya rasanya semakin tegar dan kuat menjalani hidup saat itu.

Setiap awal bulan, saya mengantar ibu berobat ke rumah sakit khusus penyakit paru di luar kota. Beberapa kali berobat, saya mengantarnya sendiri tanpa ayah. Pernah saat itu, karena ibu tak sanggup berjalan sama sekali akibat kaki bengkaknya, kita berangkat dengan sebuah mobil pick-up kecil yang kebetulan melintas di depan rumah. Saat itu, ingin sekali saya membeli kursi roda seperti saat ibu tiba di rumah sakit. Biasanya petugas menyambut ibu sambil membawa kursi roda.

Suatu hari, hal yang berat saya terima adalah saat ibu tak berdaya sama sekali. Ibu hanya berbaring di tengah rumah. Saya undang saudara-saudara untuk datang ke rumah. Sebagian mereka menangis, mendoakan, bahkan ada yang sampai membacakan al-Quran di hadapan ibu. Saya sungguh tak bisa menerima kondisi itu, ibu memang hidup tetapi ibarat mati!

Malam-malam saya habiskan menemani ibu hingga ibu bisa menutup kedua matanya untuk istirahat. Namun, ibu selalu terjaga. Bahkan, ibu sempat berperilaku aneh seumpama ibu sedang menatap seseorang di hadapannya, di pojok kamar, atau bahkan di sudut pintu. Ibu juga sempat bergumam bahwa ia melihat seorang anak kecil yang gundul dan memakai rok. Betapa tidak, saya harus menebalkan iman dan keberanian agar bisa bersugesti positif saat itu.

Dalam keadaan apa pun, ibu selalu menemani saya, terutama dalam keadaan terpuruk.

Demikian, saya pernah jalani sebuah perjuangan yang saat itu saya rasa begitu getir. Pahit. Perjuangan yang setelah itu saya yakini sebagai perjuangan ibu, ayah, saya, dan kakak saya. Ujian dalam keluarga berputar-putar menjadi sebuah alur yang sangat rumit. Hingga, saya ingat betul pesan ayah bahwasanya tempat pengharapan terbesar yang dapat menyelamatkan kita secara nyata hanyalah Allah Swt Sang Maha Pencipta seluruh jiwa manusia. Dengan memegang al-Quran sebagai pegangan keluarga. Saya ingat betul itu! Ujian pun berangsur-angsur memulih atas kerjasama masing-masing dari kita dengan sebuah kekuatan. Kekuatan yang dibangun atas dasar cinta dan ajaran agama.

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk ibu, ibu, ibu, ayah, dan kakak saya tercinta. Juga untuk para ibu di seluruh jagat. Selamat menyambut hari ibu!)

8 comments on “Untuk Ibu, Sebuah Catatan Mengenang Juang Kita

  1. Hanif Mahaldi
    15 Februari 2012

    ceritanya mengharukan mas, ikut sedih baca kenangan diatas. tetep semangat saja ya.

  2. Eko Wardoyo
    15 Februari 2012

    Subhanallah – Kalau ada malaikat didunia ini, maka ialah IBU mu

    Semoga Allah memberkahi semua Ibu yang beriman kepada NYA. Amin Allahhumma Amin

    • elfarizi
      15 Februari 2012

      Amin amin amin,
      makasih bang Eko😀

  3. Risya
    15 Februari 2012

    Subhanallah, saya terharu baca tulisan ini sampai menitikan air mata… sesungguhnya perjuangan seorang ibu sangat mulia… semga mrka senantiasa menjadi penghuni surga.. untuk ibu mas elfa smoga selalu diberi kesehatan ya…

    • elfarizi
      15 Februari 2012

      Amn … amin … makasih Risya😀

  4. gusyaman permanan
    21 Desember 2009

    ya Allah, ya rabbi, ya Allah…
    begitulah awal lirik religius dari group Band Wali. semua yang saudaraku katakan membuat hatiku tersadar, bahwa beliaulah yang pertama diri ini menjadi orang mulia. tanpa beliau, yakni ibu dan bapak tak mungkin diri ini ada. hal ini bukan berarti kita meng-Ilahkannya, akan tetapi kedua orangtualah yang menjadi syariat lahirnya seseorang(bayi) ke dunia, kemduian tumbuh dan berkembang dengan kasih sayangnya. Pada hakikatnya Allah Swt yang Maha Rahman menghidupkan semua orang yang terlahir di dunia. so, hargailah dan hormatilah wanita dan semua calon-calon ibu. karena suatu saat mereka akan mengalami seperti pengalaman ibu memangku anaknya… thanks

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Desember 2009 by in curhat, keluarga and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: