ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Trilogi Trans Metro Bandung

Bandung begitu panas. Terik matahari melumat sekujur tubuh hingga kulit serasa lengket, mungkin lain halnya dengan para mahasiswa yang kuliah di kampus ber-AC atau mahasiswa yang datang ke kampus dipulas dengan make-up khusus anti sinar-UV. Kuusap keringat di dahi. Kuperhatikan jam, menunjukkan pukul setengah satu. Kumenengadah, mendongak pada gagahnya sang surya dan ingat siang ini aku punya satu maksud baik.

Maksud yang baik tentu harus diiringi langkah yang baik, maka kuputuskan salat zuhur terlebih dahulu di masjid Iqamah yang tak terlalu gagah. Lalu, aku melangkah ke bundaran Cibiru, tempat paling sibuk di jantung Cibiru karena aneka ragam alat transportasi berputar, berhenti, dan menyemrawutkan wajah Bandung Timur yang gersang. Untuk mengisi energi yang habis digunakan untuk berpikir di kelas dan habis terjemur matahari, aku makan di warung nasi Sunda. Kemudian, aku menyeberang ke arah pemberhentian Damri.

Kisah TMB

Di pemberhentian Damri, ada sebuah bus mini yang di luarnya bertuliskan Trans Metro Bandung. Ahaaa, aku ingat, bukankah Bandung sekarang punya TMB. Itu loh, bus way-nya Bandung. Bus way, kan, milik Jakarta walaupun aku juga belum pernah barang sekali nyicip gimana rasanya gelayutan di bus way. Bus way yang aku maksud dan mungkin dipahami banyak orang adalah bus Trans-Jakarta, transportasi massal ramah lingkungan milik DKI. Sedangkan jalurnya yang khusus dan tidak berbaur dengan kendaraan lainnya disebut bus way. Entah kenapa dan siapa yang memulai, jadi orang lebih senang menyebut “naik bus way (baca : bas wey)” yang artinya naik jalan bis. Aya-aya wae memang orang Indonesia mah.

Balik lagi ke TMB. Aku penasaran menikmati perjalanan panjang Soekarno-Hatta dengan transportasi massalnya Bandung ini. Aku menghampiri shelter TMB yang masih berupa saung pelindung hujan, gak sama dengan shelter bus way (sebut bus way saja, bukan bus trans-Jakarta). Aku lihat-lihat keadaan di dalam bis dari kejauhan. Biasa, aku agak-agak jaim karena ini kali pertama aku naik TMB dan takut ada prosedur penaikan (maksudnya menaiki) yang tidak aku ketahui. Ooo, ternyata karcis TMB harus dibeli pada petugas di shelter.

“Yang ini lewat Leuwi Panjang, Pak?” Tanyaku karena melihat TMB itu jurusan Cibiru-Cibeureum.

“Iya.”

“Berapa, Pak?”

“3.000” Petugas pun memberiku karcis berwarna kuning.

Yasudah, aku bertransaksi secara jujur dan terbuka. Aku pun melangkahkan kakiku di TMB untuk pertama kalinya. Di dalamnya, hanya tersedia kursi 2-1, artinya di kanan dua, di kiri hanya satu. Beberapa orang memegang pegangan yang di atas untuk tangan (apa istilah tepatnya, ya?). Aku pun bernasib serupa. Lalu aku melirik wanita cantik di belakang, aku tersenyum, dan ia pun membalas senyumku. Ternyata, dia adalah teman yang kukenal. Sebut saja namanya Bunga.

Karcis Mahasiswa

TMB melaju sedang di Soekarno Hatta yang padat. Aku berbincang-bincang dengan Bunga dan kawan-kawannya untuk melupakan bahwa aku sedang berdiri. Lalu aku melihat Bunga memegang karcis warna biru, aku perhatikan tertera tulisan Rp 1.500,00. Apa!!! Aku tak percaya, ada perlakuan diskriminatif di dalam TMB. Apa karena aku seorang laki-laki dan ia perempuan, maka kita harus berbeda. Ini ketidakadilan gender namanya. Aku meredakan emosi dalam hati.

Naha ning 1.500 nya? (Kenapa kok punya kamu 1.500?)” Tanyaku pada Bunga.

Enya, pan mahasiswa, pelajar (Iya, kan kita kan pelajar, mahasiswa),” katanya sambil mengklaim dirinya seorang mahasiswa. “Emang Reza sabaraha? (Emang kamu berapa?)”

“Reza mah 3.000,”

Ih, da mahasiswa mah 1.500. Eta mah kangge umum. Nyarios atuh lumayan kangge pulang pergi (Ih, kalo mahasiswa mah 1.500, kalo itu untuk umum. Bilangin aja, lumayan buat ongkos pulang pergi),” kata Bunga menasihatiku agar aku berlaku ekonomis seperti dirinya.

Aku tak terima. Ini harus diluruskan demi terciptanya kedaulatan rakyat dan persamaan hak asasi. Karena rakyat Indonesia mempunyai hak yang sama dalam perlakuan hukum.

Kondektur pun menanyakan karcis. Penumpang masing-masing mengeluarkan karcisnya. Setelah kondektur tepat di depanku, aku langsung meminta klarifikasi darinya.

“Pak, naha abi mah 3.000? Nu sanes 1.500? (Pak, kenapa karcis saya 3.000 sedang yang lain 1.500?)” Tanyaku pura-pura bego.

“Itu mah mahasiswa,” katanya dingin.

Abi ge mahasiswa,” kataku membela diri dan menegaskan kalau aku pun seorang agent of change.

Tadi meser karcisna ngangge kartu mahasiswa teu? (Tadi belinya pakai kartu mahasiswa gak?)”

Aku menggelengkan kepala.

Walhasil, kondektur memberi ceramah penutup bahwasanya barang siapa yang ingin mendapatkan karcis khusus pelajar atau mahasiswa, maka ia harus menunjukkan kartu mahasiswa saat membeli karcis.

Aku terima tapi tidak terima. Terima karena aku belum tahu prosedurnya. Tidak terima karena si petugas TMB tidak bertanya dulu padaku saat membeli karcis kalau aku mahasiswa atau umum. Apa penampilanku kurang meyakinkan sebagai seorang mahasiswa? Harusnya, petugas dengan  ikhlas bertanya pada anak muda yang penampilannya seperti mahasiswa saat ia membeli karcis TMB. Hgggh!

Shelter

Ini salter, eh, shelter ... (sumber: http://bandung.detik.com)

TMB melaju semakin menjadi-jadi. Jadi lambat, maksudnya. Shelter demi shelter pun terlalui. Tujuanku adalah sebuah loket bis antar-Sumatra yang letaknya setelah setopan Kopo. Aku pun bertanya pada Bunga.

“Kalau di Kopo ada shelter gak?”

“Apa?” Tanya Bunga. Mungkin suaraku tak jelas.

Shelter.”

“Hhhh?” Bunga masih belum dengar apa yang kutanyakan. Padahal kita sangat berdekatan.

“Pemberhentian bis.” Jawabku pakai bahasa yang lebih mudah dimengerti.

“Ooo, gak ada. Paling di Caringin,” jawabnya.

Entah apa maksud kata “Ooo” yang diucapkan Bunga. Lantas entah mengapa, setelah kusebut “pemberhentian bis” ia baru sadar dengan pertanyaanku. Mungkin atau mungkin, mungkin ia tak tahu apa arti shelter. Mungkin.

Bunga pun turun pun di shelter Leuwi Panjang. Aku masih meneruskan perjalanan hingga shelter berikutnya. Di samping Bunga masih ada tiga temannya. Mereka berincang-bincang dengan petugas TMB yang masih terlihat muda. Sesekali tawa terdengar membahana dari percakapan mereka.

“Pak, kenapa shalter (baca: ‘salter’ dengan ‘a’)-nya di Caringin, kejauhan ih …” kata gadis berjilbab 1.

“Ya, belum aja,” jawab petugas.

“Berarti bakal ada dong, Pak shalter (baca lagi: ‘salter’ dengan ‘a’) di pas Kopo?” Tanya gadis berjilbab 2.

“Ya, kalau ada yang mengajukan. Tapi kayaknya gak ada, soalnya dari Leuwi Panjang ke Caringin, kan, deket,” jawab petugas terus meladeni.

“Yahhh, Pak ajuin dong, biar kalau kuliah, kan, deket, gak usah jalan dulu ke shalter (tetap dibaca: ‘shalter’ dengan ‘a’) Caringin,” sambung gadis berjilbab 3.

“Emang rumahnya dimana?” Tanya petugas mulai bertanya hal-hal sensitif. Walhasil mereka ngobrol sesuatu yang gak penting dan gak menarik aku ceritakan di sini. Aku hanya tertarik saat ketiga gadis ber-tittle mahasiswi itu menyebut shelter dengan ‘shalter’ yang medok logat Kopo-nya. Mereka pun turun bersamaku di shalter, eh shelter Caringin.[]

NB: Sekarang (2012), aturan “menunjukkan Kartu Mahasiswa” sudah tidak berlaku🙂

21 comments on “Trilogi Trans Metro Bandung

  1. Ping-balik: Jawa | Elfarizi

  2. Johan
    13 Februari 2012

    yah udah gak berlaku ya aturan KTMnya, kalo saya sih gak ada dandanan mahasiswanya sama sekali😀

    • elfarizi
      13 Februari 2012

      tetep ada kok ongkos mahasiswa, gan … cuma gak perlu menunjukkan kartu mahasiswa😀

  3. Ely Meyer
    12 Februari 2012

    tentu saja cara berpikir kita beda El

    menurutku ada banyak faktor yang saling berkaitan dengan hal ini termasuk budaya kita, bukannya takut kalau sudah dikatakan budaya terus memberi sugesti bagi diri sendiri sih, kalau kenyataannya memang begitu khan harus diakui ya, nah kebiasaan mengakui ini kayaknya belum terbiasa pada lingkungan kita, misalnya mengakui salah, mengakui memang nggak merasa ikut memiliki jadi buat apa ikut merawat khan ada petugasnya sendiri, ini cuma misalnya lho, dan kuyakin masih ada faktor faktor lain juga , pasti kamu juga lebih tahu faktor itu dibandingakan aku, karena kamu langsung mengalaminya di sana

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      lagi-lagi …. sepakat dan sepaham😀
      Ya, Mbak El … mudah-mudaha jadi PR bersama yang bisa dituntaskan🙂

      Jadi, silakan nanti mencicip TMB-nya Bandung hehe😀

  4. Ely Meyer
    12 Februari 2012

    gitu ya … sayang sekali kalau sudah dibangun bagus bagus terus nggak terurus ya, mungkin salah satu kelemahan SDM kita itu bisa bikin tapi nggak bisa memelihara dan merawat sampai jangka waktu yg lama, sayang sekali ya

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      ya, itu sih autokritik untuk semua, termasuk untuk saya … harus dari dua belah pihaknya–pihak terkait dan masyarakat–yang harus bertanggung jawab, Mbak El🙂

      • Ely Meyer
        12 Februari 2012

        tentu dong, termasuk kita semua , sayangnya memang gampang bicara teori, prakteknya itu yg sulit, apa ini jug karena faktor budaya El ?

        • elfarizi
          12 Februari 2012

          bergantung pada orang menilai … saya dan Mbak El pasti berbeda …

          Tapi, bagi saya, semoga bukan … harapan saya sih gak membudaya. Kalau saya sebut itu budaya, khawatirnya malah memberi sugesti bagi diri sendiri, sehingga susah buat dihilangin kalau sudah budaya.

          Menurut Mbak El?😀

  5. Ely Meyer
    12 Februari 2012

    seharusnya memang nggak ada perbedaan harga karcis ya, biar nggak ada yg iri
    kalau di sini itu buat pelajar mereka langganan karcis tahunan ya, jadi masuk bisa cukup menunjukkan kartu langganan itu

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      nah, saya sih setuju pakai karcis langganan … lagian kalau Mbak El tahu, sekarang sistemnya semrawut lho .. mulai masalah karcis, shelter yang gak keurus, sama fasilitasnya yang acak-acakan hehehe😀

  6. Hany
    12 Februari 2012

    Hehey.., jadikan pengalaman aja gan., besok-besok g lagi2 dah,🙂

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      yaa … alhamdulillah itu cerita 3 tahun lalu kok … sekarang udah nggak😀

      • Hany
        12 Februari 2012

        Wuih, dah 3 tahun tapi masih ingat ya? .,pasti tersimpan dalam memori otak, ahay😀

        • elfarizi
          12 Februari 2012

          maksudnya, ini postingan 3 tahun lalu … lihat aja tanggalnya. Cuma postingannya jadi sticky post aja, jadi dipajang di depan gitu … lumayan buat berbagi cerita😀

        • wildan Dulfachri
          15 Maret 2013

          hany ewe ewe ewe ewe rumah kamu dimana cuma nomong dowang

  7. Eko Wardoyo
    12 Februari 2012

    wahahahaha – waduh jangan begitu bang masa mukanya gak keluatan mahasiswa trus apa dungg /(^.^”)?/???? – v(^o^)pisssss

    gading desa lugu ya, membayangkan nada halus dalam berbicaraaaaa *fufufufufufu

    wah berarti untuk saat ini semuanya sama rata ya /(-,-“) sayang sekali padahal bisa ngiri ngongkos

    Ooo ya satu lagi – salternya uda tambah banyak lum =)) – d(^.^”)

    keseluruhan – ceritanya bagus, bikin saya ngerasani jadi bang farizzzz v(^_^”) – piss lagi

    • elfarizi
      12 Februari 2012

      tau nih … masa iya sayanya keliatan dosen???😦
      gadis Sunda emang bicaranya halus, lembut but but🙂
      Salter, eh Shelter-nya udah lumayan banyak …

      maksudnya “gak berlaku itu”, jadi sekarang gak usah nunjukin kartu mahasiswa kalau mau karcis mahasiswa. Kalau karcis mahasiswa, tetep ada kok😀

      • Eko Wardoyo
        12 Februari 2012

        WUOOOO sudah cangih berarti ya – jadi jangan berbohong ya kalu bukan mahasiswa =)) d(^.^”)

        untuk keseluruhannya curhatnya oke bang, dah kaya kisah beneran /(^.^”)

  8. Adi
    11 Februari 2012

    He..He..He.. Numpang tersenyum aja mbaca di akhir2 tulisan mu.

    • elfarizi
      11 Februari 2012

      boleh-boleh … tersenyum gratis😀

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 November 2009 by in curhat, kampus and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: