ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Menuju Kepemimpinan Pemuda

Oleh : Reza Sukma Nugraha

regenerasi-kepemimpinan-indonesia-nu-jepara-jawa-tengah-nalumsari

Mendengar kata pemuda, tentu stigma yang muncul adalah pemuda sebagai harapan bangsa. Pemuda dengan ‘kemudaan’ jiwanya mampu melahirkan sejuta prestasi dan mewujudkan kepemimpinan yang ideal bagi kemajuan bangsa.  Sayangnya, saat ini jargon tersebut agaknya  dikacaukan dengan perilaku segelintir pemuda yang lama-lama dikhawatirkan menjadi satu penyakit bagi bangsa ini. Bahkan, hal tersebut dapat menimbulkan rasa pesimistik bagi para pemuda itu sendiri.

Kekacauan tersebut berdampak pada moral pemuda yang kian hari kian mengikis. Banyak ditemukannya kasus anarkisme, tawuran, perilaku seks bebas, dan lain sebagainya menyebabkan pelabelan negatif pada pemuda. Selain itu, minimnya—bahkan tidak adanya—teladan dari para pemimpin bangsa menyebabkan surutnya semangat pemuda untuk maju menjadi yang terdepan. Namun, hal tersebut tentu hanya sisi lain dari pemuda. Tanpa bermaksud mengenyampingkan capaian prestatif pemuda  Indonesia yang sampai saat ini masih terdengar gaung-gaung kurangnya apresiasi pemerintah.

Pemuda, meminjam istilah Kuntowijoyo, haruslah memiliki misi propetik yang terdiri dari tiga unsur: liberasi, humanisasi, dan transendensi. Liberasi berarti pemuda mengemban amanah untuk membebaskan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi, sosial, budaya, dan aspek lainnya. Di bidang ekonomi, pemuda dituntut untuk terus mengasah kreativitas hingga mampu menghasilkan solusi tepat bagi masyarakat kita hingga tercipta perekonomian yang mandiri. Selain itu, pemuda juga wajib memupuk nasionalisme hingga mampu menyaring segala jenis informasi dan menyerap kebudayaan non-Indonesia yang semakin  mudah diakses secara arif dan bijak.

Humanisasi terwujud saat pemuda mampu menanamkan rasa kemanusiaan di tengah-tengah kemajemukan bangsa Indonesia. Pemimpin berjiwa muda atau pemuda yang memimpin harus memiliki empati pada rakyat, sensitif atas permasalahan yang terjadi, dan berperilaku manusiawi. Hal tersebut sangat jarang ditemukan saat ini. Terutama, kabar hangat yang beredar saat ini bahwa pejabat negara yang belum menunjukkan kinerjanya malah terlebih dahulu menuntut kenaikan gaji. Padahal rakyat masih menjerit-jerit oleh keterpurukan ekonomi. Sungguh tidak manusiawi!

Pemuda pun harus memiliki nilai-nilai luhur dalam menjalankan kewajibannya. Kesucian niat merupakan kunci utama dalam merealisasikannya. Hal tersebut yang disebut transendensi. Seyogyanya, kebulatan tekad dalam mengabdi harus dijaga dengan kesucian hati hingga terwujud satu perbuatan yang mulia dan bermanfaat bagi sesama. Dalam hal ini,  pemuda harus siap mengerahkan idealisme melawan kondisi riil yang terjadi di negara saat ini. Bukan rahasia, banyak aktivis muda yang berjuang demi rakyat malah tergiur dengan harta dan kekuasaan saat dirayu oleh sebuah kepentingan individu atau kelompok.

Barulah ketiga unsur tersebut diperkuat dengan pemahaman agama secara kontekstual karena hal tersebut merupakan salah satu fondasi pemuda. Setelah pemahaman, dilakukan pengamalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal terakhir adalah kesanggupan untuk tidak hanya beretorika. Dengan kata lain, aktualisasi dan realisasi dari konsep yang telah dimiliki maka pemuda telah dikatakan siap memimpin bangsa. Dengan demikian, terwujud suatu pembangunan yang sukses dengan kepemimpinan pemuda yang berharkat dan bermartabat.[]

*Penulis, mantan aktivis Pers Mahasiswa SUAKA UIN Bandung.

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 November 2009 by in muda, sosial and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: