ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Senang Bicara Asing? Bisa Jadi Kelainan!

“Gak tau deh, innocent banget tuh orang. Kenal juga nggak, sok-sok say hai segala …,” kata seseorang berpenampilan ala mahasiswi dalam bus Trans Metro Bandung. “Ya udah, kalau ngenganggu, di-remove aja,” kata temannya menimpali. “Ya, nanti lah. Pokoknya, sebelum gue confirm, harus dilihat dulu, gue kenal apa nggak sama orang itu!” ujarnya lagi lebih ketus.

Percakapan sehari-hari seperti itu mungkin sudah biasa. Memakai istilah asing dalam komunikasi sehari-hari juga sudah jadi tren yang jarang dipermasalahkan. Tak sedikit orang bicara dengan mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing yang dirasa lebih populer. Namun, tak banyak yang tahu bahwa kecenderungan seperti itu merupakan sebuah kelainan bernama xenoglosofilia. Nah loh!

Xenoglosofilia merupakan suatu kelainan psikolinguistik dengan ciri-ciri apabila orang lebih senang menggunakan istilah asing secara tidak wajar. Yang dimaksud tidak wajar yaitu apabila orang Indonesia–yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Indonesia dan daerah–senang menggunakan bahasa asing dalam komunikasi yang memang tidak menuntut untuk berbicara bahasa asing.

(sumber: google image)

Banyak motivasi dan alasan orang cenderung menggunakan istilah asing tersebut. Biar terkesan lebih berkelas tinggi, lebih keren, gaul, percaya diri, dan lain sebagainya. Gejala xenoglosofilia timbul apabila penutur yang menggunakan istilah asing, namun sebenarnya istilah tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Apalagi istilah asing tersebut digunakan tidak dalam rangka memperjelas komunikasi, namun sebaliknya.

Ironisnya, gejala ketidakwajaran berbahasa ini kian hari semakin dikampanyekan oleh media, pejabat, figur publik, khususnya kaum selebritis. Dalam suatu acara gosip, seorang artis seksi yang dikabarkan akan segera menikah dengan santai menjawab, “Ya, doakan saja. Planning untuk itu memang ada. Kita sudah prepare semuanya.”

Di Jakarta, istilah asing dikampanyekan dengan adanya bus way dan halte transit yang disebut Sky Walk Paid Area (SWPA). Di DPR, calon Kapolri dan Panglima TNI harus menjalani fit and proper test sebelum dipilih. Selain itu, salah satu televisi swasta senantiasa menyajikan breaking news setiap jamnya dan dialog hangat di Todays Dialogue. Bahkan di Bandung, sebuah halte yang dibuat promosi sebuah produk air mineral diberi nama Bus Service.

Belum lagi, kemajuan teknologi ternyata ikut berperan membuat masyarakat gemar berbahasa asing yang sebetulnya masih ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Ingin kenalan, tinggal add saja akun situs jejaring sosialnya. Lagu-lagu dengan mudah dapat di-download. Punya video, foto, atau tulisan dengan cepat dapat di-upload.

Padahal, alangkah tidak sulit membiasakan diri “akrab” dengan bahasa sendiri, misalnya menambah teman di akun jejaring sosial, mengunduh lagu favorit, hingga mengunggah video sendiri. Bahkan, banyak istilah lainnya yang nampak kurang berdaya saing dengan istilah asing yang harus mulai dikampanyekan. Seperti daring (dalam jaringan) untuk online, luring (luar jaringan) untuk offline, dan tetikus untuk mouse.

Selain itu, banyak istilah yang terbiasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, padahal masih bisa dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Seperti miss-called untuk panggilan tertunda, sms alias short message service untuk pesan pendek, charge untuk mengisi (baterai telepon genggam), dan lain sebagainya.

Jadi, sudah siapkah kita mempopulerkan bahasa sendiri? Atau, mau punya kelainan xenoglosofilia?🙂

71 comments on “Senang Bicara Asing? Bisa Jadi Kelainan!

  1. Dul
    9 Mei 2016

    Banyak yang mengaku sok keren sih.

  2. Mukhlis
    28 Oktober 2015

    Udah tren..

  3. Yusuf Abdac
    25 April 2012

    Bingung aku mau komentar apa. Soalnya harus memakai bahasa Indonesia. Ya Alloh, aku tobat. Aku akan mencoba berkata-kata dengan bahasa Indonesia, dan bukan bahasa maksa. Tolong sembuhkan aku dari penyakit ini. Plissss God! -_-a #belumsembuh

  4. Ping-balik: Geje 1 « Catatan Elfarizi

  5. Muh Saif
    27 Maret 2012

    ya, tak jarang masyarakat kita khususnya pemuda tanpa terkecuali ingin dirasa berkelas dengan menggunakan bahasa tersebut secra berlebihan. ini malah menjadikan mereka kelihatan tidak wajar dalam komunikasi, terlebih dihadapan masyarakat desa dan orang asing yang masih belajar bahasa Indonesia juga tidak mengetahui bahasa Alay. Bagaimana lagi, ya kita berdoa saja agar anak cucu kita tidak termasuk dari mereka……

  6. Ping-balik: Untuk Perempuan Terindah « Catatan Elfarizi

  7. Bibi Titi Teliti
    9 Februari 2012

    waduh…
    ternyata ada juga namanya yah penyakit inih…hihihi…

    Mungkin supaya tidak tersisih dari pergaulan aja kali yah…
    *bukan aku…bukan aku…..*

    untunglah daku belum se alay ituh…hihihi..

  8. elfarizi
    8 Februari 2012

    itu sih maksa namanya hahaha😀

  9. Racoonmaccon
    8 Februari 2012

    wah wah.. kalo gitu harus heart-heart deh kalo mau pake bahasa inggris..
    hahahaha

  10. arif
    7 Februari 2012

    hehehe…sentilan yg menyakitkan. Namun saya setuju, ketidakbanggaan dengan bahasa sendiri adalah tanda ia kehilangan budayanya sendiri (mungkin termasuk adab, sekarang adab ketimuran sudah mulai ditinggalkan)

    • elfarizi
      8 Februari 2012

      padahal kalau budaya kita tidak kalah populer dengan busaya asing yang masuk, bahasa Indonesia bisa jadi bahasa internasional loh🙂

      • arif
        8 Februari 2012

        Sayangnya kita tidak sebanding dalam hal jajahan dengan Inggris, kita juga kalah dalam hal ekonomi dengan orang-orang Mandarin.

  11. Allisa Yustica Krones
    3 Februari 2012

    Hahaha…aku juga kena deh! Aku juga sering pake istilah asing, tapi bukan buat keren-kerenan sih, cuma karena lebih terbiasa aja pake istilah itu😀

    Kalo untuk istilah terkait IT, jujur aku tetep lebih nyaman pake bahasa inggris, soalnya kalo pake bahasa indonesia malah bikin bingung dan gak nyaman pakenya, contohnya mouse dibilang tetikus…aiiihh…aneehh…hahaha…

    Tulisannya bagus lho, thanks ya ->nah kan, pake istilah asing lagi:mrgreen:

    • elfarizi
      8 Februari 2012

      hehe … memang pasti aneh mbak kalau pertama dengar😀
      ure welcome <– nah loh!😀

  12. Firmansyah SW
    2 Februari 2012

    Masya Allah mas Elfarizi…sumpahh bikin ngakak sekaligus merasa tersindir nich..huiahahahhahahaha

    • elfarizi
      8 Februari 2012

      sebetulnya, saya sedang menyindir diri sendiri kok😀

  13. Ilham
    2 Februari 2012

    aku sih juga setuju bahwa sebaiknya kita membiasakan diri untuk menggunakan bahasa/istilah lokal. tapi walau ada padanannya dalam bahasa indonesia, seringkali bahasa/istilah asing lebih mudah dikenali dan dipahami. misalnya orang mungkin belum terbiasa bilang, “unduh game angry birds dulu ah…” atau “maap ya, tadi koneksi internet lagi jeblok, jadi lama deh mengunggah berkasnya..”😆 lagian kan disebutin diatas kalo seseorang menggunakan istilah asing terlalu sering dan nggak wajar. kalo masih wajar mungkin bukan gejala xenoglosofilia. jadi yah, yang sedang2 sajalah… *joget menghentak2kan pinggul*

    • elfarizi
      8 Februari 2012

      yap … kalau “wajar” (isitilah wajar juga masih bisa diperdebatkan hehe) itu bukan kelainan ini🙂

      Mari joget
      *di mana, di mana, di mana*😆

  14. iklan baris bagus
    2 Februari 2012

    nice banget gitu loh bro. masih sigh kalo senang bicara asing ada disorder? he he he, bukankah terlihat lebih clever dan brilian bro😀

    *ngakak*

    • elfarizi
      8 Februari 2012

      yang penting itu sikon sih, bang … kan gak enak juga kalau ngomong campur Inggris sama tukang gorengan😀

  15. Asop
    2 Februari 2012

    Huahaha, itu foto plang servis dahsyat amat.😆

    Oh ya, itu sumber gambar harus lengkap lho, gak bisa cuma “google images” aja.😯

    • elfarizi
      8 Februari 2012

      Oke, makasih koreksinya, kang … yang ini kepalang lupa hehe😀
      selanjutnya insya Allah🙂

  16. Ping-balik: Mau Curhat dan Kasih Surprise, Nih … « Catatan Elfarizi

  17. Idah Ceris
    1 Februari 2012

    emmm. . .
    bener juga tuh kak. . .apalagi ditambah bahasa alay. . .alaymaaaaak?😀

    tapi mungkinn untuk mempertahankan ke eksisan kali ya kak?😀

    • elfarizi
      1 Februari 2012

      ya, salah satu motivasinya untuk eksistensi diri … tapi eksistensi itu kadang justru membuat orang di sekitarnya tidak nyaman😀

  18. raden ikhwan
    1 Februari 2012

    kadang emang bikin senewen kalo ada orang sok2an bahasa asing eh…tau2 bahasanya kalo masuk telinga kita jadi jelek… widih super senewen

    • elfarizi
      1 Februari 2012

      yaaa, intinya jangan memaksakan kehendak😀

  19. Citra Taslim
    1 Februari 2012

    wah,,,sepertiny saya termasuk nih. seringkali ketika berbicara atau membuat tulisan saya memasukkan istilah asing.🙂
    tapi kalau konteksnya membahas alat2 yang dipakai dalam industri kimia banyakan dalam istilah bahasa inggris bahkan untuk prosesnya banyakan lebih mudah dipahami dalam istilah asing (bawaan kebiasaan kali ya).

    • elfarizi
      1 Februari 2012

      Kalau bertujuan menjelaskan atau membantu menjelaskan istilah yang sulit, justru tidak apa-apa. Apalagi istilah teknis keilmuan tertentu kadang memang lebih banyak dalam bahasa asing, seperti kedokteran, dll, termasuk industri kimia🙂

  20. Gandi R. Fauzi
    31 Januari 2012

    Hahahaha,, lucu “kesalahannya”,😆
    Memang ada beberapa istilah yang HANYA pas dalam bahasa asing, tapi ada juga yang sewajarnya khas nusantara…

    • elfarizi
      1 Februari 2012

      Ya, sebetulnya gimana situasi kondisi hehe😀

  21. dhenok habibie
    31 Januari 2012

    Daring, luring, tetikus, hahahahaha dhe coba mengucapkn yo kok susah yaa el, agak kaku aja.. hmm, semiga dhe gk ada kelainn deh.. : D

    • elfarizi
      1 Februari 2012

      hehe, kaku itu wajar karena belum terbiasa … minimal jadi tahu sekarang😀

  22. anestheaberbagiilmu
    31 Januari 2012

    Berkaca pada pengalaman kakak kelas yang dulu pernah bekerja di TRANS Corp. beliaupernah mengungkapkan pengalamannya ketika mempresentasikan programnya di depan atasan dan tamu Asing

    beliau mempresentasikan program yang bahasanya bercampur dengan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,…Apa kata tamu Asing tadi? katanya; ” berbahasa dengan mencampurkan 2 bahasa itu sungguh tidak pantas sekali di ucapkan di negara amerika!!”

    Di negara ADIDAYA itu pun sudah tidak layak untuk di ucapkan, apalagi di Indonesia🙂

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      Yo, mari kampanyekan bahasa Indonesia agar tidak kalah saing😀

  23. zilko
    31 Januari 2012

    ya, fenomena yang memang nyata, hmmmm…

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      yappp, mending sekalian ngomong bahasa Inggris deh sama mas Zilko hehe😀

  24. Aulia
    31 Januari 2012

    xenoglosofilia kalau diistilah awam apa ya kira-kira?😀
    saya juga dulu pernah mengangkat tentang Bahasa Indonesia di Mata Indonesia tapi itu dulu dan sekarang hampir diberbagai jejaring sosial tetap belajar menulis dgn baik dan benar🙂

    salah satu negara yang masih setia dengan bahasanya ya China😆

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      kalau padanannya di Indonesia, saya belum tahu dan belum ada istilah yang pas yang mudah dipahami (tampaknya)🙂

  25. susu segar
    30 Januari 2012

    wah aku kok susah yak belajar b.inggris. . . . hhhheeehhhhmmmmm…

  26. Tina Latief
    30 Januari 2012

    hehehhehehe kalau semua inggris dan ngomong ke orang yang tepat mungkin baru pas…
    ah saya engga comfort…saya collapse saja deh,,,hahahaha

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      itu dia, kalau dalam situasi “wajar” tidak disebut kelainan, Mbak TIna hehe😀

  27. tiara
    30 Januari 2012

    tapi emang iya , saya kalau fb atau hape aja , pakai setting bahasa , saya bingung , mending pake english😦

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      kalau untuk belajar dan pembiasaan (praktik) bagus, Tiara🙂
      kelainan psikolinguistik ini justru kalau bahasa asing digunakan secara “tidak wajar” hehe😀

  28. arip
    30 Januari 2012

    Ya bener yg paling berpengaruh sih karena media, sehingga masyarakat jadi ikut latah.
    kalau belum ada padanan kata Indonesianya, baru deh boleh dipake tuh kata asing. 😀

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      ya, idealnya memang begitu mas arip,
      setuju😀

  29. Ely Meyer
    30 Januari 2012

    wadow kesindir nih .. aku juga sering bilang thanks😀

    ngakak aku lihat foto pertama … no learning no day ?😀😀

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      hehe, ure welcome <– nahloh!😀
      sama aja, mbak, saya juga😀

  30. .:: setiaONEbudhi ::.
    30 Januari 2012

    muahahahha..
    susah juga sih bro kalo udah jadi habbit <– baru aja di omongin, eh nih pake bahasa luar lagi.. T_T
    hahahahahha

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      haha, iya iya semoga bisa diminimalkan, thanx <– Nahloh!🙂

    • elfarizi
      31 Januari 2012

      maksudnya banyak kelainan??? hehe😀
      Oke, gan meluncur ke TKP🙂

  31. zalzzz
    30 Januari 2012

    Ya,,kita mesti sama sama improve diri(lho?)🙂

    • elfarizi
      30 Januari 2012

      hehe, sama-sama intropeksi yaa😀

  32. anislotus
    30 Januari 2012

    tapi kalo digunakan untuk mengembangkan bahasa boleh juga kan…
    um… bahasa kan perlu berkembang…. menurutq sih. hehe

    • elfarizi
      30 Januari 2012

      ya, yang perlu digarisbawahi adalah penggunaan bahasa asing yang tidak wajar, yaitu jika bahasanya dicampuradukkan dalam satu komunikasi. Parahnya, jika bahasa asing itu malah mengganggu, bukan lebih membuat paham. Kalau praktik bahasa asing itu justru baik, Anis …

      Tapi, saya juga masih sulit kok buat terlepas dari gejala ini😀

  33. Falzart Plain
    30 Januari 2012

    Kalau menurut saya sih, kita pakai bahasa yang sering dipakai orang saja supaya orangnya lebih mengerti. Ini kan lebih kepada tujuan komunikasi itu. Mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar itu yang serapan dari istilah asing pasti bakalan lebih sulit karena peranan media cetak dan elektronik untuk mempopulerkan bahasa kita ini tidak begitu efektif. Kenapa begitu? Ya, bukannya contohnya sudah dipaparkan di postingan ini..🙂
    Anyway, nice posting! (Aduh, ini xenoglossofilia juga, ya?)

    • elfarizi
      30 Januari 2012

      Kalau media cetak sudah mulai memomulerkan bahasa Indonesia yang masih belum dikenal, seperti daring, luring, tetikus, surel, dan lain-lain.

      Saya saja masih sulit kok buat terlepas dari gejala ini. Is it right?😀

      • Falzart Plain
        1 Februari 2012

        right itu kanan, ya? Hehehe…
        Yang ada malah bahasa Indonesia serapan itu malah jadi lebih ‘asing’ dari bahasa originalnya…

  34. deyra
    30 Januari 2012

    Waaah… :O iya ta itu termasuk kelainan??? Saya termasuk juga gag ya??? >.<
    Makasih infonya… ^_^

    • elfarizi
      30 Januari 2012

      Tenang … tenang, yang penting bukan kelainan mental hehehe😀
      Sama-sama🙂

  35. Eko Wardoyo
    29 Januari 2012

    Iya yah , gak sadar akan hal itu ^.^”

    Wah Mesti Promosi Bahasa yang baik dan benar untuk cinta Produk Sendiri Nich

    Tapi Bang saya suka juga sama bahasa korea walaupun gak bisa :))
    mudah mudahan gak punya kelainan

    *Selamat Malam Bang d(^0^) nice share

    • Eko Wardoyo
      29 Januari 2012

      ehhh salahhhhh

      Informasinya Bagus Bang *biargakdikirapunyakelainan:))

    • elfarizi
      30 Januari 2012

      Iya, nih, Bang Eko. Saya sendiri saja masih suka terjebak pada kondisi ini. Buktinya di akhir komentar, saya suka bilang ‘Thanx” hehehe😆

      You are welcome (nah, loh!)😀

  36. Rio
    29 Januari 2012

    Menurut saya ada keuntungan di balik kampanye istilah asing,,
    Jika istilah asing itu adalah bahasa internasional, maka secara tidak langsung melatih masyarakat yg tdk tau mnjdi tau dan memahami apa artinya,
    tapi sayangnya jika istilah itu tidak betul pengucapan atau penulisanya,,, maka bisa nyimpang pemahamanya hehe,,,

    • elfarizi
      30 Januari 2012

      Saya sepakat kalau untuk menyosialisasi istilah asing agar masyarakat lebih populer dengan bahasa internasional. Yang perlu digarisbawahi dari xenoglosofilia adalah jika istilah asing digunakan secara “tidak wajar”, artinya digunakan oleh penutur yang lingkungannya tidak menuntut ia untuk bicara asing, akan tetapi dia malah senang menggunakannya🙂

      Seperti orang Bandung asli yang sedang bicara dengan teman sekelasnya yang sama-sama dari Bandung. “Eh, waktunya lunch ni, kita eating yu!” hehehe🙂

      Terima kasih, Mas😀

  37. yisha
    29 Januari 2012

    keren… post keren…
    ehm, aku punya kelainan ini ngga ya? 😥

    • elfarizi
      30 Januari 2012

      Hehe … kena gak, ya?
      Sebetulnya, kelainan ini jika kita menggunakan istilah asing secara tidak wajar. Artinya, kalau tidak membantu komunikasi atau malah memperumit, lebih baik hindari saja istilah asingnya.

      Misalnya, “Ih, aku confusing banget, sih!” Nah, loh!😆

      • yisha
        30 Januari 2012

        hahhahahah yayayyayaya hahhahahahah

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29 Agustus 2009 by in bahasa and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: