ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Di PDAM

air2Pagi tadi, saya hendak membayar tagihan air di PDAM. Setibanya di sana. lobi kantor tampak sepi. Loket-loket kosong melompong. Itu tandanya, saya tak perlu mengantre seperti biasanya awal bulan. Dapat dipastikan, waktu transaksi kali ini tak lebih dari satu menit. Syukurlah.

Saya berdiri di depan lima loket yang lengang. Di antara lima, hanya ada dua loket yang petugasnya stand-by. Dua-duanya berkerudung. Ya, semenjak Perda Syariat diberlakukan di daerah saya, pegawai di berbagai instansi wajib hukumnya menggunakan busana (hanya busana?) yang sesuai syariat. Kebetulan, busana bagi wanita dalam persepsi si mpunya kebijakan adalah busana muslim lengkap dengan kerudung yang menutupi menutupi rambut.

Kembali ke loket. Saya bertransaksi (legal tentunya!) di loket 2. Saya menyerahkan bukti pembayaran sebelumnya. Si ibu yang mengenakan seragam biru muda itu dengan nada tegas berkata, “Dua bulan ya, 63.000.” Saya mengeluarkan dua lembar uang berwarna sama dengan seragam ibu itu. Kembalian pun dikembalikan. Saya senyum manis mengakhiri pertemuan dengannya. Tapi wajahnya tetap saja datar. Tiis.  Saya lantas duduk dan menghitung kembaliannya, hitung-hitung langkah preventif. Takut kurang!  Kalau kurang, saya siap akan melakukan gugatan karena ia lalai dalam menjalankan tugas.

Asyik menghitung kembalian, seorang ibu muda menggendong anaknya yang masih kecil. Ia berdiri di loket 4. Ia melakukan hal sama seperti saya. Lalu petugas di hadapannya bilang, “65.000!” Ibu muda (sepertinya) spontan bertanya terkejut,”65.000?” Namun, wanita paruh baya di depannya tak menggubrisnya. Matanya tertuju ke televisi. Ibu muda tetap diam. Saya lihat wajahnya tampak bingung.

“Naha meuni awis, Bu? (Kenapa kok mahal, Bu?)”

Si ibu yang ditanya diam tak bergeming. Matanya asyik melihat video klip penyanyi yang wajahnya konon kata orang agak-agak mirip saya gitu.

“Duh, meureun kurang,” gumamnya sendiri entah pada siapa. Saya lihat wajahnya seperti tak berdaya.

“Ibu, da mung sasasih. Biasana ge 28 rebu (Ibu, kan cuma satu bulan. Biasanya juga cuma 28.000) ,” katanya terus pada wanita yang dari tadi tak menggubrisnya.

“Tiasa teu 28.000 rebueun? (Biasa gak cuma 28.00-eun?),” tanyanya lagi.

Saya agak lucu mendengarnya. Memangnya bawang merah, bisa ditawar, gumam saya dalam hati. Husss! Malaikat dalam hati saya langsung menegur saya. Tak baik berkata demikian, Reza.

“Duh, De. Acisna kirang (Aduh, Nak. Uangnya kurang),” lirihnya pada anak yang digendongnya.

Si ibu petugas yang tak muda lagi tetap tak menggubris ucapan ibu muda itu. Grrrrr, rasanya saya jadi gereget pengen apa gitu. Lihat tingkah pegawai yang super angkuh seperti itu. Seseorang di belakang ibu muda itu menyerahkan struk hendak membayar tagihan air juga. Si ibu pegawai itu pun langsung melayani. Matanya tak sedikit pun melirik ibu muda yang berkeluh kesah itu.

Ibu muda pun pergi berlalu dan tak jadi membayar.

Huh, saya menghela nafas.

Di loket 2 tempat saya membayar tadi, seorang pemuda juga sedang bertransaksi. “150.000,” kata petugas yang tadi juga melayani saya.

“150.000?” tanyanya retoris. Ia juga terkejut.

Petugas di depannya pun diam.

“Naha 150.000, Bu? (Kenapa 150.000, Bu?),” tanyanya. Ia menyerahkan uang 200.000.

Si ibu yang tadi menolak senyuman saya, tak menjawab pertanyaan pemuda itu. Mungkin tak terdengar, mungkin! Si ibu mengembalikan kembaliannya.

“Nahanya, Bu? Da, caina sering saat da di mesjid na ge (Kenapa ya, Bu? Airnya juga sering kosong di mesjid,” tanyanya lagi penasaran.

Saya jadi kesal. Kesal pada pemuda itu. Sudah tau si ibu sedang tak mau banyak ngomong eh malah diganggu.

Pemuda itu pulang tanpa jawaban. Si ibu tega menggantung pertanyaan pemuda itu. Saya turut pulang.

“Aneh, di rumah saya tak  pernah ada kata surut untuk air. Dua bulan menunggak, bayarannya pun segitu-gitu juga.”

One comment on “Di PDAM

  1. Ping-balik: Wawancara Seputar Blog | Elfarizi

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Agustus 2009 by in sosial and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: