ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Mengingat Kembali Fungsi Papajar

Oleh: Reza S. Nugraha

Bulan puasahanya tinggal beberapa hari lagi. Bagi masyarakat Cianjur, kebahagian menyambut Ramadhan belum lengkap tanpa papajar. Papajar adalah tradisi bepergian ke suatu tempat, seperti tempat rekreasi, bersama sanak saudara atau kawan-kawan. Di tempat tersebut biasanya keluarga yang sedang papajar akan makan bersama atau mayor. Papajar biasa dilakukan setelah memasuki bulan Syaban atau beberapa hari menjelang munggah, hari pertama puasa.

Dalam beberapa sumber, tidak diketahui pasti kapan pertama kali masyarakat Cianjur melakukan papajar. Menurut cerita sepuh, papajar memang sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun silam, walaupun ada juga yang menyatakan papajar baru muncul sekitar tahun 80-an.

Tradisi papajar bermula saat masyarakat belum mengenal teknologi mutakhir seperti saat ini. Saat itu, masyarakat Cianjur belum dapat mengetahui permulaaan hari pertama bulan Ramadhan. Masyarakat yang umumnya berasal dari lembur di sekitar Cianjur berbondong-bondong ke mesjid agung yang tepat berada di alun-alun Cianjur. Para tua muda, pria wanita, berkumpul di mesjid untuk mendapatkan kabar dari sang tamir mengenai waktu munggah. Sesampainya mereka di mesjid, mereka berdzikir, bershalawat, dan memanjatkan doa-doa.

Tak hanya menunggu, para pencari kepastian itu ternyata telah menyiapkan perbekalan berupa nasi dan lauk-pauk dari rumah masing-masing. Sembari menunggu keputusan tamir mesjid, mereka saling berbaur dan makan bersama atau mayor. Dalam mesjid itu pula, masyarakat Cianjur dari berbagai pelosok bersosialisasi dan meneguhkan diri sebagai pituin urang Cianjur. Kegiatan menunggu pajar di hari pertama Ramadhan diduga merupakan asal muasal istilah papajar.

Berdasarkan asal mulanya, setidaknya ada tiga fungsi papajar. Pertama, sebagai ajang sosialisasi atau silaturahim antarwarga. Masyarakat tak hanya bersilaturahim dengan keluarga saja namun dengan warga lainnya, bahkan warga yang datang jauh-jauh dari setiap pelosok pun dipertemukan dengan papajar. Maka dari itu, papajar dapat merekatkan persaudaraan masing-masing individu. Kedua, sebagai wujud sunnah. Bahwa menyambut Ramadhan dengan perasaan bahagia adalah sunnah dapat terwujud dengan papajar. Dalam hal ini, papajar adalah ajang bersukacita menyambut ramadhan secara berjamaah. Ketiga, sebagai identitas budaya. Papajar diyakini hanya milik masyarakat Cianjur, maka masyarakat yang melakukan papajar adalah masyarakat Cianjur yang secara tegas memelihara warisan budaya para orang terdahulu. Papajar merupakan ciri masyarakat Cianjur yang peka dengan lingkungan sosial dan berjiwa kekeluargaan tinggi.

Seiring bergantinya zaman, masyarakat tak lagi perlu menunggu kepastian waktu munggah dari mesjid agung. Saat ini, tak lagi ditemukan tradisi berkumpul-kumpul di mesjid agung sambil melepas suka cita bersama para tetangga seantero Cianjur. Namun, tradisi papajar masih lekat dalam kehidupan masyarakat walau dalam bentuk yang cukup berbeda. Kini, papajar biasa dilakukan di tempat-tempat rekreasi atau di rumah seorang keluarga. Papajar dilakukan oleh keluarga besar, keluarga kecil, teman satu sekolah, atau rekan-rekan satu pekerjaan di kantor sebagai ajang refreshing. Inti papajar beralih menjadi sarana pelepas penat dengan mayor sebagai ciri utamanya.

Tak hanya itu, fungsi papajar itu sendiri mulai mengalami pergeseran ke arah yang tidak lebih baik. Tak jarang, orang melakukan papajar hanya untuk memuaskan kebutuhan perut semata dengan dalih memuaskan perut sebelum semua serba dilarang saat puasa nanti. Selain itu, terkadang orang abai terhadap nilai-nilai sosial yang terkandung dari asal papajar itu sendiri. Misalnya, minimnya kepedulian sosial yang dibangun karena papajar menjadi semacam hajatan keluarga semata dan ajang senang-senang belaka. Bahkan, sangat dikhawatirkan, nilai-nilai sunnah papajar pupus dengan hal yang dapat menguranginya.

Maka, tradisi papajar harus senantiasa dipelihara dengan menyadari fungsi-fungsinya yang sarat nilai sosial budaya. Di era modern seperti ini, papajar yang kehilangan tujuan asalnya dapat dilakukan dengan perubahan-perubahan yang tak menanggalkan fungsi utamanya.[]

3 comments on “Mengingat Kembali Fungsi Papajar

  1. Ping-balik: Papajar | Elfarizi

  2. thesaninten
    24 Juli 2011

    Halo. Ijin untuk mensitir tulisannya di blog saya ya. makasih

    • elfarizi
      25 Juli 2011

      Ya, silakan, semoga bermanfaat🙂

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Agustus 2009 by in budaya and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: