ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Antara Bubur Ayam Bandung dan Cianjur

buburAda satu hal yang membuat saya tidak betah pertama kali tinggal di Bandung. Lantas saya jadi selalu ingin pulang ke rumah di Cianjur. Dan, alasannya hanya karena makanan untuk sarapan. Saya tidak mendapati makanan favorit saya di Bandung. Makanan itu adalah bubur ayam.

Orang Bandung tentu tak terima kalau Bandung dibilang tak punya tukang bubur ayam. Bubur ayam tersebar di mana-mana. Di pinggir jalan, di kantin kampus, dekat kosan, hingga kafe yang lebih elit. Dijual pagi hingga malam. Tapi sayang, bubur ayam Bandung tidak seperti bubur ayam yang selama ini saya kenali.

Pada dasarnya, sebetulnya bubur ayam Bandung dengan bubur ayam Cianjur itu sama. Sama-sama dari beras, sama-sama lebih banyak dijual pagi hari untuk sarapan, dan beberapa komponen pelengkapnya pun sama. Ada kerupuk, ada kacang kedelai, ada bawang, dan tentu diwadahi sebuah mangkuk atau piring. Dimakannya pun menggunakan sendok, tidak dengan garpu atau bahkan langsung dengan tangan. Jadi, sebetulnya hampir sama!

Lantas, apa yang beda?

Perbedaan pada rasa dan tampilannya. Rasa pada bubur ayam Cianjur lebih gurih dengan kecap asin dan sayur kuningnya. Sayur itu biasanya dicampur dengan ati ayam dan ampela. Terkadang, sayur kuning tersebut hanya dibuat dari campuran daun bawang dengan bahan-bahan lainnya. Sehingga, bubur ayam Cianjur tampil mentereng dengan warna kuningnya! Bubur ayam Cianjur yang lengkap biasanya dibubuhi potongan usus dan keroket (gorengan seperti risol).

Berbeda dengan bubur ayam Bandung. Di Bandung, bubur ayam terlihat lebih gelap. Warnanya hitam karena kecap manis yang rupanya agak wajib dibubuhi pada bubur. Lagi pula, saya belum pernah lihat sayur kuning yang biasanya ada pada bubur Cianjur. Memang di beberapa tempat ada yang melengkapinya dengan potongan usus, ati ayam, dan cakue. Hanya saja, pada kebanyakan tempat, seperti warung emperan atau pedagang keliling, bubur Bandung tampil secara sederhana dengan campuran sejenis minyak (entah minyak apa) dan kecap manis. Jadilah bubur yang hitam dan manis.

Sebetulnya, komponen pelengkap seperti potongan usus dan ati ayam plus ampela, baik di Cianjur dan Bandung, hanya ditemui di beberapa tempat. Di Bandung, kita mendapatinya di beberapa tempat seperti warung bubur yang lebih besar atau kafe yang lebih elit. Tapi di Cianjur, pelengkap itu relatif lebih “tidak aneh” seperti di Bandung. Kita mudah menemukannya di mana saja. Paling, pelengkap yang agak jarang ditemukan di Cianjur, yaitu cakue.

Mengenai penggunaan kecap, baik bubur Cianjur atau Bandung, tentu itu sesuai selera konsumen. Hanya saja, di Cianjur, peran kecap tidak “sewajib” bubur ayam Bandung. Di Cianjur, kecap manis tidak diikutsertakan dalam bubur standar yang dibuat penjualnya. Kalau kita meminta, biasanya disediakan. Bahkan di tempat-tempat biasa dan sederhana tidak disediakan kecap manis. Lain halnya dengan bubur ayam Bandung. Kecap manis nampaknya menjadi standar penyajian. Baru, kalau kita meminta untuk tidak dibubuhi kecap manis, maka penjual akan memenuhinya.

Tapi, saya bayangkan, bubur ayam Bandung tanpa kecap hasilnya jadi putih biasa dan malah tak berasa. Kecuali bubur ayam Cianjur yang rasanya gurih karena dibubuhi sayur kuning.

Jadi, karena saya tinggal di Cianjur jauh lebih lama dari pada tinggal di Bandung, maka lidah pun masih belum menerima rasa bubur ayam Bandung. Sayang, padahal bubur ayam adalah makanan favorit saya untuk sarapan kalau ada di Cianjur. Bagaimana dengan bubur ayam di tempat lain? Saya tunggu masukannya.

7 comments on “Antara Bubur Ayam Bandung dan Cianjur

  1. Ping-balik: Waspadalah, Para Tukang Pulsa! | Elfarizi

  2. Ping-balik: Nulis PR Aja « Catatan Elfarizi

  3. deni
    16 November 2011

    ciri bubur ayam yang enak adalah sebelum bubur ayam itu dibubuhi apa pun buburnya saja sudah enak ,gurih di bandung macam gini memang masih jarang tapi saya pernah menemukannya meski jarang di dekat rmh saya ada 3 yg masuk kriteria buburnya enak sebelum dibubuhi apa pun,dan di antara 3 ini ada 1 yg paling enak sampai jilatan terakhir,rasanya lezat banget tuntas di lidah gak nanggug,sepereti kebanyakan.resepnya dibeli kantin di dalam PT.DI seharga 1,5 jt.

    • elfarizi
      24 November 2011

      Wah wah, saya jadi ngiler nih Mas Deni. Kalau bisa, silakan kasih referensi pengalamannya di mana tempatnya mungkin bisa saya coba hehe. Thnaks dah berkunjung.

  4. elfarizi
    19 Juni 2009

    wah dengan senang hati… tulisan tentang naon? kangge media naon yuh???

  5. Miko
    18 Juni 2009

    hoyong nyuhunkeun tulisan kanggo SUAKA. kinten2 tiasa teu???

  6. David
    18 Juni 2009

    Salam kenal kawan. Artikel disini juga bagus-bagus

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Juni 2009 by in Jalan-jalan, kuliner and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: