ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Kalau Saja Ulama Jadi Haramkan Facebook

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kabar yang cukup mengagetkan. Berita tersebut saya dapat di salah satu portal berita online. Di beberapa mailing list pun, kabar tersebut heboh dibicarakan. Bahkan di facebook, ada semacam diskusi yang mendebatkan catatan salah seorang teman mengenai kabar tersebut. Kabar tersebut adalah ulama se-Jawa Madura mengharamkan facebook.

Sebetulnya saya tidak kaget dengan berita pengharaman tersebut. Lantas saya terancam tidak dapat facebooking karena akan diganjar dosa. Sedang dosa adalah tiket masuk neraka. Wah, alangkah repotnya saya jika harus menimbang dosa-dosa seperti itu. Rasa kaget itu melainkan karena saya tak habis pikir dengan ulama yang demikian gemar mengharamkan sesuatu yang sedang tren di tengah masyarakat.

Masih segar dalam benak, fatwa haram MUI terhadap aksi golput pada Pemilu. Padahal golput adalah tren masyarakat saat ini. Saat masyarakat tak lagi punya kepercayaan diri untuk memberikan kepercayaan pada para politisi. Saat itu pula, tidak memilih menjadi alternatif. Hingga merebak gerakan golput dan aksi-aksi boikot Pemilu lainnya. Jadi, MUI harusnya lebih cerdas memilah pekerjaan-pekerjaan yang dapat dicap haram.

Kalau saja para ulama pemfatwa merasa punya beban moral untuk menebarkan kebaikan, mengapa tidak mengimbau masyarakat saja agar tidak golput, karena golput itu tidak baik menurut mereka. Bukan dengan cara memberi label haram yang dengan mudah diumbar pada siapa saja.

Demikian pula dengan isu facebook ini. Adalah ulama NU yang tergabung dalam bahtsul masail yang mengadakan kajian mengenai facebook ini. Saat ditemukannya beberapa penyalahgunaan facebook, seperti pertemanan yang mengarah pada kedekatan dan transaksi seksual. Entah dari mana data tersebut, namun saya pernah menemukan kasus tersebut pada situs jaringan sosial friendster yang lebih dulu boooming.

Kasus pada friendster tersebut diketahui karena friendster lebih terbuka untuk semua pengguna, yang memungkinkan pengguna melihat profil orang lain tanpa harus menjadi teman. Sebaliknya, akibat privatnya ruang facebook, saya belum pernah melihat profil orang yang memang belum menjadi teman saya. Sehingga, saya tak tahu mengenai kasus tersebut. Entahlah, mengapa para ulama tersebut tahu ada jaringan transaksi seksual seperti itu. Silakan pikirkan sendiri!

Setelah mendengar isu ini mulai hangat diperbincangkan, saya sangat khawatir jangan-jangan ulama, termasuk MUI semakin tidak apresiatif di mata masyarakat. Setelah beberapa fatwa dadakan menuai kontroversi, masyarakat tak lagi menilai ulama sebagai pemegang peranan penting dalam mengelola setiap tindak tanduk urusan keagamaan.

Saya juga sangat prihatin kalau saja Facebook (saat itu) jadi diharamkan. Prihatin pada masyarakat yang masih menjunjung tinggi otoritas ulama (seperti kaum nahdhiyin) yang mungkin saja langsung menilai teknologi semacam internet membahayakan karena memuat banyak sesuatu yang haram. Prihatin pula pada ulama yang membuat fatwa tersebut karena mereka rupanya tidak dapat menemukan sisi baik dari pemanfaatan internet termasuk facebook. Padahal banyak sekali grup-grup diskusi dan komunitas yang bagus, bahkan ada yang menjadikan facebook sebagai media pembelajaran, pelatihan, atau kursus satu bidang keahlian.

Jangan-jangan (lagi) para ulama tersebut belum memiliki akun facebook dan karena hanya mendengar keluhan dari masyarakat, mereka langsung menilai facebook itu berbahaya. Saya jadi ingat kasus film “Wanita Berkalung Sorban”-nya Mas Hanung. Salah seorang ulama dan pimpinan mesjid besar berani bilang di media kalau film itu bahaya dan menyesatkan, namun ia sendiri belum pernah menontonnya. Bahkan dengan arogannya, ia katakan tidak akan menontonnya. Apa jadi kalau semua pemfatwa seperti itu? Membuat hukum berdasarkan keluhan semata tanpa melihat realitasnya secara langsung.

Namun, untungnya kemarin saya dengar bahwa pengharaman facebook itu ditekankan pada penyalahgunannya saja. Seperti penyalahgunaan untuk kepentingan maksiat dan kedekatan pertemanan yang mengarah kepada zina.

Lagi-lagi saya heran. Apakah perilaku yang disebut penyalahgunaan itu memang baru disebut haram saat ini? Haram dan tidak boleh dilakukan. Rasanya, saya pikir masyarakat Indonesia, termasuk kaum muslim, tahu benar akan batasan-batasan haram penggunaan teknologi seperti internet. Entah pula, klarifikasi mengenai pengharaman itu adalah benar-benar klarifikasi atau ralat pernyataan sebelumnya. Kalau memang cuma sekedar klarifikasi bahwa yang disebut haram adalah penyalahgunaannya, saya kira masyarakat sudah tahu. Jadi fatwa itu hanya hiperbola semata.

7 comments on “Kalau Saja Ulama Jadi Haramkan Facebook

  1. Abdillah
    24 November 2011

    Coba klik disini:
    Hukum menggunakan facebook
    http://isnad.net/hukum-menggunakan-facebook

    • elfarizi
      24 November 2011

      Ok, terimakasih … langsung ke TKP🙂

  2. Iklan Gratis
    7 September 2009

    pengeluaran fatwa ulama mengenai suatu hal memang sesuatu yang wajar, apalagi menyangkut kepentingan umat. termasuk mengenai facebook. kalau menurut hemat saya, facebook sama dengan hal lainnya. yaitu mengandung manfaat dan madharat tergantung dari aspek si pengguna. kalau dipergunakan sebagai wasilah untuk menyambung tali silaturahim atau bahkan berdakwah sekalipun, tentu akan sangat bermanfaat nilainya. namun lain halnya apabila digunakan untuk yang berkebalikan.
    oleh karena itu, sebagai masyarakat umum hendaknya kita mafhum dengan adanya fatwa semacam ini. pada dasarnya bukan untuk mengintervensi umat secara utuh, namun lebih kepada upaya preventif dari para ulama agar umatnya tidak terjerumus ke dalam jurang dosa.
    Mengembalikan Jati Diri Bangsa

  3. elfarizi
    31 Mei 2009

    mangga jang, diantos we…

  4. mikoalonso
    29 Mei 2009

    bade ngirim tulisan ka SUAKA?

  5. elfarizi
    27 Mei 2009

    Thanx brur…
    Yupz, saya sependapat. Bahkan apa yang saya tulis pun punya substansi yang sama dengan apa yang Anda komentari. Sebetulnya apa yang paling ingin saya sampaikan ada di paragraf yang terakhir, yaitu segala sesuatu pun akan menjadi haram apabila disalahgunakan. Jadi tak perlu ada fatwa khusus… Toh, rambu2 moral seperti itu sudah diajarakn semenjak kecil.

  6. Zul Azmi Sibuea
    27 Mei 2009

    rada bombastik anda mengemukakannya bro,
    jangankan facebook – menggunakan mata, telinga, kaki , dan tangan saja menjadi haram bila tidak sesuai dengan fitrahnya, tidak sesuai dengan fungsinya menurut etika dan moral.
    pake logika biasapun “pernyataan umum face book diharamkan” tidak akan pernah terjadi – karena akan identik dengan mengharamkan “melihat”, “mendengar”, “bicara” dll, yang haram adalah bila disalah-gunakan. anda setujukah ????
    mestinya diskusinya adalah bagaimana membentengi behavior masyarakat agar menjunjung tinggi moral dan etika dan memenfaatkan segala teknologi untuk kemaslahatan ummat.

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Mei 2009 by in sosial and tagged , , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: