ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Maaf, Semalam Saya Telah Bakhil

Maaf, malam lalu saya menjadi orang yang bakhil. Permintaan maaf ini untuk saya sendiri dan yang tahu bahwa saya tiba-tiba menjadi orang bakhil. Karena malam lalu, di sebuah angkutan kota (angkot), seorang ibu dengan pernyataan to the point-nya meminta uang ongkos kepada saya. Penampilan tidak terlalu menarik. Rambut dan wajahnya kumal. Membawa seorang bayi dan seorang anak lelaki berusia kira-kira 4 tahun. Saya tahu persis, trik orang seperti itu. Setidaknya, dari apa yang pernah saya alami.

Dulu, ketika saya sedang beristirahat di mesjid kampus (ketika pertama kali kuliah di Bandung), seorang laki-laki mendekati saya dan mengaku ia tak punya uang ongkos untuk pulang ke Cianjur. Sialan! Mengapa ia merepresentasikan Cianjur dengan ketidakmapanan dan peminta-minta. Saya pun terbuai dalam simpati. Saya pun merogoh-rogoh saku mencari lembaran uang yang mungkin dapat bermanfaat baginya. Namun, seorang teman langsung menarik tangan saya. Saya pun diajak pergi olehnya. Saat jauh dari orang peminta tadi, teman saya bilang, “Itu cuma akal-akalan.” Ia bilang, di Bandung, banyak sekali orang dengan akal seperti itu. Saya sebenarnya tak mau berburuk sangka. Namun, apalah daya, kawan saya itu lebih lama tinggal di bandung. Sedangkan saya baru beberapa hari berdiam di Bandung.

Sorenya, saya memutuskan untuk pulangt ke Cianjur, sebuah kota penuh kedamaian. Kota dengan “Gerbang Marhamah” yang menwarkan beragam keindahan, seperti Taman Bunga, Kebun Raya Cibodas, Istana Presiden, dan lain-lain. Saya hendak pulang melalui terminal Leuwi Panjang. Sebelum sampai terminal, saya beristirahat di Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan sebutan alun-alun. Ketika saya lesehan di lobi mesjid, saya melihat orang yang tadi meminta-minta kepada saya di kampus. Ia sedang membawa koran, dan tidak terlihat tanda-tanda ia adalah orang kesusahan. Ia pun melihat saya, dan langsung menghampiri saya. Saya sedikit khawatir.

Ia bilang, ia tak punya uang. Ia baru dapat uang yang bisa mengantarnya ke alun-alun saja. Ia minta lagi! Saya langsung saja pergi. Dasar, orang di kota memang aneh-aneh perilakunya. Ya, beberapa kasus yang serupa juga pernah saya alami. Termasuk, tadi malam. Ibu tersebut awalnya menanyakan jam. Dengan gugup dan gemetar, ia langsung meminta uang kepada saya.

Maaf, sekali lagi. Mungkin ibu tersebut benar-benar tak memiliki uang. Tapi, keburukan sangkaan saya –lebih tetap kewapadaan dan kekhawatiran– mengalahkan hal tersebut.

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 April 2009 by in sosial and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: