ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Wajah Baru Mau Pilih Siapa?

Hasil akhir beberapa lembaga survey penyelenggara quick count menyatakan Partai Demokrat menang. Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI): 20,46 %, Lingkaran Survey Indonesia (LSI): 20,34%, dan CIRUS: 20,61%. Di berbagai daerah, versi LSI, Partai Demokrat selalu masuk di tiga besar. Berbeda dengan dua pesaing yang mengekor di bawahnya, Partai Golkar dan PDI-P. Misalnya, di Jakarta, Parati Golkar tak masuk dalam tiga besar terkalahkan PKS. Atau, di Papua, PDI_P tidak muncul sebagai tiga besar, terkalahkan partai baru berbasis agama, PKDI. Bahkan di Sumatra, PDI-P hanya muncul di beberapa provinsi sebagai tiga besar.

Namun, terdapat perbedaan hasil quick count untuk posisi kedua. Lembaga Survey Indonesia menyatakan, PDI-P yang menduduki urutan kedua (14,41%) sedangkan Lingkaran Survey Indonesia dan CIRUS menyatakan, PG yang menempati posisi runner up tersebut (14,85% dan 14,57%). Namun, menurut real count yang dilakukan KPU, PDI-P masih menduduki posisi kedua untuk sementara.

Setidaknya, hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) ini menggambarkan perolehan suara pada Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang. Saat ini, para partai –baik besar maupun kecil– sibuk berkomunikasi politik untuk membentuk sebuah koalisi. Jauh-jauh hari, para pakar politik beranggapan kalau capres pada Pilpres mendtang hanya ada tiga figur. SBY< Megawati, dan satu lagi diprediksi JK. Namun, sebelum Pileg, santer dikabarkan bahwa PG dan PDI-P akan menyatukan suara. Pertanyaan, apabila itu terjadi (yang disebut sebagai koalisi Golden Triangle) siapa yang akan menjadi presiden dan siapa pula wapresnya? Bukan kah, Megawati jauh-jauh hari sudah menyatakan bahwa ia akan maju menjadi RI 1. Apalagi Jusuf Kalla yang akhirnya menyatakan akan maju jadi pesaing SBY. Kalla rupanya panas dengan ungkapan Ahmad Mubarok, wakil ketua PD dulu yang mengira bahwa PG hanya akan mendapat suara 2,5 %.

Untuk partai sekaliber Golkar, mungkin ungkapan tersebut hinaan dan pelecehan. Masa iya, partai yang masih melekat di hati para tetua di pelosok negeri ini akan kehilangan simpatisannya. Makanya, tak heran JK langsung kebakaran jenggot (mang ada jenggotnya?) dan siap dicalonkan jadi capres. Namun sebelum Pileg, PG membuat sensasi dengan mendekati PDI-P dan ingin membentuk koalisi dengan PPP, yang disebut Koalisi Segitiga Emas (Golden Triangle). Perhitungan memang lumayan cermat. PDI-P dan PG memang partai yang dianggap raksasa saat ini. Jadi, ruapanya mereka pede untuk sama-sama melawan SBY dengan Demokrat-nya.

Koalisi yang terdiri dari puing-puing orde baru ini nampaknya belum dapat kepedean. Karena, PD dikabarkan akan menjajaki koalisi dengan partai-partai reformis sekaliber PKS dan PAN. Yang ini boleh dibilng masih segar, karena satu hari sebelum masa tenang kampanye saja, PKS masih membuat iklan kampanye “SBY Presidenku, PKS Partaiku.” Rupanya PKS tahu siapa sebenarnya yang harus diajak berduet nanti. Kalau saja, koalisi ini terjadi, apalagi didukung oleh kemenangan PD, tentu pecapresan SBY harga mati. Paling, kita hanya menunggu siapa yang mau mengekor SBY sebagai RI 2. Apakah, Hidayat Nur Wahid, Muhaimin Iskandar, atau Sutrisno Bachir. Atau malah salah semua?

Namun yang masih ragu-ragu dan jelas malu-malu adalah sikap PG yang belum dapat ditebak secara pasti. Apakah Kalla serius ingin jadi capres. Kalau saja itu terjadi, pasti PDI-P akan say good bye untuk PG karena PDI-P tak mau kalah pamor dengan meng-cawapreskan Megawati. Kalau JK jadi cawapres dari Megawati, itu nampaknya mimpi buruk bagi JK dan Pg. Mengingat selama ini, pasangan SBY-JK dinilai cocok dan kompak. Masa, tiba-tiba JK jadi wakil Mbak Mega? Oleh karena itu, kalau PG tak mau dijatuhkan martabatnya –seperti oleh PD sebelumnya– maka PG harus siap melawan PDI-P.

Kalau urusannya seperti itu, pasti penampakan baru di layar TV seperti Prabowo dan Wiranto merapat ke tiga partai besar. Yang sudah bisa ditebak, adalah SBY-Prabowo adalah kemustahilan. Prabowo bilang, ia tak mungkin bergabung dengan SBY. Entah itu kecongkakan atau perbedaan watak mereka sesama purnawirawan. Tapi, kalau saja kedua tokoh itu (Wiranto dan Prabowo) pasti akan tercirakan kurang baik sendirinya. Mengingat misi perubahan  yang mereka tawarkan. Apa jadinya kalau perubahan itu dilakukan dengan orang-orang yang sudah berpengalaman memimpin negeri ini : SBY, JK, dan Megawati yang masing-masing sudah menunjukkan track record yang kurang baik di mata Prabowo dan Wiranto.

Ya, namanya saja politik. Orang bisa saja menjilat ludahnya sendiri. Lagi pula, apa kabar Rizal Ramli, Sutiyoso, dan kawan-kawan. Mereka pasti terjerat pada dosa ucapan mereka sendiri, sama seperti Prabowo dan Wiranto. Rizal Ranli mau pergi kemana? Katanya gak mau Lu Lagi Lu Lagi, tapi nyatanya yang maju memang 4L itu.

2 comments on “Wajah Baru Mau Pilih Siapa?

  1. elfarizi
    12 April 2009

    Ya, mudah-mudahan kepentingan Islam tersebut diikuti dengan sikap pragmatis. Pada saatnya nanti, pemerintah yang memimpin perlu dukungan dari berbagai parpol agar pemerintahan berjalan efektif dan lebih akomodatif terhadap berbagai kepentingan. PKS juga bukan partai ekslusif lagi. Lihat saja iklan-iklan semasa kampanye yang lebih menekankan inklusivitas… Mudah-mudahan itu bukan sekedar mendobrak popularitas dan simpatisan.

    Memang, PKS cenderung terkesan anti-Amerika, namun Demokrat dengan SBY juga lebih akomodatif terhadap Amerika. MUdah-mudahan, kita dapat melihat sisi positifnya tanpa harus bersikap fanatis terhadap salah satu agama, termasuk Islam.

  2. Lowongan Kerja
    12 April 2009

    Tragis jika PKS betul2 berkoalisi dengan SBY bahlul si pelindung bisnis kafir, saatnya PKS merapat ke partai2 Islam lainnya yang telah mereka gembosi suaranya dan berjuang bersama mereka dan jangan biarkan sebagian umat Islam jadi membenci PKS, demi untuk kemshalahatan umat. INSYA ALLAH!

    Buktikan bahwa dana umat yang telah disedot untuk iklan politik PKS memang benar2 untuk kepentingan umat Islam, bukan kepentingan petinggi PKS saja, buktikan hijaumu PKS!
    Jangan biarkan dirimu dianggap sebagai partai pragmatis dan oportunis, itu memalukan!

    Buat para kader, saatnya kita mawas diri dan berkaca kembali akan manuver2 petinggi PKS yang haus kekuasaan saat ini, mari kembali melayani masyarakat dalam tatanan bermasayarakat yang lebih Islami, daripada sekedar tercuci otak dan terjebak dalam permainan partai!
    Tujuan kita awalnya mendukung PKS adalah untuk mengagungkan Islam, bukan untuk kepentingan kekuasaan para petinggi partai, dan sayangnya banyak kader yang tidak menyadarinya!

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 April 2009 by in politik and tagged , , , , , , , , , , , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: