ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

PKSisasi Kos

Memang ada-ada saja tingkah anak kos. Apalagi tingkah masyarakat penghuni kos GM  asuhan BT, yang saya tempati. Kebetulan mayoritas penghuninya beraktivitas di PKS yang diklaim sebagai Pejuang Kemanusiaan Sejati (ya mudah-mudahan). Dari tujuh kamar yang tersedia, ada empat kamar dengan penghuni double yang aktif di PKS dan organisasi ciri khas ikhwan, KAMMI.

Setiap hari, lantunan nasyid sepertinya tak pernah lekang dari indera pendengaran saya. Apalagi nasyid tentang PKS. Salah satu liriknya, “Maju majulah PK Sejahtera…” dengan suara yang ngebass. Belum lagi, ikhwan lainnya yang selalu kumpul-kumpul di kos kita. Pasti pembicaraannya seputar tim sukses, aksi, solidaritas, palestina, ceramah, dan lain-lain.

Apalagi sekarang musim politik. Tentu mereka sedang gencar-gencar kampanye. Ada tim sukses, ada yang diam-diam pasang foto caleg dan atribut partai, ada yang nggak mau ngaku aktivis partai, tapi ternyata rajin ikut kampanye. Wah, kos tampaknya akan diputihkan.

Sebetulnya hal tersebut bukan temuan baru. Di pilkada sebelumnya, pilkada gubernur dan walikota, kos jadi posko dadakan. Foto makhluk bersih, peduli, dan profesional tiba-tiba nampang di berbagai sudut kos, termasuk di WC. Wakakak, rupanya sosialisasi juga bisa dilakukan di kamar mandi. Ya, tapi saya jadi malu-malu kalau lagi BAB atau mandi. Rasanya ada orang yang ngintip…

Dulu pas zaman pilkada tersebut, saya rasa awalnya wajar-wajar saja. Hanya pintu dan jendela mereka yang ditempeli stiker calon. Tapi lama-lama mejeng juga tu calon di pintu kamar saya. Walah, maaf banget ya, tanpa maksud sensi atau sentimen, saya copot lagi. Saya takut bapak saya dari kampung marah kalau berkunjung ke kos.

Terus, tanpa  diduga, mereka mengibarkan bendera kebesaran di lantai dua. Waduh, saya jadi agak miris. Coba kalau ada bendera biru berlambang bintang segitiga, akan saya kibarkan di sebelahnya. Bangku-bangku yang ada di kos, jadi penuh dengan foto calon gubernur dari partai mereka. Tak apalah, saya duduki bahkan sesekali saya kentut di atas bangku tersebut. Tapi, saya gak melecehkan kan?

Terutama di musim pileg akhir-akhir ini. Aksi nekad para skuad PKS di kos tampak lebih progresif dan agresif. Tak canggung-canggung, mereka memasang tulisan Posko PKS di depan kos. Waduh??? Apa mereka udah polling sebelumnya, bahwa tak semua penghuni adalah kader atau bahkan simpatisan PKS. Hati cuma gruta-grutu doang. Kos berubah jadi sekretariat.

Namun, kabar baik datang juga. Seseorang mengaku sebagai petugas keamanan kampung. Ia bilang bahwa keberadaan pos harus seizin ketua RT setempat. Apalagi akhirnya bapak kos bertindak tegas. Ia bilang jangan mendirikan posko di tempatnya. Ya dong, kalau saya yang ditegur saya akan bersembunyi di bawah lubang. Secara kos tersebut kan milik orang lain. Penghuni cuma ngontrak. Tapi tak apalah, ternyata doa orang terzhalimi itu dikabul. Huahuahua. Maaf ya, bang! Yu ah, LANJUTKAN!

4 comments on “PKSisasi Kos

  1. Ping-balik: Wawancara Seputar Blog | Elfarizi

  2. Lowongan Kerja
    10 April 2009

    Tragis jika PKS betul2 berkoalisi dengan SBY bahlul si pelindung bisnis kafir, saatnya PKS merapat ke partai2 Islam lainnya yang telah mereka gembosi suaranya dan berjuang bersama mereka untuk kemshalahatan umat. INSYA ALLAH!

    Buktikan bahwa dana umat yang telah disedot untuk iklan politik PKS memang benar2 untuk kepentingan umat Islam, bukan kepentingan petinggi PKS saja, buktikan hijaumu PKS!
    Jangan biarkan dirimu dianggap sebagai partai pragmatis dan oportunis, itu memalukan!

    Buat para kader, saatnya kita mawas diri dan berkaca kembali akan manuver2 petinggi PKS yang haus kekuasaan saat ini, mari kembali melayani masyarakat dalam tatanan bermasayarakat yang lebih Islami, daripada sekedar tercuci otak dan terjebak dalam permainan partai!
    Tujuan kita awalnya mendukung PKS adalah untuk mengagungkan Islam, bukan untuk kepentingan kekuasaan para petinggi partai, dan sayangnya banyak kader yang tidak menyadarinya!

  3. hasan85
    3 April 2009

    Apapun alasannya ditengah pluralitas, apalagi partai yang juga bejibun, Nampaknya Anda sedikit sensi terhadap kenyataan yang ada. Kalau memang Anda pengagum pluralitas, seharusnya sikap Anda jangan seperti itu-itu ditunjukkan pada paragraf yang Anda tulis” Bintang segitiga”. Itu artinya, secara tidak langsung disana ada sebuah pendeskreditan terhadap partai tertentu.

    Kalo mau, coba jangan terlalu dipulgarkan. karena kita tahu lah, musim kampanye, sedikit saja ada yang terpanasi, jadi berabe.

    Udah dulu dulur, teraskeun…

    • elfarizi
      3 April 2009

      Bukannya sensi, tapi kritis.

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 April 2009 by in curhat, sosial and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: