ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Mengapa Masyarakat Apatis?

Pemilu legislatif (pileg) hanya tinggal menghitung hari. Pada hari tersebut, masyarakat berbondong-bondong mendatangi TPS dan disuguhi kertas suara. Saya sangat penasaran dengan ekspresi mereka saat membuka kertas suara. Bagaimana ekspresi mereka  saat melihat deretan nama-nama partai politik (parpol), lambangnya, dan barisan nama-nama orang yang pasti sebagian besar tidak mereka kenal.

Biar pun mereka tahu bahwa akan menghadapi kertas suara akbar pada sosialisasi Pileg, namun saya yakin akan banyak pula yang akan kelimpungan saat harus menentukan pilihannya. Apalagi bagi masyarakat awam di daerah yang minim sosialisasi. Betapa tidak? Di daerah tempat saya tinggal, banyak pula yang mengaku belum paham dengan proses pencontrengan nanti.

Masalahnya tidak berhenti di sini. Banyak pula di antara masyarakat pemilih yang akan memilih tidak memilih alias golput. Setidaknya beberapa orang yang saya temui secara terang-terangan  mengatakan hal tersebut. Biar pun Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengintervensi dengan memfatwakan golput itu haram, namun tetap saja tidak memilih bisa jadi pilihan tepat pada Pileg mendatang.

Mengapa masyarakat begitu apatis? Ya, banyak dari mereka yang tak peduli dengan proses demokrasi akbar tersebut. Mungkin juga Anda, kawan Anda, atau bahkan tetangga di depan rumah Anda? Sikap apatis banyak ditunjukkan masyarakat, mulai awam hingga inteletual. Tidakkah hal tersebut, yang secara nyata sudah menjadi ancaman bagi para politisi Indonesia, membuat mereka lebih sadar dan juga lebih peka dalam bersikap?

Banyak literatur, teriakan, dan aksi massa untuk memperlihatkan ketidakpedulian masyarakat pada politik tidaklah menampar para politisi kita dan memekakan perasaan mereka. Nyatanya, masih banyak yang ragu –tulisan saya pun bernada skeptis– untuk memperjuangkan hak suara di pemilihan nanti. Yang ada, ragu pada partai politik yang akan dipilih, ragu pada calon wakil rakyat, dan ragu pada presiden mendatang.

Ragu, hanya itu. Ragu pada pilihan. Lihat saja partai politik di negara demokrasi ini? Tiga puluh delapan nama parpol dengan visi misi yang tak jauh berbeda. Tak ada pembeda. Tak ada alternatif. Masing-masing hanya menebar pesona agar rakyat bersimpati. Partai satu mengkalim dirinya bersih, baik, dan berhasil. Namun partai yang lain menghardiknya secara kasar bahwa partai yang mengklaim itu adalah partai pembohong dan pembawa kemudharatan. Mana yang akan rakyat percaya?

Presiden kemarin bilang bahwa dirinya telah berhasil membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Namun calon presiden lain mengatakan presiden yang lalu telah membawa Indonesia pada lubang keterpurukan. Siapa yang benar? Rakyat percaya pada siapa. Katanya guru bangsa, namun mengajarkan kebingungan pada masyarakat. Saling tendang dan saling menjatuhkan martabatnya.

Pak SBY bilang, taraf hidup masyarakat meningkat. Ketergantungan pada IMF dapat dihilangkan. Korupsi banyak diberantas tanpa pandang bulu. Kemiskinan menurun. Apa itu hebat? Biasa saja. Toh, hal tersebut adalah kewajiban pemerintah yang sedang yang berkuasa. Kalau saja hal tersebut tak dipenuhi, maka pemerintah telah gagal. Terlebih, “keberhasilan” itu bukan hanya pekerjaan Pak SBY saja. Atau Pak JK. Atau PKS  atau PAN saja. Pekerjaan itu adalah pekerjaan kolektif pemerintah.

Lain pula dengan partai oposisi. Kerjanya hanya bisa mengkritik secara membabi buta. Lontaran-lontaran sang guru bangsa sekaliber Megawati malah membuat Mbak Mega tak berbobot, kekanakan, dan tak layak pilih. Lihat saja iklan terakhir PDIP yang secara tak langsung menyetujui program BLT. Padahal sebelumnya, mereka begitu sensi pada program tersebut.

Coba kalau para orang besar itu sadar bahwa masyarakat sudah pintar. Nyatanya mereka tahu bahwa mereka sudah dan sedang dibodohi. Akhirnya, mereka memilih untuk golput. Kalau saja, para elit partai sadar bahwa apa yang mereka lakukan –bagaimana pun dan dengan alasan apapun– tetap dinilai masyarakat sebagai bentuk kehausan akan kekuasaan. Semoga doa kita terkabul. Semoga.

4 comments on “Mengapa Masyarakat Apatis?

  1. elfarizi
    9 April 2009

    Miko >>>
    Always be good! Saya coba untuk tidak apatis. Maka dari itu, saya obati dengan aktivitas. Tapi orang lain banyak yang masih apatis, saya bingung. Makanya, saya bertanya, mengapa mereka apatis?

    Lamliet >>>
    Jangan apatis, mbak! Peduli pada nasib rakyat walau kita tak duduk mewakili mereka secara langsung. Tak kenal dengan calonnya, pilih saja partainya. Yang nanti maju jadi urusan DPP partai tersebut. Insyaallah amanah. Oke, lanjutkan!

  2. mikoalonso
    8 April 2009

    apatis itu bukan sebuah pertanyaan yang harus dilontarkan. tapi harus diobati dengan aktifitas.

    damang juragan?

  3. Lawliet
    5 April 2009

    saya apatis di pileg, karena saya tidak kenal satupun calonnya… T.T

  4. hasan85
    3 April 2009

    Sebagian apatis? biasa, karena kalo semuanya memilih, itu namanya bukan negara demokrasi..

    Dalam negara yang yang menganut demokrasi, apatis, golput dan saling mengklaim, saya kira hal lumrah

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 April 2009 by in politik and tagged , , , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: