ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Tahlilan atau Tidak, Mana yang Lebih Baik?

Hari ini adalah hari keenam perginya almarhum kakek. Sesuai tradisi yang turun temurun dilaksanakan di berbagai belahan daerah di nusantara, apalagi Jawa, keluarga kami pun tak ketinggalan mengadakan sebuah kenduri besar. Apalagi namanya kalau bukan tahlilan.

Siapa yang tak tahu dengan istilah tahlilan. Memang secara terminologis, tahlilan berarti mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah. Namun, dalam pengertian yang luas, tahlilan adalah sebuah acara yang dilaksanakan dalam memperingati hari kematian seseorang dimulai dari hari pertama orang tersebut meninggal. Biasanya tahlilan dilaksanakan dalam hitungan hari ke-1 hingga ke-7, lalu setiap  minggu hingga hari ke-40, mengingat hari ke-100, ke-1000, dan seterusnya.

Secara agama, tahlilan memang diperdebatkan oleh berbagai kalangan. Misalnya antara ormas Islam seperti Nahdhatul Ulama (NU) yang menyetujuinya, dan Muhammadiyah dan Persis yang menganggapnya sebagai sebuah bid’ah yang hendaknya tidak dilakukan. Namun, saya tak akan kembali memperdebatkan hal tersebut melalui pendekatan agama.

Kendati ditentang oleh sebagaian kalangan intern muslim sendiri, tak dapat dipungkiri bahwa tahlilan sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat muslim Indonesia, terutama Jawa –termasuk Cianjur yang juga bagian dari Pulau Jawa.  Oleh karena itu, budaya tersebut sulit untuk dapat ditentang apalagi harus dimusnahkan sama sekali –atas nama apapun.

Seperti tahlilan yang baru saja selesai saya gelar di kediaman kakek. Lihat saja, betapa masyarakat sekitar antusias untuk menghadiri acara ini. Dari para bapak hingga anak-anak kecil yang ikut memadati dan membuat bising ruangan. Satu sisi, saya bersyukur ternyata banyak yang akan mendoakan almarhum kakek, karena setiap hari para tamu bertambah lebih banyak apalagi anak-anak.

Tahlilan pun dimulai. Sang ustadz yang memiliki peranan penting dalam kenduri tersebut. Ustadz sebagai pimpinan doa. Mulai membaca dengan runtut ayat-ayat, shalawat, dan doa-doa tahlil. Para tamu mengikuti. Namun suara anak-anak kecil saat itu sangat berisik hingga menganggu konsentrasi dalam membaca doa. Anak-anak terus-terusan mengoceh, boro-boro mengikuti doa. Saya lihat tamu yang kebanyakan kakek-kakek tampak khusuk mengikuti bacaan ustadz. Saking khusunya, ada yang malah tertidur dan ada pula bapak-bapak yang mengobrol atau melamun. Mungkin bacaannya di dalam hati.

Sementara para bapak –si empunya rumah dan tamu– sibuk dengan pembacaan doa-doa tahlil. Ibu-ibu di ruangan lain sibuk membuat kue untuk tahlilan berikutnya. Harumnya kue tercium hingga ruangan tamu. Belum lagi suara ibu-ibu yang sedang berkumpul bisa mengalahkan suara apapun. Para ibu tentu masih dalam satu kerabat almarhum. Jadi, mereka adalah orang-orang yang sedang ditinggal mati oleh almarhum. Namun semangat mereka dalam membuat kue dan berbagai masakan untuk ‘menyuguhi’ tamu tahlilan patut diacungi jempol.

Tahlilan selesai. Salah seorang tuan rumah bergegas menghitung jumlah tamu. Kemudian dicocokkan dengan jumlah kue yang akan dibagikan. Dalam bahasa kami istilahnya besek atau paros. Kemudian anak-anak diprioritaskan. Mereka bergegas merebut hak mereka. Tak dapat disangkal ricuh dan ribut. Disusul oleh tamu lain.

Silakan gambarkan sendiri keadaan tahlilan saat itu. Bagi yang sering melakukan mungkin akan terbayang. Namun entah bagi yang anti-tahlilan. Ketika saya lihat dan dengar, banyak anak-anak itu datang dari kampung sebelah. Ternyata motivasi mereka adalah kue yang dibagikannya. Katanya kue yang diberikan enak-enak dan bernilai rupiah yang lumayan. Tak heran, di kampung kami, keluarga yang selalu membagikan kue-kue yang enak saat tahlil akan terkenal. Bahkan bagi yang kurang mampu untuk melakukan hal serupa, bela-belain usaha untuk dapat membuat tahlilan menjadi memuaskan. Ngutang pun rela, asal tahlilan dapat dilaksanakan.

[to be continued]

11 comments on “Tahlilan atau Tidak, Mana yang Lebih Baik?

  1. jaib
    24 November 2015

    Gimana kalau salah menghitung acara tahlilan.pak

  2. abee azra
    19 Maret 2010

    izin copas, sy punya pengalaman sama, syukron atas izinnya ….

    • elfarizi
      20 Maret 2010

      Ya, sama-sama ^^
      Syukron.

  3. dazat
    10 Oktober 2009

    ASSALAMU’ALAIUM EMANG BENAR…. KOK, TIAP SUKU PASTI MENGANGGAP PALING MENONJOL, APAKH ITU SALAH/ BENAR. YANG JADI PERTANYAAAN BAGAIMANA KITA BISA MENJELASKAN HAL YANG SEPOERI INI BILA SUDAH TERLANJUR BASAH..SAH , PASTILAH KITAA BISA. WASSALAM

    • elfarizi
      7 November 2009

      Syukron.

  4. Nanda
    27 Juni 2009

    Tahlilan di sini merupakan editan tata cara agama hindu dan budha dimana yakin jika arwah manusia yg telah meninggal masih ada di dalam rumah dan pada kurun hari tertentu akan mengalami proses reinkarnasi. Nah dalam tahlil islam juga ada istilah tiga hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari <– maksudnya apa ?. Ingat islam adalah ajaran agama dari Allah untuk di ajarkan dan di amalkan bukan sebuah organinasi yg harus menghalalkan cara2 salah untuk memperluaskannya. Wali songo, nabi, ulama dll bukan rosul yg punya kewajiban menyebarkan dan memperluaskan islam. Hanya saja kita boleh menarik lingkungan kita masuk islam dengan memperlihatkan ajaran2 murni islam jika tertarik alhamdulillah, bukan malah islam yg mengikuti kehendak mereka. Yah mau gimana lagi setiap negara,suku, kelompok kebanyakan fanatik terhadap adatnya jadi mencari pembenaran atas adatnya terhadap agama. Dan hukum benar salah " sesuatu di anggap benar jika sesuatu itu sesuai dan sejalan dengan pemikiran penduduk terbanyak dalam wilayah tersebut. Begitupun sebaliknya, sesuatu itu dianggap salah jika sesuatu itu tidak sesuai atau sejalan dengan pemikiran penduduk terbanyak di wilayah itu.

    • elfarizi
      7 November 2009

      Syukron

  5. sandhi
    6 Mei 2009

    Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
    Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

    REFERENSI :

     Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
     Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

    • elfarizi
      7 November 2009

      syukron atas ilmuanya…

  6. elfarizi
    15 April 2009

    zays >>>

    saya juga tidak mempermasalahkan tahlilan dalam makna terminologisnya. Kalau hanya ucapan laa ilaha illallah ya jelas tak perlu dipermasalahkan. Saya hanya menanggapi masalah tahlilan dalam arti yang lebih luas… sebuah kenduri besar yang diselenggarakan untuk memperingati hari kematian.

  7. zays
    15 April 2009

    TAHLIL ITU KAN UCAPAN LAA ILAAHA ILLALLAAH, DAN ITU ADA DALAM AL-QURAN.
    KITA TIDAK PERLU MEMPERMASALAHKAN TAHLILANNYA KARENA ITU HANYA ISTILAH / KULITNYA SAJA.
    YANG PERLU DIPERMASALAHKAN ADALAH PROSES YANG BERLAKU DALAM TAHLILAN ITU.
    KALAU PROSESNYA ITU DITENTUKAN HARINYA, BACAANNYA DAN SEGALA RENIK-RENIK YANG HARUS DISIAPKAN OLEH TUAN RUMAH, SEPERTI AMPLOP, NASI DENGAN BERBAGAI BENTUKNYA ITU BARU MENYALAHI

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Februari 2009 by in muda and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: