ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Kampusku Berubah, Alhamdulillah atau Innalillah?

Februari datang!!! Bukan soal valentine, bukan hari pers nasional, bukan pula 28 Februari. Tapi kuliah kembali membayangi. Mungkin kampus ane, Universitas Impian Nenek, senang dengan hal-hal romantis. Jadi memilih awal bulan ini jadi awal perkuliahan semester genap.

Mulai pertengahan Januari hingga 25 Januari, mahasiswa yang taat harus segera melakukan Her Registrasi (HR). Mahasiswa yang melakukan HR akan dapat melanjutkan pencarian ilmunya yang dinilai orang –apalagi orang di kampus ane– adalah sebuah ibadah wajib. Dengan memberikan uang dengan (sangat) ikhlas, kita mendapat hak untuk duduk manis dalam kelas. Mendengar ceramah dosen dan membuangnya seketika!

Kebetulan ane sebagai mahasiswa rajin dari Fakultas Sopan Santun (dalam Bahasa Arab : Adab) mendapat jatah waktu satu hari, yaitu tanggal 25 Januari, untuk melakukan HR. Tapi saat itu, ane sedang menghabiskan liburan di kota halaman. Liburan yang tak tanggung-tanggung lamanya membuat ane lupa bahwa ane harus pulang ke Bandung.  Pas melihat kalender, ternyata 25 Januari adalah tanggal yang berusia senja bagi kalangan PNS sekaliber bapak ane. Waduh, bapak pasti lagi seret.

Tak apalah. Kita mundurkan saja HR-nya. Ane tak perlu konfirmasi ke kampus. Jauh, dari Cianjur menuju Bandung. Menurut pengalaman (yang konon adalah dosen terbaik), HR di kampus ane selalu berjalan pelan alias slow down baby! Maksudnya, paling-paling diberi dispensasi hingga satu minggu. Bahkan teman ane pun dulu, lebih dari satu bulan molornya tetap bisa melanjutkan kuliah kok. Walau agak pake taktik sedikit biar praktek drama berhasil.

Jadi tak perlu khawatir kayak kampus tetangga. Yang konon, kalau telat HR di-DO! Anjrit… Bahkan dulu ada kampus yang selabel kampus ane di Jogjakarta melakukan hal serupa. Karena ane cinta mati kampus ane, maka ane positive thinking bahwa hal tersebut tak kan terjadi di kampus ane. Pengalaman membuktikan demikian. Apalagi ane kan udah gak muda lagi di kampus. Ane udah tahu, kalau birokratnya pada baik, ramah, dan gak tegaan. Dulu aja, pas dapat bea siswa dan ane hendak mengambilnya di rektorat, si ibu cuma minta seratus ribu kok buat hadiah, nggak lebih…

Sesuai waktu penungguan yang lama, ane akhirnya dilepas orangtua agar segera membayar biaya kuliah. Saat itu hari ketiga di Bulan Februari. Kata mami, jangan telat nanti takut di-DO! Ane bilang, tenang gak bakalan, kalau DO ane langsung menghadap rektor. Wah, coba bayangkan betapa gagahnya ane saat itu. Lalu ane berangkat dari Cianjur ke Bandung dengan bis Doa Ibu.

Setiba di Cibiru. Mendung seolah menyambut kedatangan mahasiswa ganteng dari Cinjur ini. Ane menyetor uang sebanyak Rp 600.000 ke Bank Milik Rakyat Indonesia Tercinta (BMRIT). Sebenarnya ane tahu keterlambatan ini pasti didenda. Tapi biarlah, kalau ada yang nyuruh, baru ane akan bayar dendanya. Lalu ane bergegas menuju bagian keuangan rektorat untuk disahkan bahwa ane telah menyetor uang HR. Namun seorang stafnya menyuruh ane menemui pembantunya rektor (Perek) bagian keungan. Ada apa ini?

Lalu ane menemui Pak Perek di ruangannya. Disitu ada empat mahasiswa yang sedang duduk di depan meja Pak Perek. Sedang Pak Perek terlihat semangat berceramah di depan mereka. Lalu telinga ane difungsikan dengan baik. Dari ruang tunggu, ane dengarkan secara seksama apa yang sedang dibicarakan pembantunya rektor terhormat itu.

Usut punya usut. Para mahasiswa tersebut yang terlambat melakukan HR. Mereka melebihi batas toleransi yang diberikan, yaitu satu minggu yang saat itu jadi tanggal 30 Januari. Anjrit! Gimana dunk, masa ane di-DO!!! Mimpi apa semalam, bapak mami… Ane keluar ruang itu dengan hampa terasa. Saat itu, seorang sahabat yang selalu kelihatan giginya, membuat ane tenang dan sabar. Ternyata masih ada beberapa mahasiswa yang terlambat di luar ruang Pak Perek. Sahabatku bilang, hadapi sekali lagi bersama mereka.

Lalu aku mengahdap bersama mereka. Lalu Pak Perek berceramah pada kami. Berikut intinya.

“Jadi, sekarang ada peraturan baru. Lebih dari batas toleransi, kalian tidak berhak mengikuti kuliah dan dainggap cuti!”

Lalu ane menanyakan nasib uang yang telanjur ane serahkan. Berikut intinya.

“Itu konsekuensi. Anda tak perlu mengambil uang itu. Nanti Anda tetap bisa ikut kuliah semester depan. Tapi tetap bayar lagi!”

Coba bayangkan. Untuk mendapat unag segitu banyak susahnya minta ampun. Sekarang sudah susah, eh uang tetep angus tapi kita tidak kuliah. Jadi inget Nagabonar, apa kata dunia? Mana ane gak tahu, kalau ada pertauran seperti itu sekarang. Dulu-dulu aja gak pernah ditindak kayak gini. Olala, syukurilah hidupmu, nak… Batin ini bicara.

Tiba-tiba seorang gadis berkerudung merah yang rupanya seperti artis KDI (Entah siapa?) memberikan buku pedoman akademik pada Pak Perek.

“Pak di buku ini, tercantum. Batas akhir registrasi itu kalau terlambat satu minggu dendanya 10 %. Nah, kalau lebihnya dua minggu dendanya jadi 20%. Jadi sekarang masih boleh dunk?” Tanya si gadis itu.

“Ah, itu peraturan lama. Buku lama.” Jawab Pak Perek.

“Saya kan mahasiswa baru. Buku ini baru.”

Waduh, Pak Perek terdiam. Mungkin cari wangsit dulu.

“Ah, itu kan peraturan kemarin. Sekarang ada peraturan yang baru.”

“Kan saya belum tahu, Pak.”

“Ya, makanya sekarang saya kasih tahu.”

Ane gak bisa ikut melongo aja kayak ikan. Ikut berfatwa ah…

“Ya, itu kan peraturan lama. Kalau memang ada peraturan baru, kenapa tidak ada sosialisasi terlebih dahulu. Kita masih memegang aturan itu. Karena tak pernah ada sosialisasi peraturan bau seperti yang Bapak sebutkan. Jadi kita anggap lebih dari dua minggu pun tak masalah.” Ane layaknya pahlawan. Padahal ane merasa tertolong. Coba kalau gadis itu tak bawa buku itu.

Pemandangan bagus nampak di depan mata. Pak Perek nampak bingung. Matanya merah. kalang kabut cari apologi. Akhirnya…

“Ya sudah, kalau ada peraturan begitu. Saya tak bisa menyalahkan. Mungkin kami akan terbitkan peraturan baru. Untuk sekarang, kami beri dispensasi. Dengan catatan, dendanya 20%!”

Merdeka. Akhirnya ane merdeka. Kasihannya, orang yang mengadu dari hari sebelumnya. Mereka kan belum tahu kalau kuliahnya ternyata masih diperbolehkan. Bagaimana kalau ada orang yang berasal dari pelosok Garut Selatan banget. Tak ada akses informasi hingga mereka terdzalimi. Tahunya, mereka dicutikan.

Lalu setelah dapat KRS. Ane pergi ke fakultas. Hal yang sama terjadi. Ternyata administrasi di kampus ane lebih rame. Kata Pak Pudek, kalau lewat masa penyerahan KRS tak ada layanan lagi. Di absen pun tak ada. Berarti gak berhak untuk ikut kuliah. Dengan segala kemampuan beretorika dan mungkin Pak Pudek tak tega melihat ane yang kusut, akhirnya ada dispensasi lagi. Akhirnya muluslah kuliah.

One comment on “Kampusku Berubah, Alhamdulillah atau Innalillah?

  1. Ping-balik: Wawancara Seputar Blog | Elfarizi

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Februari 2009 by in curhat, kampus and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: