ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Selamat Tinggal “Tempat Berlindungku”

Januari segera berkahir. Artinya liburan hampir usai. Ane yang–tumben– menghabiskan liburan di rumah di Cianjur harus segera menemui calon metropolitan, Bandung. Itu artinya ada aktivitas yang harus rela berulang. Berkutat dengan hiruk pikuk kampus dengan segala intriknya. Namun, ada perubahan yang fundamental dalam hari-hari ane ke depan. Setidaknya itu merupakan deklarasi mantap sesuai dengan anjuran, semangat, dan dorongan beberapa orang yang ada di sekitar ane.

Desember lalu, saat UAS semester ganjil hampir tiba. Entah mengapa, badan ini selalu alergi dengan kewajiban tersebut. Benar, bukan konotatif. Selayaknya mengahadapi ujian-uijian semenjak SD hingga SMA, entah kenapa, ane selalu mendadak demam. Maksimal semalam sebelum besok akan ujian. Badan panas, meriang, kepala pusing. Namun ada satu hal yang lain saat itu, yaitu rasa sakit yang tak hanya berasal dari ujian-fobia semata melainkan dari penyakit yang ane derita.

Darah terus mengucur dari hidung hingga membuat orang panik, termasuk sahabat yang tinggal bersama. Ane putuskan, pertengahan UAS, ane harus cepat pulang ke rumah. Sontak, hal tersebut menjadi salah satu faktor utama ane harus mereformasi kehidupan di masa mendatang.

Ya, karena ketidakdisiplinan ane dalam berobat. Hingga semua berujung pada keputusan untuk menghentikan segala aktivitas di kampus. Apalagi, yang paling ane cintai adalah menjadi wartawan di kampus. Terlebih posisi ane yang cukup tinggi dalam struktur organisasi tersebut.

Dilematis. Saat orangtua tak lagi mempercayai ane untuk memandirikan ane, ane harus menghadapi “tuntutan” untuk memperbaiki nilai-nilai kuliah. Semenjak semester empat, cukup banyak mata kuliah yang harus diulang dan diperbaiki. Dan, semester depan adalah saat mengembalikan seluruh kepercayaan orang tua ane tersebut.

Mengapa ane harus berhenti? Karena ane pikir itulah solusi yang tepat. Pertama, agar ane bisa lebih disiplin dan fokus pada masa penyembuhan ane. Secara proses itu tak sesederhana yang kita bayangkan. Tak hanya operasi. Tak hanya konsultasi. Tak hanya menenggak obat. Tak hanya penyembuhan alternatif. Tapi ane butuh semua. Semua hal tersebut harus ane jalankan. Karena tak hanya satu tentunya.

Kedua, agar ane lebih fokus pada prestasi akademis yang dulu perah diraih di awal perkuliahan. Kegiatan ane di pers mahasiswa memang bukan alasan utama mengapa nilai-nilai kemudian terpuruk. Tapi lambat laun, langsung maupun tidak, hal tersebut sedikit berpengaruh. Tak hanya tenaga, tapi pikiran yang tersita.

Oleh karena itu, ane dengan sangat sangat berat harus relakan ane memfokuskan diri pada cita-cita dan harapan ane dan orang tua. Ane tak boleh menyia-nyiakan kasih sayang mereka. Mereka yang ingin anaknya sehat, dan tentunya ingin anaknya kuliah dalam waktu yang singkat. Untuk hal kedua, tentu berkaitan dengan faktor lain semisal finansial keluarga. Ya, I see.

Terakhir, kawan maafkan ane yang harus memilih jalan seperti ini. Andai kalian merasakan bahwa tak hanya badan saja yang harus ane jaga. Tapi pikiran dan emosi yang harus selalu ane perhatikan dengan baik. I love U all.

One comment on “Selamat Tinggal “Tempat Berlindungku”

  1. godi
    28 Februari 2009

    kalem we za engke bisa diobrolkeun sangkan meunang jalan nu kren tur sae kanggo sadayana

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Februari 2009 by in curhat, kampus and tagged , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: