ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Menyusuri Keindahan Bandung-Bengkulu (Tour Bengkulu 1)

pantaiSiang itu hujan begitu lebat. Ane berdiam di kamar. Memandangi jendela kamar yang tak terlalu mengkilap. Menulis buku harian akhirnya menemui jalan buntu. Jadi, ane putuskan untuk berbaring di atas kasur dengan spray bermotif Manchester United. Tak bisa terpejam, demikianlah perasaan saat itu. Tiba-tiba mata tertuju pada sebuah aksesoris gantungan kecil berbentuk bunga bangkai. Aksesoris itu adalah pemberian seorang sahabat dari kampung halamannya, yaitu Bengkulu. Karena bunga bangkai atau Raflesia arnoldi itu berasal dari Bengkulu.

Bicara mengenai Bengkulu, ane pun ingat beberapa bulan yang lalu. Saat libur akhir semester genap, ane liburan ke Bengkulu. Sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatra. Jadi, saat itu adalah pengalaman pertama ane melintas ke luar Pulau Jawa. Dari Bandung, ane memakai transportasi darat, yaitu bis lintas provinsi. Sengaja, ane tak menggunakan pesawat, karena sudah pasti tak terlalu mengesankan. Konon perjalanannya hanya 45 menit. Jadi tentu tak dapat menikmati perjalanan dan pemandangan. Ya, demikianlah alasan tepat yangdapat menutupi kekurangan ane.

Ane berangkat dengan seorang sahabat. Berdua. Dengan ongkos Rp 300 ribu, ane mendapat tiket perjalanan Bandung-Bengkulu. Lumayan, dapat bis AC Executive. Perjalanan dimulai pada pukul 08.00 WIB di Jalan Soekarno Hatta bandung, tempat pool bis Bengkulu Kito. Perjalanan dimulai dengan doa. Apalagi ane mendapat pesan dari babeh di rumah, banyak-banyak berdzikir karena di Sumatra banyak hutan. Yayaya, korelasi yang cukup benar.

Perjalanan di Jawa memang tidak terlalu membuat ane kagum toh karena ane sudah hapal dengan jalur yang akan dilalui. Bandung-Jakarta so pasti lewat jalan tol Cipularang. Oya, tau gak, kenapa disebut jalan tol? Karena konon para pekerjanya laki-laki semua. Wkuakakaka. Sepanjang tol Cipularang, awaln masuk dari gerbang tol Padalarang maka yang akan kita lihat pemandang Purwakarta. Dulu, sebelum jalan tol adalah gunung yang penuh berbatu. Maka dengan kecerdasan manusia, gunung dapat dibelah dan jadilah jalan tol. Tapi, apakah mereka bisa mengubahnya seperti semula?

Kemudian kita akan melewati beberapa kabupaten : Subang, Karawang, Bekasi, dan akhirnya masuk wilayah Jakarta. Setelah menembus metropolitan melalui jalan tol dalam kota, kita masuk ke wilayah provinsi Banten. Provinsi yang beraroma keadilan gender, karena dapat membuktikan bahwa perempuan pun dapat memimpin. Buktinya, gubernur dan Kapoldanya pun perempuan.

Pemandangan baru bagi ane adalah pemandangan di akhr jalan tol Merak. Ya, Merak adalah pelabuhan terkenal di ujung barat Jawa. Pelabuhan ini yang menghubungkan transportasi Jawa dan Sumatra. Bis yang ane tumpangi berhenti beberapa saat sebelum masuk kapal untuk menyebrang. Ane berhenti di sebuah restoran dengan view laut Selat Sunda yang menawan. Ombaknya tidak terlalu besar. Saat itu, senja menghiasi hamparan laut Merak.

Tibalah saatnya, bis masuk ke kapal penyebrangan (feri). Saat bis parkir, para penumpang keluar dari bis dan menuju selasar kapal di lantai dua. Saat itu, pemandangan yang terlihat hanyalah laut Selat Sunda dan pulau-pulau kecil yang terdapat di tengah laut. Senja yang semakin temaram bertambah indah dengan burung-burung laut yang berhamburan bebas di atas gelanggang. Satu jam, cukuplah sudah untuk bertadabbur di atas kapal. Akhirnya, ane kembali ke kapal dan bis mulai melaju.

Provinsi pertama yang dipijak di Pulau Sumatra adalah Provinsi Lampung. Daerah yang pertama kali dilewati tentunya Bakauheuni sebagai pelabuhan sentralnya. Kemudian melewati Kalianda, dan ane dan sahabat beserta seluruh penumpang bis turun sejenak untuk makan malam di restoran di daerah Kalianda, Lampung. Saat itu sekira pukul 10 malam. Suasana tidak terlalu aroma perkotaan. Jalan raya yang besar namun tak terlalu ramai bahhkan cenderung sepi. Sesekali mobil pribadi dan angkutan umum antarprovinsi yang melintas. Bis kita pun melanjutkan perjalanannya.

Mencekam

Setelah beberapa saat kita makan malam, bis melaju lagi hingga akhirnya melintas di ibu kota Lampung, yaitu Bandar Lampung. Suasana kota baru terasa disini. Sudah ada mal-mal yang gemerlap, jalanan yang besar. Kemudian bis bergerak ke arah barat terus hingga akhirnya kita memasuki sebuah daerah bernama Liwa.

Terasa suasana berbeda. Apalagi saat itu tengah malam. Jalanan sungguh kecil, mungkin hanya cukup dua mobil angkot yang merapat. Suasana daerah sekitar sangat sepi. Kabut menambah perjalan kali ini semakin mencekam. Sesekali bis ngebut, namun harus tiba-tiba direm akibat jalanan terhalang kabut dan berlubang. Kendaraan yang melaju saat itu hanya bis yang ane tumpangi. Walau sesekali dalam hitungan jam, ada bis antarkota dan provinsi ikut melintas dari arah berlawanan. Uniknya, sepanjang jalan berjajar rumah-rumah penduduk yang bentuknya khas Lampung. Banyak pula rumah yang memiliki parabola.

Bis berhenti sekitar pukul 2 dini hari di rumah makan Liwa. Kemudain kembali melanjutkan perjalanan mencekam di tengah hutan Lampung. Ya, memang sepanjang perjalan hanyalah hutan. Kita hanya disuguhi pemandangan gelapnya hutan yang terhalang kabut dengan nyali yang dipertaruhkan akibat jalan kecil dan berlubang. Apalagi saat kita memasuki daerah terakhir di Lampung sebelum memasuki wilayah Bengkulu. Yaitu hutan cagar alam Bukit Barisan. Suasana semakin mencekam. Dalam gelapnya malam dan sunyinya suasana hutan akibat tak ada transportasi yang melaju bersamaan. Kita membelah bukit barisan hingga akhirnya senyum mentari lambat laut nampak di ufuk timur.

View Laut yang Menawan

pantai-bengkuluHutan Bukit Barisan dapat dipastikan terletak di ujung barat Sumatra dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Karena, sesekali pemandangan laut terlihat namun kadang terhalangi pepohonan. Padahal suara gemuruh ombak terdengar di bawah jalanan yang kita susuri. Andai saja pohon-pohon itu tak ada, maka jelas tersingkap pemandangan laut barat Sumatra.

Akhirnya, setelah menembus Bukit Barisan kita mendapati sebuah tugu Selamat Datang, yaitu perbatasan Provinsi Lampung dan Bengkulu. Maka, kita keluar dari hutan Bukit Barisan. Bis berhenti sejenak untuk menemui polisi perbatasan. Kemudian pemandangan yang disuguhkan adalah perkampungan laut. Tak lagi hutan, namun kita melihat kehidupan kampung nelayan. Di kiri dan kanan, banyak rumah penduduk dan sampan, apalagi hamparan pasir putih pantai Bengkulu. Jalan raya yang kita lalui letaknya hanya beberapa meter dari bibir pantai.

Seingat ane, namanya Kabupaten Kaur. Yang jelas, dapat dipastikan mayoritas penduduknya adalah nelayan. Beberapa kilometer, kita akan disuguhi pemandangan laut yang menawan. Hingga akhirnya kita masuk kabupaten selanjutnya. Entah apa namanya, lupa. Suasana pedesaan masih terlihat jelas. Dan, seperti belum tersentuh oleh modernisasi. Namun, entah juga… Akhirnya, ane ‘berlabuh’ di sebuah kota kabupaten, namanya Kota Manna, ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan untuk berhenti sejenak. Cuaca panas menyengat, itulah kesan pertama ketika menapakkan kaki disana.

Kemudian perjalanan berlanjut. Terik matahari nampak lain. Begitu menyegat kulit hingga membuat ane tak lagi melihat pemandangan di perjalanan antara Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kota Bengkulu, yang terletak di kawasan utara. Hingga sampailah ane di Kota Bengkulu.

Mau tau perjalanan ke tempat-tempat wisata di Bengkulu. Nantikan di bagian kedua.

[foto-foto dari koleksi pribadi]

2 comments on “Menyusuri Keindahan Bandung-Bengkulu (Tour Bengkulu 1)

  1. fuja
    1 September 2009

    buruan ya.. da gak tahan dengar beritanya.. kapan n bulan berapa sob…? kabarin ya…

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Desember 2008 by in Jalan-jalan and tagged , , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: