ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Maya dan Syurga Anak-anak

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, begitu riuhnya suara takbir di malam Idul Adha kali ini. Anak-anak kecil begitu semangat dan riang menalu bedug di mushala kecil depan rumah ane. Walau nadanya gak jelas, sesekali mengganti takbir dengan lagu Ungu ato bahkan ‘Heli kukukuk…’ Ya, itulah keriangan anak kecil. Hingga akhirnya mereka lelah dan tertidur sampe jam 4 dini hari sebelum adzan shubuh berkumandang.

Anak-anak berkumpul dalam satu genk, entah apa namanya. Yang jelas di sekitar komplek ane, mereka lah anak-anak yang punya hobi bikin gaduh. Selain kegiatan-kegiatan lain, memang favorit mereka bikin suasana jadi ramai, gaduh, ribut, de el el. Terlebih apabila hari raya menjelang, mereka serasa menemukan momen yang pas. Selain menyambut hari raya, mereka serasa merayakan hari kemenangan bagi genk mereka. Bebas berekspresi tanpa adanya intimidasi pihak-pihak tertentu, seperti Pak Rt, Pak Haji, atau Pak Ustadz yang tinggal di depan mesjid.

Ya, mesjid saat itu menjadi syurga bagi mereka. Bedug adalah aksesoris syurga yang penuh nikmat. Memukul bedug alias tatalu adalah puncak kenikmatan bagi mereka. Bila ane amati, setiap hentakan yang mereka lakukan, adalah satu irama batin yang melepaskan mereka dari segala beban kehidupan.

Biasanya, selain hari raya, mereka akan mendapat ‘sentilan’, teguran, bahkan damprat dari masyarakat sekitar yang merasa tak nyaman dengan kegaduhan mereka. Namun, lain lagi ceritanya kalau momen seperti Idul Adha ini. Tak ada kecaman sama sekali, malah para orangtua menyilakan mereka dengan ikhlas untuk mendiami mesjid sebagai pengganti para orangtua yang malas beraktivitas di mesjid.

Personil the noise team tersebut banyak. Lebih dari delapan, sembilan, atau sepuluh. Tak pernah ada jumlah pasti ketika ane hitung. Namun yang menjadi sorotan adalah ‘ketua’ genk tersebut. Percaya atau tidak, yang menjadi dedengkot di antara mereka adalah seorang perempuan! Perempuan seumuran kelas 4 SD. Dengan penampilan khas, rambut yang pendek, tanpa aksesoris feminis (anting, kalung, gelang), sering bercelana pendek boxer, dan suaranya yang parau dan rentan mengucapkan kata-kata macho khas ‘preman’. Sebut saja namanya Maya.

Sedangkan selain Maya, mereka hanyalah pengikut yang terdiri dari anak-anak ingusan yang semuanya adalah laki-laki, kecuali Maya dan satu lagi, perempuan yang penampilan tak jauh berbeda dengan Maya. Umur mereka berkisar antara 5-12 tahun. Hobinya, main-main khas anak kecil, road show keliling kampung, tatalu di mesjid, bikin gaduh dengan jojorowokan teu puguh, de el el.

Uniknya, ane melihat Maya begitu memiliki ‘wibawa’ sehingga ‘pengikut’ memiliki ketakutan tersendiri. Anak lainnya tak berani untuk menolak ajakan atau permintaannya. Kalau Maya meminta menyerahkan makanan yang dimakan temannya, maka temannya dengan rela memberikannya. Tak segan-segan Maya merebut atau mengeluarkan kata-kata ‘super’ kalau yang lainnya tak nurut.

Anak seperti Maya pastinya banyak di sekitar kita. Anak seperti itu memiliki kecenderungan sifat maskulin, seperti bersifat, bersikap, dan berpenampilan. Ia punya sifat kepemimpinan. Mampu membuat ‘anak buah’-nya takut. Penampilannya pun tak ubahnya seorang anak laki-laki : cara berpakaian (selain seragam sekolah),cara berjalan, bicara,  menata rambut, dan aksesoris lainnya. Ane heran dengan ibunya. Karena memang dia tinggal dekat rumah ane. Ibunya membiarkan saja dengan perilaku anaknya itu.

Dikhawatirkan, perilakunya yang tak dicegah sejak dini berpengaruh pada kondisi psikologisnya dan juga perilakunya di masa depan. Seperti pengalaman seorang teman di SMA, kita sebut dia Pri. Pri berperiaku seperti perempaun, padahal dia seorang laki-laki. Setelah ane telusuri, ternyata sewaktu kecil, ia senang main boneka, dibelikan boneka oleh ibunya, dan terbiasa main dengan perempuan. Akhirnya di usianya yang telah dewasa, ia masih tak bisa menghilangkan perilaku feminisnya itu.

Mungkin, langkah preventif yang dapat dilakukan adalah memberikan pengawasan pada anak sejak dini. Ane bukan psikologi, memang. Setidaknya, ane melihat peran keluarga dalam membentuk karakter anak sangatlah penting. Terutama peran orangtua, haruslah berhati-hati dalam mencetak perilaku anaknya. Dengan tidak memberikan unsur-unsur feminis pada anak laki-laki, dan sebaliknya pada anak perempuan. Efeknya, dikhawatirkan perkembangan anak berimbas pada perilaku transgender.

One comment on “Maya dan Syurga Anak-anak

  1. dasam syamsudin
    9 Desember 2008

    bisa lebih indah menjelaskan surganya, kalau cuma itu kurang asik disurganya donk… he…he… bebas weh nulis mah kamana nu penting nulis. ok. coy

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Desember 2008 by in sosial and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: