ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Shalat Jumat Dimana?

shalat-jumatSiang itu (05/12), ane pulang dari sebuah event yang digelar fakultas. Karena waktu sudah mepet untuk shalat Jumat. Kemudian, ane melaksanakan shalat Jumat di mesjid dekat kos. Kebetulan ane berangkat dan pulang dari mesjid berdua dengan sahabat dekat. Sepulang dari mesjid, sahabat ane membuka dialog sambil kaki melangkah. Menurutnya, ia punya cerita menarik untuk dibagikan. Kisah apakah itu?

Katanya, sehabis menonton acara fakultas, ia pulang dengan beberapa kawan. Salah satu kawan, sebut saja Rahman, menanyakan dimana mereka akan shalat. Lalu sahabat ane, sebut saja Dude –karena ia selalu ingin dianggap identik– mengatakan akan shalat di mesjid kampus. Namun, salah satu kawan lainnya, sebut saja Kalem, melontarkan pendapat yang serius. Yaitu, ia tak ingin shalat di mesjid kampus. Mengapa? Jawabannya, karena di mesjid kampus, shalatnya memakai syahadat dan adzannya sekali.

Dude bertanya iseng (sebetulnya ia tau kalau kaum intelektual tak akan mendebat hal itu), “Memang kenapa, Lem?”

“Kurang afdhal aja,” ungkapnya kalem dengan menyitir sebuah hadits.

Dude hanya tersenyum. Disusul senyum kawan lainnya. Begitu pula dengan ane, senyum. Padahal hanya mendengar cerita Dude. Namun bukan senyum sembarang senyum. Ane lebih ke perasaan khawatir dan kasihan. Ia akhirnya memutuskan untuk shalat di mesjid di depan kampus. Mesjid yang selalu melakukan qunut dan shalat tarawih sebanyak 23 rakaat plus witir.

Mengapa ane khawatir dan kasihan? Khawatir, barangkali banyak teman-teman yang berpikiran sama. Fanatisme terhadap sebuah madzhab. Padahal madzhab kan hanya perbedaan pemikiran dalam fikih atau ibadah. Apalah arti pemikiran manusia. Ternyata, sampai hari ini, terutama dalam lingkungan kampus –wadah intelektualitas– masih saja ada kawan-kawan yang berpikir sefundamental itu. Dimana masih merasa apa yang dipegannya benar. Sedangkan yang lain darinya adalah kekurangbenaran –kalau tak mau disebut salah.

Tambah pula, ane merasa kasihan. Karena besar kemungkinan hal tersebut menjadi turun-temurun pada anak cucu. Kalau dibiasakan kita tak mampu menjaga nilai-nilai toleransi dan juga menyesuaikan dengan aturan yang berlaku, maka biasanya kita selalu cemas, skeptis, bahkan antipati terhadap nilai-nilai yang memang tidak sesuai dengan apa yang kita yakini. Termasuk dalam hal perbedaan pandangan fikih atau ibadah, yang biasa disebut khilafiyah.

Duh, jangan sampai ane menjadi seseorang yang fanatik terhadap salah satu madzhab. Konon agen perubahan atau biasa digelari kalangan intelektual berpikir  lebih mengedepankan aspek-aspek rasional. Sehingga tercipta sistem berfikir yang cermat dan tepat. Mengeliminasi asumsi-asumsi buruk dari sebuah perbedaan.

[foto diambil dari beritamaya.wordpress.com]

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 Desember 2008 by in religius and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: