ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Cara Bahaya Cerahkan Jiwa

cerahkan-jiwaPagi itu ane baru pulang dari kos temen. Biasa, baru nginep. Semalam, selain sudah mengerjakan tugas, ada satu kisah yang perlu kita cermati bersama. Kisah yang banyak muatan pelajarannya. Apa sih? Cerita Nabi Sulaiman, kah? Bukan. Teman ane baru mengalami kejadian itu beberapa hari minggu lalu sejak bercerita ke ane. Sebut saja, namanya Fadil, biar ane enak ceritanya.

Fadil adalah teman ane. Ya, lumayan dekat lah. Ia pribadi yang riang, pintar, juga senang berorganisasi. Siapa sangka, kalau ternyata Fadil juga sering dilanda masalah. Tapi, ajar juga sih. Kalau setiap manusia ditimpa masalah. Namun, biasanya Fadil bukan tipe orang yang sering mengeluhkan masalah atau bahkan menampakkannya pada teman lainnya. Sehingga, suatu malam ia bercerita pada ane.

Ia mengaku kalau selama ini ia menyimpan masalah besar. Ia tak bicara banyak tentang masalahnya. Namun ia lebih menceritakan bagaimana ia memecahkan masalah. Selama ini Fadil tak pernah bercerita tentang bagaimana ia menyelesaikan masalah, karena memang ia nampak tak pernah bermasalah. Namun ternyata ia menyimpan sesuatu yang teman-temannya tak tahu. Dengan senang hati, ia bercerita pada ane.

Fadil mengenal seorang kawan saat itu. Perkenalan ini membuat Fadil sering share berbagai hal dengan kawan barunya itu. Kawannya itu laki-laki. Ia sering diskusi mengenai ilmu-ilmu Islam atau hal lain yang berhubungan dengan Islam. Fadil pun tertarik. Ia juga mengaku bahwa kawannya itu, sebut saja Fikri, adalah orang yang enak diajak diskusi terlebih Fikri selalu menawarkan solusi untuk setiap masalah Fadil. Fadil pun percaya.

Semenjak itu, Fadil sering berdiskusi dengan Fikri. Fikri tak lelah memberikan quote atau testy yang berisi ayat-ayat al-Quran. Ataupun semacam pencerah jiwa. Tak pernah ada orang yang tau bahwa Fadil sering konsultasi dengan Fikri. Kemudian Fikri mengajak Fadil untuk ikut pengajian al-Quran dengannya di Kota Bandung. Ia juga mengajak Fadil untuk ikut organisasinya, entah apa namanya. Fadil begitu saja tertarik, namun ia masih berpikir-pikir karena pertimbangan waktu dan ongkos, mengingat kegiatannya satu minggu sekali dan cukup jauh.

Tak terbesit sedikit pun bahwa Fikri akan membawa Fadil mengikuti kegiatan-kegiatan yang ‘aneh’ atau ‘berbahaya’ seperti pengalamannya dulu dipaksa ikut satu kegiatan gak jelas yang akhirnya dia tahu kalau itu N-I-I, sebuah gerakan yang mendekati makar. Lama sudah hubungan pertemanan mereka. Fadil mengaku setiap ada masalah sedikit apapun ia share dengan Fikri.

Konon, Fikri selalu mencerahkan jiwa Fadil. Menurutnya kegiatan Fikri selama ini adalah belajar al-Quran pada salah satu perguruan di Sumedang. Fadil yang tanpa disangka memiliki masalah yang cukup berat harus menemui Fikri kala itu. Akhirnya Fadil memutuskan untuk ikut perguruan yang ditawarkan Fikri. Namun Fikri meminta Fadil membawa uang sebesar 500 ribu. Untuk apa? Uang itu adalah uang infak yang harus dibayar oleh Fadil. Konon, kesalahan manusia atau biasa disebut dosa dapat diperbaiki dengan banyak berinfak. Fikri selalu menyitir beberapa ayat. Lalu dalam berinfak, kita punya “aturan main”-nya. Karena kalau saja infak dalam jumlah kecil, maka bagaimana bisa menghapus dosa yang setiap hari baik disengaja mapun tidak, itu selalu dilakukan. Oleh karena itu, sang “imam” lah yang dapat menentukan besaran infak itu.

Ane cukup kaget, mengingat Fadil adalah orang yang cerdas dan kritis. Tak mungkin ia begitu manut dan tak sedikit pun berani mengomentari bahkan membantahnya. Padahal dulu Fadil pernah “dikejar-kejar” oleh salah satu anggota NII dan dipaksa masuk, namun ia begitu kritis sekali sehingga orang yang mengejarnya pun menyerah. Dalam hal ini, Fadil mengaku saat itu entah mengapa ia tak bisa membantahnya. Ia seperti tunduk dan tak bisa berpikir logis. Entah kenapa, akunya.

Lalu malam itu, Fadil dan Fikri membuat janji akan menemui sang imam di kawasan Jatinangor. Fikri bilang, mereka dapat menemui sang imam pada dini hari setelah shalat tahajjud. Fadil saat itu hanya punya uang Rp 300 ribu, dan ia berencana hanya membawa Rp 100 ribu saja. Tapi, entah mengapa dan entah dalam pengaruh apa, Fikri meminta Fadil membawa semua uang yang dimiliki Fadil tanpa tersisa sepeser pun. Malam itu, pergilah Fadil ke kamar Fikri terlebih dulu.

Saat itu, Fikri dan Fadil masih saja berdiskusi dan Fadil merasa saat itu ia mendapat konsultasi spiritual yang amat berharga dan mencerahkan jiwanya. Fadil menginap di kamar kos Fadil di depan salah satu plaza di Bandung Timur. Lalu pada pukul 02.00 dini hari, Fikri membangunkan Fadil. Mereka pergi dini hari ke perguruan al-Quran yang diceritakan Fikri.

Setelah sampai, Fadil agak sedikit heran karena tak sedikit pun tempat itu mencerminkan pesantren atau tempat belajar al-Quran pada umumnya. Namun di sebuah ruangan yang tak seperti mushala, banyak orang berkumpul hendak melakukan shalat tahajjud berjamaah. Fadil dan Fikri pun ikut serta. Setelah itu, Fadil dibawa Fikri menghadap sang imam. Imam itu tak terlalu tua, sekitar 30 tahunan. Fadil lupa namanya siapa. Hingga akhirnya terjadi perbincangan.

Mengagetkan, Fadil mengaku tak ingat apa saja kejadian pada shubuh itu. Setelah terjadi perbincangan mengenai identitas dan hal-hal pribadi lainnya, Fadil tak ingat lagi apa kejadiannya. Yang jelas, saat itu sehabis shalat shubuh, Fadil baru ingat ia sudah menandatangani sebuah surat seperti surat kontrak bahwa ia akan memberikan infaknya sebesar Rp 300 ribu perbulan hingga satu tahun. Tercenganglah Fadil saat itu. Seperti baru saja tersadar dari pengaruh gendam atau memang rasionya telah kembali normal, Fadil pergi begitu saja meminta Fikri mengantarkannya hingga ke kos. Saat itu, Fadil langsung menyadari bahwa ada yang tak beres dengannya, Fikri, dan perguruan itu.

Fadil baru sadar bahwa ia dalam keadaan tak sadar saat itu. Tapi ia ingat betul bahwa ada semacam kewajiban moral setelah ia menandatangani surat yang “tak jelas” itu. Ia merasa diperas, seluruh uangnya habis, dan Fikri bukanlah seorang teman yang ia pikirkan selama ini. Ia down saat itu. Ia merasa ketakutan. Merasa Allah sedang marah padanya. Parahnya, Fadil merasa diri murtad dari Islam yang benar.

Esok harinya, Fikri terus melakukan hubungan dengannya. Ia mengirimkan SMS atau email yang isinya pencerahan-pencerahan yang disitir di dalamnya ayat-ayat al-Quran. Ekstremnya, Fikri bilang bahwa ketidaksetiaan kita pada sang imam adalah bentuk murtad! Mulai saat itu, Fadil mulai menyadari bahwa Fikri mengajarakn sebuah ajaran yang menyesatkan dirinya. Yaitu dengan menguras uangnya. Oleh karena itu, Fadil tak ingin menemui Fikri bahkan ia merasa dimata-matai oleh “kawan-kawan” Fikri lainnya, terlebih ia sudah menandatangi surat perjanjian yang bermaterai. Tapi tak apalah, ia harus menjalani hari-harinya seperti biasa.

Sontak ane tak bisa berkata-kata. Demikianlah cerita yang disampaikan Fadil. Intinya, Fadil sedang mencari sebuah pencerahan bagi jiwanya. Bagi masalah hidupnya. Yang tak seorang pun tau, apa yang sebenarnya menimpa Fadil hingga ia demikan nekad mendekati hal-hal seperti itu.

[gambar dari maulanusantara.wordpress.com]

2 comments on “Cara Bahaya Cerahkan Jiwa

  1. Ping-balik: Wawancara Seputar Blog | Elfarizi

  2. Ping-balik: Robot Kangen « Catatan Elfarizi

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Desember 2008 by in kampus, religius and tagged , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: