ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Indonesia (Sudah) Merdeka, Bung!

Tadi saya bercengkrama dengan salah seorang teman. Ia pakai t-shirt, jeans belel, dan topi. Pertama liat, ia agak menekuk dahi. Wah, nampak sedang bad taste alias BT. Namanya Eyk. Agak sedikit males, saya bertanya, “sedang apa?”

Ia menjawab. Cukup panjang dan rumit apa yang dikatakannya. Yang jelas, dia sedang bokek dan hendak pulang ke rumahnya untuk munggahan. Kasihan juga. Ia mengaku tak punya uang sepeser pun. Aku agak merogoh kantong. Sama saja, kurang lebih sama. Saya juga lagi defisit alias ma fiih fulus.

Kemudian, Eyk mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebatang Dji Sam Soe. Diambilnya pula korek api gas. Pushhh, api tersulut dan asap mengepul. Tiba-tiba rasa kasihan saya pudar. Kok bisa-bisanya ngerokok, padahal katanya tak punya duit.

Eta bisa ngaraokok?” — Itu bisa merokok. Aku tanya heran sambil agak jengkel.

Nya, rokok mah moal bisa absen atuh,” — ya, kalau masalah rokok, ngga bisa absen. Selorohnya santai.

Cenah teu boga duit?” — Katanya nggak punya uang.

Ah, jang rokok mah aya wae.” — Ah, kalau buat rokok ada terus.

Jreng. Melihat penampilannya, saya juga percaya Eyk agak kesulitan duit. Ya, sedang bokek, maksudnya. Tapi, entah dari mana rokok itu bisa ada dalam genggamannya. Mengapa barang yang mengandung nikotin, tar, sianida, dan ribuan zat racun lainnya itu bisa ia dapatkan saat kondisi kantongnya benar-benar kering.

Sebenarnya saya nggak perlu terlalu kaget. Tetangga saya tukang becak. Istrinya, nggak pernah terlewat dengan kata mengeluh. Tak punya duit adalah kendala terbesar di keluarganya. Ya, maklum sang bapak cuma jadi tukang becak. Istrinya mengaku suka makan seadanya, dan kadang anaknya yang ada empat itu harus rela meliburkan diri akibat tak ada duit. Satu hal yang buat saya salut, babehnya nggak pernah lewat ngepul depan mesjid. Setiap saya liat, perasaan –pake feeling, cuy– nggak pernah tangannya maen-maenin benda lain selain rokok.

Beberapa waktu lalu saja. Waktu itu saya naik angkot Cicaheum-Ledeng. Supirnya orang Batak. Marah-marah — kata urang Sunda mah gugulunu — karena penghasilannya hari itu sangat sedikit. Ia memvonis nggak bakalan bisa makan hari itu bersama anak-istrinya. Pemandangan yang saya liat, si Batak itu marah-marah sambil ngepul alias ngerokok juga.

Masih banyak pengalaman yang menggelikan bagi saya. Apalagi di rumah sendiri. Secara, aktornya abah sendiri. Mengapa menggelikan? Ya, potret kehidupan masyarakat Indonesia yang sudah akrab dengan rokok. Kebiasaan yang sudah membudaya. Sangat sulit membuat perokok itu sadar bahwa yang dilakukannya itu mendzalimi orang karena benar-benar mengganggu. Wah, padahal kata abah, doa orang-orang yang terdzalimi itu makbul alias dikabulkan.

Kenapa ya, orang mau-maunya ikut-ikutan budaya orang Indian. Ya, rokok kan disinyalir sebagai kebiasaan orang-orang Indian Inca 3000 ribu tahun lalu. Katanya, dulu Columbus pas pulang dari Amrik hendak ke Eropa, membawa budaya tersebut ke Eropa dan akhirnya tersebar ke seluruh dunia. Wah, dasar si Columbus. Kurang asem bannget, ya! Membuat orang-orang terhipnotis dengan rokok. Berarti dia yang cari gara-gara.

Sebenarnya hati para perokok tuh tertutup. Pura-pura tak tahu dengan apa akibat merokok. Panjang lebar saya tulis bahaya rokok (di tulisan sebelumnya). Jelas-jelas rokok itu pelan-pelan mematikan kita dengan ribuan racun yang terkandung di dalamnya. Padahal kata Pak Ustaz, Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Alah Maha Penyayang kepadamu.” Katanya ayat itu ada di Surat An-nisa : 29.

Wah, perasaan abah juga pernah ceramah dan mengutip ayat, “Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” Katanya itu ada dalam Surat Al-baqarah : 195. Jadi, kalau gitu membiarkan racun-racun rokok itu merusak seluruh organ tubuh kita, itu juga membiarkan dalam kebinasaan donk. Wah, abah nggak takutnya sama rokok?

Kalau saja semua sadar. Indonesia (sudah) merdeka, bung!

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 Agustus 2008 by in gaya hidup, kesehatan, religius and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: