ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Indonesia Merdeka, Bung!

Malam itu, saya hendak mengunjungi kasur untuk bermanja-manjaan dengannya. Saat itu, saya memang sedang ada di rumah. Tiba-tiba sebuah suara memanggil, ternyata abah. Abah minta dibelikan rokok. Sampoerna kretek, pinta beliau. Bergegas kaki melangkah. Dan, tak kurang dari lima menit, saya kembali ke rumah dan memberikan rokok tersebut.

Ema terlihat sedikit jengkel. Raut mukanya seolah menahan sesuatu untuk diucap. Mungkin ema ingin berkata, “Meuni bandel bapak maneh teh!” –Bandel banget, bapak kamu tuh! Ibarat menjawab apa yang hendak ema katakan, saya berkata. “Tenang, Ma. Bentar lagi rokok kan haram kata MUI,” celetuk saya yang tak sadar mungkin akan terjadi perang dunia ketiga akibat celotehan ringan itu.

Satu. Dua. Tiga.

“Ah, teu haram.” — Ah, nggak haram. Tiba-tiba abah bersuara.

“Kata MUI.” Saya menegaskan. Takut dikira saya yang berijtihad sendiri.

“Dari dulu, hukumnya jelas. Makruh.” Dingin.

“Tapi, kan, ini fatwa MUI. Memang baru keluar. Itu sebagai antisipasi agar anak muda dan anak yang di bawah umur menghindari rokok. Lagi pula itu kan sangat besar manfaatnya, terutama menyelamatkan para perokok pasif yang selalu jadi korban.”

“Eh, ieu mah. Dari dulu para ulama sudah megatakan rokok itu makruh. Toh, guru abah juga dulu kalau ngajar sambil merokok. Kata siapa banyak manfaatnya (dengan berlaku fatwa haram), coba lihat nasib para pekerja yang lahannya dari rokok. Para pekerja pabrik rokok, penjual rokok eceran, dan petani tembakau.”

“Tapi, bagus lah.”Saya mengatur emosi. Sedikit menghentikan perdebatan. Toh, saya sangat malas berdebat dengan abah. Terlalu lemah. Beliau terlalu jago. Jago ngomong. Biarlah, saya terlihat kalah.

“Kalau rokok haram. Gaji karyawan pabrik rokok haram. Warung yang jual rokok haram. Bahkan yang nerima bea sisiwa dari pabrik rokok juga haram.”

Drrrrrrrrrrrrrrrrrt. Bea siswa? Aw, aw,aw. Kata terakhir cukup membuat saya tertegun. Apa iya, haram. Bukannya saya sedang mengajukan beasiswa ke salah satu produsen rokok? Oh, relakah saya membatalkannya hanya karena rokok haram.

Terlalu rumit. Kalau bicara dengan ustadz, semuanya jadi salah, Jelas-jelas sesuatu yang mematikan masih boleh dikonsumsi. Setidaknya status makruh cukup membuat bahwa rokok itu tak layak dikonsumsi. Makruh itu dibenci Allah. Mau ya, Pak Ustadz dibenci Allah?

Mungkin terlalu banyak orang tau bahwa rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida.

  • Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru.
  • Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan.
  • Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Terus saya buka lagi artikel yang sempat saya baca waktu ikut rapat di Lembaga Pencegahan Penyakit Akibat Merokok (LP2AM), konon katanya efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok):

  • 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan
  • 4x menderita kanker esophagus
  • 2x kanker kandung kemih
  • 2x serangan jantung

Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.

Dan, yang lebih serem lagi walaupun kita nggak merokok, kita masih menghisap asap rokok dari perokok alias merokok secara pasif (passive smoking). Dibanding dengan asap aliran (mainstream smoke), asap aliran sisi yang keluar dari puntung rokok (mainstream smoke) mengandungi :

  • 2 kali lebih banyak nikotin
  • 5 kali lebih banyak karbon monoksida
  • 50 kali lebih banyak kimia yang menyebabkan barah
  • 3 kali lebih banyak tar

Ooooh, apa itu tak terlalu menakutkan. Sekali lagi. Perokok pasif lebih berisiko terkena penyakit pernafasan dari pada si perokok aktif tersebut. Mungkin hal seperti ini cuma gertakan yang tak menggoyahkan pikiran “pria-pria” macho disana. Sok lah, mangga. Sami wae da bencong salon ge ngararoko.

Rokok. Sebatang lilitan tembakau. Pelan-pelan, merasuki organ makhluk lain. Meracuni. Merusak. Kemudian, membunuh. Merokok berarti membunuh pelan-pelan. Menjual rokok berarti memfasilitasi orang tuk membunuh. Meminjamkan korek pada orang yang hendak merokok berarti sama-sama memfasilitasi. Dan, kata teman saya yang kuliah di jurusan tetangga, “Membunuh itu haram.” Ayolah, bebaskan Indonesia dari asap rokok. Indonesia Merdeka, Bung!

4 comments on “Indonesia Merdeka, Bung!

  1. sapiperah
    17 Agustus 2010

    Semoga bermanfaat…

    • elfarizi
      3 September 2010

      terimakasih.

  2. elfarizi
    15 September 2008

    Thanx ya, F!

  3. F
    10 September 2008

    Salut sama tulisan ini🙂

    Jzklh

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29 Agustus 2008 by in gaya hidup, kesehatan and tagged , , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: