ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Berkhayal Siang Hari

Siang ini (23/8), ramainya kampus ane. Lalu-lalang manusia yang masih bernafas. Teriakan lantang para penjaja jasa. Kampus tak ubahnya seperti Pasar Gede Bage. Lapangan bola yang nggak terlalu luas –yang lebih mirip padang pasir berdebu– mendadak disulap menjadi lahan parkir. Mesjid menjadi pengap akibat hiruk pikuk manusia. Jalanan depan kampus macet, terganggu dengan kondisi kampus yang mendadak seperti itu dua kali dalam setahun. Ya, hal tersebut akibat adanya acara wisuda. Oh, wisuda.

Seorang teman juga ikut diwisuda. Karena ia selesai mengerjakan semua tugas di kampus. Empat tahun adalah waktu yang pas baginya, dan bagi semua orang. Karena kebahagiaannya itu, ia menyedekahkan tumpeng alias nasi kuning untuk teman-teman di Persma. Wah, ucapan selamat pun keluar dari mulut ane yang tak tahan dengan harumnya nasi uduk yang ia hadiahkan.

“Duh, meuni geulis nya ari wisuda mah?” Pujiku, — Duh, kamu cantik sekali saat wisuda.

“Ah, bisa aja.” Balasnya tersipu.

Ane emang pintar memuji. Proporsional seh. Antara memuji manusia dan Sang Khaliq. Tapi, pujian tadi lebih agar ia cepat-cepat meresmikan acara makan tumpeng kali ini. Karena hidung ane tak terlalu tahan dengan aroma makanan yang lezat dan favorit, seperti nasi kuning. Akhirnya, nasi pun diombang-ambing. Dihantam. Diperlakukan secara tidak wajar oleh semua teman ane. Wah, wah, nggak inget ya dengan anak-anak Palestina?

Sebelum nasi disantap, teman ane yang diwisuda tadi lebih dahulu meninggalkan kantor Persma. Wah, kemana perginya si cinta? Oh, mungkin punya urusan lain. Biasa setelah wisuda pasti ada urusan baru selain kuliah. Tapi mungkin juga ada yang kuliah lagi. Maksudnya, lanjutin S2.

Kabita. Itu yang ane rasain. Kabita itu artinya jadi pengen. Katanya wisuda itu akhir perjuangan kita di kampus ini. Mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan dengan apa yang telah diberikan orangtua secara moril maupun materil. Wisuda juga nampaknya awal perjalanan baru. Perjalanan meniti hidup mandiri. Setidaknya itu yang akan ane alami. Kalau ane wisuda, berarti perjalanan baru bagi ane untuk meniti hidup mandiri.

Mandiri itu, menurut ane, melepaskan ketergantungan biaya pada orangtua. Cukup. Tak perlu abah ema di rumah mencari-cari akal bagaimana agar ane bisa dikirim. Dikirim uang, maksudnya. Toh, begitulah standar yang berlaku di keluarga ane. Dan, kata abah begitu standar kebanyakan orang. Yaitu, berhenti dari ketergantungan itu saat tamat S1. Mau kuliah lagi? Cari aja sendiri…

Wisuda, momen yang menjadikan mahasiswa menjadi layak dipanggil sarjana (kalau yang diambilnya S1). Saat itu, ane akan merasa bahwa ‘atribut’ tersebut akan menjadi beban moral. Toh, kita akan bersaing di luar sana dengan orang yang sama-sama sarjana. Bersaing mencari penghidupan. Daftar seleksi PNS. Atau menjadi wirausahawan.

Wah, karena ane hanya bisa berkhayal jadi sarjana, dan belum merasakan tanggungan moral apa yang akan dibawa setelah wisuda, so ane nggak bisa melanjutkan tulisan ini. Jujur, ane bingung, Pasti, yang hari ini baru diwisuda sudah tau agenda ke depan dengan membawa ‘gelar’nya masing-masing? Atau jangan-jangan masih bingung juga? Nalo…

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Agustus 2008 by in kampus and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: