ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Penyakit Menular di Kampus

Kemarin (20/8), saya tanya sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan saya.

“Pada kemana neh?”

“Nggak ada.”

Maksudnya ngga ada yang jaga. Saya sebagai warga jurusan yang baik menyempatkan diri ke stand expo jurusan saya. BSA –Bahasa dan Sastra Asing. Ia pun pergi. Saya duduk sendiri di stand tersebut. Ceritanya ikut jaga. Secara saya juga dapat jabatan berarti di Hima-J, sebagai Ketua Bidang Pengembangan Pers Mahasiswa. Lagi-lagi berhubungan dengan pers. Padahal saya kan bukan anak jurnalistik.

Saya duduk sendiri. Tiba-tiba datang seorang senior bernama Anay. Ia duduk di samping saya.

“Kamana wae?” — Kemana aja, tanya saya.

“Aya wae.” — Ada aja, jawabnya singkat.

“Wah, naha teu jaraga?” — Wah, kenapa nggak ada yang jaga.

“Duka, saya ge karek kadieu.” — Nggak tahu, saya juga baru kesini.

“Oh!” — Tak perlu terjemahan!

Nggak terlalu singkat cerita. Ia sedikit curhat kalau di kelasnya ada sedikit perpecahan. Perpecahan itu memang tak asing lagi bagi mahasiswa kampus saya. UIN — Universitas Impian Nenek. Konon, politik disini begitu kuat. Sehingga rentan terjadi perpecahan antara mahasiswa karena perbedaan cara pandang ideologis organisasi masing-masing. Dan, itu yang saya tangkap dari Anay. Senior saya yang barusan curhat.

Saya cuma tersenyum. Tak terlalu kaget. Setidaknya itulah yang saya lihat dari kelas saya sendiri.

Dulu, orang-orangnya asyik. Kompak. Akrab. Pemikirannya juga masih polos-polos. Sebagian sih. Soalnya, ada yang masuk ke kelas saya dengan membawa beban umur yang berat alias muajdul — maksudnya muka jaman dulu. Tapi biasanya, alumni SMA seperti saya masih membawa jiwa SMA ke dalam kelas dan kampus. Tapi sebab organisasi yang mereka ikuti, ada saja perubahan dari diri mereka. Mengerikannya, perubahan itu dari tingkat wajar hingga tingkat ekstrem.

Kalau saya berpendapat bahwa organisasi itu mendewasakan (lihat tulisan saya sebelumnya), itu memang benar. Tapi tak lupa saya berargumen bahwa kadang banyak teman yang salah kaprah dengan makna organisasinya. Coba, kalau semua ikut Persma mungkin sepakat. Itulah fungsi Persma itu netral. Apalagi di kampus ane yang rentan kena penyakit politik. Atawa, paling tidak teman-teman ikut ekskul yang lebih menekankan pentingnya mengasah bakat. Seperti Persma, pembinaan bahasa, belajar dakwah, atawa olahraga. Ekskul yang ane sebut insyaallah tidak terlalu mendoktrin politik yang terlalu kuat atau bahkan nol. Tapi, bisa juga terjadi karena beberapa sebab yang rumit tuk dibicarakan.

Balik lagi ke teman di kelas ane. Di kampus ane ada tiga organisasi pergerakan mahasiswa yang besar kekuatannya. Ada PMII, ada HMI, ada KAMMI. Semuanya kegiatan ekstra kampus. Seperti jenisnya, organisasi pergerakan biasanya mengumpulkan massa yang banyak. Itu alasannya agar bisa bergerak. Masing-masing punya idealisme. Punya visi misi. Dan, landasan pemikiran yang sama-sama kuat. Organisasi tersebut bagus untuk mahasiswa. Bagus untuk calon pemimpin. Para penguasa. Karena di dalamnya belajar berpolitik secara kompleks. Bagus, pokoknya bagus. Makanya, insyaallah jebolannya pada pintar ngomong. Pintar diskusi, pintar “negoisasi”, juga pintar “berjuang”. Daya ciumnya kuat. Biasa mengendus dan mencium bau kotoran di antara jajaran pemimpin hebat.

Entah kenapa, di balik kehebatannya, ketiga organ tersebut seperti memiliki kepentingan masing-masing. Setiap ada pemilihan rektor, tersulut nama-nama tersebut sebagai salah satu pendukung, teranga-terangan atau tersembunyi. Bahkan di tingkat jurusan pun. Pemilihan ketua Hima-J saja, organ-organ tersebut berperan di belakang nama-nama calon. Padahal organ tersebut adalah organ ekstra kampus. Masing-masing organ mencalonkan sebuah nama. Dan, layaknya parpol, mereka mengumbar janji dan berebut gelar pemenang. Ada apa ini?

Hubungannya dengan kelas dan teman-teman saya? Ya, begitulah potret yang terjadi di kelas saya. Dulu, saat pemilihan ketua Hima-J, calon dari sebuah organ ekstra tersebut menang. Sayangnya, dalam perekrutan pengurus Hima-J, si ketua terpilih nampaknya nggak bisa berlaku adil. Kuota tuk jadi pengurus dari organ ekstra yang berbeda darinya sedikit. Seperti tak diberi kesempatan bagi mereka tuk “berkuasa”. Ditambah kesadaran dari mereka yang “tersisihkan” begitu minim. Tak ada yang mau hadir dalam raker — alias rapat kerja.

Halo? saya nggak ngerti. Padahal kita kan mau berjuang untuk jurusan kita. BSA — Bahasa dan Sastra Asing. Tapi mengapa perbedaan itu menyulutkan nita tuk berjuang. Malah BSA-nya yang terbengkalai. Jaga stand saja malas. Tak usah tersinggung! saya menyalahkan diri saya sendiri kok. Toh, saya kan juga pengurus. Tapi saya lebih mentingin jaga stand Persma dari jurusan. Tapi, untungnya saya kan berada di pihak netral. Secara, Pers itu independen. Dan, saatnya Independen Memimpin Kota Bandung, Loh?!?!

Sekali lagi. Ini klimaks ceritanya. Teman-teman saya di kelas juga terjangkit syndrom yang sama. Salah satu kubu dominan di kelas saya. Parahnya, militansinya begitu kuat. Serasa golongan mereka yang paling benar. Yang tersisih adalah yang bukan golongannya. Salah! Bukan itu yang tersisih. Yang tersisih hanyalah yang tak kuat. Biar saya berada di luar kubu-kubu tersebut. Tapi saya bukan orang yang merasa tersisih, toh masih banyak yang musti saya kerjakan di kantor Persma. Yaitu, menulis tentang penyakit yang menular dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang hanya ada di kawasan isolasi UIN — Universitas IAIN Negeri.

Mereka bisa berkata, para pejabat itu haus kekuasaan. Padahal perilakunya dididik sejak dini, di benak para agen perubahan yang berteriak lantang, para pejabat itu haus kekuasaan.

One comment on “Penyakit Menular di Kampus

  1. Ping-balik: Wawancara Seputar Blog | Elfarizi

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Agustus 2008 by in kampus and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: