ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Ikutan Ekskul

Hari ini (21/8), semua stand di expo ospek mahasiswa baru kelar. Berarti tugas terakhir saya adalah beres-beres stand saya, yaitu stand Pers Mahasiswa. Wuiphhh, keren ya? Pers Mahasiswa atawa yang biasa disingkat Persma itu salah satu ekskul yang ada di kampus saya. Di dalamnya, saya mencari fakta-fakta yang ada di sekeliling kehidupan kita. Fakta yang berharga yaitu fakta yang bisa membuat orang terkejut, fakta yang sengaja disembunyikan, atawa fakta yang yang memang belum diketahui mahasiswa kebanyakan. Tapi sejujurnya, sulit! Apalagi fakta di kampus saya pintar bersembunyi. Sebenarnya yang pintar itu yang menyembunyikannya. Ditambah si pencari faktanya nggak teliti, ngga mau cape, atawa bisa jadi takut diancam.

Bicara mengenai ekskul, banyak ekskul di kampus saya. Dari lembaga yang melatih bahasa asing (kayak jurusan saya aja…), ada Pramuka (kayak anak SD aja…), ada Paduan Suara, Pecinta Alam, dan banyak lagi organisasi yang tiap hari kerjaannya debat dan diskusi berbagai masalah. Misalnya masalah agama, Islam, wanita, de el el. Ada juga organisasi yang setiap hari dakwah. Ada yang setiap hari jualan. Wah, banyak banget deh kalau dihitung. Emang ekskul di kampus saya itu terlalu berjubel. Sudah waktunya disunat. Biar kerjaannya nggak nerima duit doang. Padahal orangnya sedikit. Kegiatannya gak ada.

Duh, meuni menyalahkan ya. Padahal bukan menyalahkan, cuma angan-angan. Serasa Persma –ekskul saya– itu yang terbaik. Yang kerjaan unik, rame, dan dinamis. Banyak tantangan, salah satunya kehilangan barang-barang di sekre. Soalnya, bulan ini saja tercatat dua kehilangan di sekre kami : handphone (lumayan) keren dan uang organisasi. Tapi, Persma mencetak orang yang bisa nulis, bisa menyalahkan, bisa nge-gosip, dan juga orang yang berprasangka buruk. Semua dicetak di Persma. Termasuk majalah yang terbitnya tak menentu.

Ekskul itu membuat mahasiswa tak hanya berdiam diri di kosan. Setelah pulang dari kampus, langsung diam di kosan mengerami telur di atas kasur. Itu bagi para cowok. Ada juga yang merebah badan, melepas kerudung yang terpaksa diselipin di kepala akibat peraturan. Itu bagi para cewek. Kalau ikut ekskul, mahasiswa akan mampir di tempat berkumpul yang biasa dipanggil sekre –kependekkan dari sekretariat. Ada juga yang panggil kantor, ada yang nyebut sanggar. Tapi pada intinya sama : tempat berkumpul dan melaksanakan aktivitas. Salah satunya, pencurian terselubung. Saat barang korban sungguh menawan, niat pun muncul tiba-tiba untuk mengutil. Merasakan barang yang dimiliki teman. Benar kata Bang Napi, kejahatan bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan.

Sebenarnya inti dari berorganisasi –dengan memiliki ekskul– itu menjadikan wawasan kita meningkat sedikit dari sebelumnya. Kebiasaan berinteraksi dengan sesama manusia membuat rasa minder berkurang, begitu juga dengan keberanian yang terpupuk sedikit demi sedikit. Demikian setidaknya yang saya rasakan. Dimarahi, diledek, dicaci, karena tak bisa berkomentar saat diskusi atawa rapat. Tapi toh kalau dilakoni bisa juga cuap-cuap depan yang lain. Ya, walau kadang terlalu ngecapruk dan tak jelas rimbanya.

Dengan memiliki teman di luar kelas, saya memiliki teman yang lebih banyak lagi. Jadi pinjam uang tak hanya ditujukan pada kawan seatap saja, tapi kawan di luar kelas pun bisa jadi sasaran. Sekalipun saya punya banyak teman di luar kelas dan organisasi, tapi tetap berteman karena bertemu di organisasi memberi nuansa lain. Sebuah aroma pertemanan yang lebih terarah dan terukur. Coba, kalau teman sekos atau teman main-main tuh, pola pikirnya monoton. Kalau berteman akibat ikut sebuah organisasi itu membuat saya berpacu dengan kemampuan. Apalagi di Persma, orang-orangnya pintar dan cerdas. Ya, pada pinter ngomong juga sih.

Tapi jangan salah kaprah dengan makna organisasi. Jangan terdoktrin terlalu dalam. Sampai-sampai membuat diri merasa inklusif. Mengaku bahwa organisasinya yang terbaik. Biasanya itu organisasi yang tercium aroma politiknya yang pekat. Hati-hati, ah!

2 comments on “Ikutan Ekskul

  1. Ping-balik: Penyakit Menular di Kampus « Catatan Elfarizi

  2. Ping-balik: Beranda 14 : Demi Aku! « Catatan Elfarizi

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Agustus 2008 by in kampus and tagged , , .

Arsip

%d blogger menyukai ini: