ELFARIZI

BERBAGI, BERCERITA.

Kampus, Kos, dan Pesantren

Perkenalkan neh. Nama saya Reza. Kuliah di Universitas IAIN Negeri –disingkat UIN– jurusan Bahasa dan Sastra Asing –disingkat BSA. Saya semester XXX (sensor-ed), tapi entah berapa tahun lagi saya bisa keluar dari kampus ini. Apalagi setiap hari saya berkutat dengan bahasa Arab –salah satu bahasa asing yang ada di dunia. Asing? Maka dari itu, saya pilih jurusan ini. Sekali lagi : Bahasa dan Sastra Asing. Kalau disingkat jadi BSA.

Karena kampus saya adanya di Bandung, maka dari itu, saya tinggal di Bandung. Sebenarnya seh asli Cianjur. Tapi sekali lagi, karena kampus saya di bandung berarti saya tinggal di Bandung. Tinggal di sebuah kamar kos, bukan pesantren ya! Awalnya seh dipaksa musti ke pesantren. Katanya untuk membantu pemahaman bahasa asing yang saya pelajari di jurusan saya. Tapi, saya kapok–punten rada kasar–tinggal di pesantren. Dulu pernah mesantren, maka dari itu saya bisa bilang kapok tinggal di pesantren.

Niat babeh ema seh alus banget. Apalagi yang dipelajari kitab kuning atau yellow book (?), pasti babeh seneng banget. Secara babeh saya orang NU. Bukan NU, tapi Islam. Islam, tapi NU. Nah, itu mungkin yang enak. Di pesantren, konon kualitas religiusitas kita akan tumbuh dengan baik. Ngaji, belajar tepat waktu, solat jamaah, taat pada kyai, dan kebersamaan dengan teman-teman. Tapi banyak juga ‘oknum’ yang memudarkan persepsi tersebut dengan ghasab, tindak pencurian, pacaran terselubung, sampai kejahatan kelamin. Belum lagi pola hidup yang kurang terbina : ngubek-ngubek air bak mandi, ke kamar dengan kaki ledug alias kotor, sampai kasur yang nggak pernah dijemur sampai melahirkan ekosistem di dalamnya.

Oleh karena itu, citra pesantren di mata saya –sendiri– udah terlalu buruk. Bukan maksud mempengaruhi. Toh ini sekedar argumentasi. Ini setidaknya yang saya alami. Makdarit, saya katakan ‘tidak’ pada pesantren. Biar di Bandung, saya tinggal di kosan saja. Insyaallah jaga diri. Insyaallah!

Di kosan jauh lebih enak dari pesantren. Sekali lagi, setidaknya itu yang saya alami. Lebih memacu diri untuk mandiri dan disiplin. Tanpa gertakan. Tanpa aturan. Berbekal didikan ema babeh, saya bertarung dengan waktu dan hawa nafsu. Ke mesjid, itu untuk shalat jamaah. Biasanya yang populer di kosan itu magrib. Kalau di kampus itu Zhuhur dan Ashar. Tapi ya, dibiasakan juga shubuh dan isya.

Kos, enak menyebutnya. Cuma satu kata. Satu suku kata. Satu helaan nafas. Tapi tiga hurufnya. TInggal di kos itu enak. Mandi bebas. Tidur tanpa batas waktu. Makan juga bebas, sebenarnya. Tapi urusan perut itu lain lagi perkaranya. Bebas tergantung sikon. Di kala hidup terhimpit krisis, maka nasi menjadi barang langka yang susah mendapatkannya. Enaknya juga, di kos itu bebas berekspresi tanpa gangguan individu lain. Nulis, gak ada yang ganggu. Baca, gak ada yang muji. Nangis, gak ada yang ledek. Telanjang, gak ada yang teriak. Bahkan tertawa-tawa sampai gila, gak ada yang nyembuhin. Saking privatnya kos.

Tapi semua itu sangat relatif. Toh, saat jari ini mengetik, saya lagi merindukan kos. Sedari siang saya berkutat dengan manusia. Malam ini saya harus menulis berita untuk naik cetak besok. So, saya rindu kos. Otomatis, yang ada di benak saya cuma kos. Kasur. Tidur.

3 comments on “Kampus, Kos, dan Pesantren

  1. Ping-balik: Membaca Teman | ELFARIZI

  2. Ping-balik: Wawancara Seputar Blog | Elfarizi

  3. mikoalonso
    25 Agustus 2008

    suaka pang jienken blog atuh…

Silakan komentar apapun :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Agustus 2008 by in gaya hidup, kampus, religius and tagged , , .

Navigasi

Arsip

%d blogger menyukai ini: