TKBI, Mengetes Kemampuan Bahasa Sendiri

Hari ini hari pertama saya berkegiatan seperti biasa lagi di Bandung. Setelah sekian lama rehat dan mendera pesakitan yang cukup lama (#tsaaa), saya harus mulai mengukuhkan lagi niat buat ngeblog. Ya, karena memang cukup terlena lama dengan hanya berjejaring sosial, bikin kekuatan dan kecepatan jari dalam mengetik menurun drastis. Belum lagi, kemampuan otak buat merangkai huruf jadi tersendat. Hmmm, mungkin ini efek berhari-hari tidur di atas tempat tidur dan kerjaannya cuma makan plus konsumsi obat. Efek lainnya adalah bobot pipi yang makin bertambah, sesuai pengakuan teman-teman di kelas :( (#GarukTiangListrik)

Baca lebih lanjut

Makjleb!

img_1883

Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya.

Foto di atas diambil saat saya memulai kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dua tahun lalu. Terus ada apa dengan foto ini? Rasanya emang gak ada bedanya … Tapi, coba perhatikan sejenak foto di atas dengan saksama. Silakan Sahabat hitung, ada berapa orang yang “tertangkap” kamera? Genap, bukan? Lalu, coba perhatikan pintu yang terbuka di sisi kanan? Di sana tampak bagian luar yang sedikit terlihat … Perhatikan baik-baik. Apa yang sahabat lihat? Adakah yang aneh di sana?

***

Ya, tentu Sahabat akan melihat sesuatu. Demikian pula dengan saya. Namun, bukan itu yang hendak saya bicarakan di sini. Foto ini telah mengingatkan saya pada satu pelajaran penting. Ya, cerita di balik foto ini sulit saya lupakan karena terasa membekas.

Waktu itu hari Jumat. Kelompok KKN kami baru datang hari Kamis sebelumnya. Agenda pertama kami tentu perkenalan dengan warga masyarakat di lokasi KKN (disebut lokakarya). Saya, sebagai ketua kelompok, berencana membuat lokakarya itu Jumat sore atau Sabtu, dengan terlebih dahulu mendatangi ketua dusun (mandor). Hingga waktu shalat Jumat tiba, saya belum juga mendatangi Pak Mandor.

Kagetnya, selepas shalat Jumat dilaksanakan, Pak Mandor tiba-tiba mengumumkan sesuatu di masjid. Intinya, Pak Mandor meminta masyarakat setempat berkumpul di madrasah untuk mendengarkan pemaparan rencana kerja kelompok KKN. Jleb! Makjleb! Sekali lagi, jleb! Saya dag dig dug, gak keruan. Padahal, kelompok kami (termasuk saya sebagai ketua kelompok) belum mempersiapkan segala sesuatunya. Selain memaparkan rencana program, saya juga belum menyiapkan “kata-kata” untuk bicara dalam lokakarya tersebut.

Saya minta beberapa rekan untuk “mewakili” saya bicara depan warga. Tapi, semua enggan. Saya yang sudah diamanahi untuk jadi ketua kelompok terpaksa harus bertanggung jawab. Alhasil, digelarlah acara lokakarya dadakan di madrasah. Masyarakat (semuanya bapak-bapak) sudah berkumpul. Saya dan rekan satu kelompok bergegas merapikan diri dan make up-an barang sejenak.

Di hadapan warga, kami duduk dengan tenang, meski diliputi rasa waswas. Eh, gak tahu deng kalau teman-teman lain. Yang jelas, saya saat itu nervous tingkat Samudera Pasifik. Meski pasang senyum paling menawan seprovinsi Jawa Barat, saya berusaha menyeting otak untuk menyiapkan “kata-kata” yang tepat di hadapan warga.

Ya, yang jadi momok menyeramkan saat itu adalah “bahasa” yang ingin disampaikan, bukan isi pembicaraan yang berupa rencana program. Saya pikir, kalau sekadar berbicara dan memaparkan rencana program, itu bisa direka-reka atau dibicarakan secara mendadak. Tapi, saya terkendala bahasa untuk menyampaikannya.

Warga di sana menggunakan bahasa Sunda. Tapi, bahasa Sunda mereka (Bogor) berbeda dengan dialek bahasa Sunda saya (Cianjur). Bahasa Sundanya berkesan lebih kasar dibanding dialek Cianjur yang lembut. Tapi, bukan itu masalahnya. Mau dialek kasar atau lembut, sejujurnya saya tidak bisa berbahasa Sunda dalam situasi seperti itu. Ya, meski saya biasa bicara bahasa Sunda, tentu akan berbeda antara bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan bahasa yang digunakan dalam–misalnya–forum pertemuan seperti itu. Tidak seperti bahasa Indonesia, saya selalu siap bicara dalam kondisi dan situasi apa pun.

Daripada menggalau gak keruan di depan warga, saya buka saja pertemuan itu dengan salam dan mukadimah alakadarnya. Lalu, saya mulai bicara. Oke, lebih baik saya cari aman. Saya terpaksa pakai bahasa Indonesia! Mulailah saya bicara … Namun, belum sampai 5 menit saya bicara, ada seorang bapak (kalau gak salah ingat, bapak yang duduk di sebelah kanan bapak berbaju kuning) yang nyeletuk spontan. “Da urang mah urang Sunda, geus we ku Sunda atuh, Jang (Kita, kan, orang Sunda. Udahlah, bicara pake bahasa Sunda) …,” ujarnya tiba-tiba membuat saya, lagi-lagi, makjleb! Wajah dan tatapan si bapak itu tampak sinis dan dingin.

Lalu, saya–lagi-lagi terpaksa–bicara dalam bahasa Sunda. Meski terbata-bata, meski selalu berjeda, meski harus berpikir keras mencari pilihan kata yang tepat. Ya, boleh dibilang, MEMALUKAN. Orang Sunda tapi tidak bisa berbahasa Sunda dengan baik dalam komunikasi seperti itu. Jadi, sejak saat itu, saya dapat pelajaran penting bahwa saya harus belajar banyak tentang bahasa ibu saya sendiri. Saya juga harus banyak belajar untuk berbicara bahasa Sunda (public speaking) dan mempraktikkannya saat berkomunikasi dalam masyarakat umum.

Bagaimana dengan Sahabat semua. Sudahkah menguasai bahasa ibu masing-masing?

Bahasa Indonesia-nya Blogger

Bahasa Indonesia kini sedang dikampanyekan untuk menjadi bahasa internasional. Banyak ahli berpendapat bahwa kemungkinan menjadi bahasa internasional cukup besar, karena didukung beberapa faktor, di antaranya jumlah penutur yang besar (penduduk Indonesia saja 237 juta lebih, ditambah penutur bahasa Melayu), pusat kebudayaan Indonesia yang semakin mudah ditemui di beberapa negara, dan bahasa Indonesia banyak dipelajari di beberapa perguruan tinggi negara lain.

Oleh karena itu, mari kita mengenali bahasa Indonesia lebih dekat. Memomulerkan istilah-istilah “buatan dalam negeri” yang mulai kalah dengan istilah asing. Memang hal kecil, namun jika upaya tersebut mulai disadari oleh seluruh masyarakat, tentu kebanggaan berbahasa bisa jadi modal utama sebelum bahasa Indonesia melangkah ke dunia internasional. Selain itu, kita juga bisa menghindari xenoglossofilia :)

Salah satunya, istilah-istilah yang biasa kita gunakan dalam teknologi informasi. Seperti saya sebutkan sebelumnya, ada beberapa istilah asing yang sebetulnya sudah ada padanannya di dalam bahasa Indonesia. Kini, beberapa media massa juga sudah mulai “bertanggung jawab” dengan terus menyosialisasikan istilah-istilah tersebut. Tentu istilah-istilah dalam bahasa Indonesia tersebut terdengar “aneh”, asing, atau bahkan lucu.

Untuk para blogger, istilah berikut pasti sudah sering dijumpai. Yuk, kita lihat ….

Istilah Populer (Asing)

Isitilah Bahasa Indonesia

Account Akun
Add Menambah
Attachment Lampiran
Background Latar belakang
Bookmark Tandai
Browser Peramban
ChatChatting ObrolMengobrol
CopyPaste

Copy-paste

SalinTempel

Salin-tempel

Domain Ranah
DownloadMen-download UnduhMengunduh
Edit Sunting
E-mail Surat elektronik (surel)Pos elektronik (posel)
File Berkas
Forward Terusan, meneruskan
HackHacker

Meng-hack, Nge-hack

RetasPeretas

Meretas

Home Beranda
Hotspot Area bersinyal
InstallMeng-install PasangMemasang

Pemasangan, instalasi

Keyboard Papan tombol
Link Taut, tautan
Log inLog out Log masukLog keluar
Mailing list Milis
Messenger Penyeranta
Mouse Tetikus
OfflineOnline Luar jaringan (luring)Dalam jaringan (daring)
Password Kata sandi/Sandi lewat
Personal Computer (PC) Komputer pribadi
Preview Pratayang
PrinterNge-print PencetakMencetak
Recycle bin Kotak sampah
Remove Menghapus
ScanMen-scan

Scanning

Hasil scan

PindaiMemindai

Pemindaian

Pindaian

Shortcut Pemintas
Sign inSign out Catat masukCatat keluar
SoftwareHardware

Freeware

Shareware

Perangkat lunakPerangkat keras

Perangkat gratis

Perangkat bersama

Timeline (Twitter, Facebook) Lini masa (Twitter, Facebook)
UpdateMeng-update Pemutakhiran, pembaruanMemutakhirkan, memperbarui
UploadMeng-upload UnggahMengunggah
Website Laman

Jadi, jika merujuk pada bahasa Indonesia, ungkapan “Sekarang waktunya update status di timeline, download lagu, sambil kirim e-mail ke si Cinta. Mumpung online, nih” seharusnya menjadi “Sekarang waktunya memperbarui status di lini masa, unduh lagu, sambil kirim surel ke si Cinta. Mumpung daring, nih”. Aneh bukan? Tapi, itulah bahasa Indonesia kita tercinta :)

Loh, kok, ada Cinta Laura, ya? Abaikan :D (sumber: http://artis.inilah.com)

Catatan: Untuk meyakinkan bahwa suatu istilah baku atau ada dalam bahasa Indonesia, silakan diperiksa di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring

Disiram Gara-gara Lupa Bilang Punten

sundafitnah

Ya, Allah betapa sombongnya aku! Selama ini, aku selalu merasa diri ini ramah, selalu senyum meski pada orang yang tidak dikenal, selalu menjaga agar terhindar dari sombong, judes, jutek, dan berusaha menjaga sopan santun. Tapi, kejadian kemarin cukup membuatku jadi benar-benar tertegun. Gara-gara lupa bilang “punten”, kakiku disiram air. Huh! Kesal sih, tapi hmm… anyway, pelakunya juga orangtua, sudahlah, maafkan dan lupakan!

Baca lebih lanjut

Senang Bicara Asing? Bisa Jadi Kelainan!

okkots

“Gak tau deh, innocent banget tuh orang. Kenal juga nggak, sok-sok say hai segala …,” kata seseorang berpenampilan ala mahasiswi dalam bus Trans Metro Bandung. “Ya udah, kalau ngenganggu, di-remove aja,” kata temannya menimpali. “Ya, nanti lah. Pokoknya, sebelum gue confirm, harus dilihat dulu, gue kenal apa nggak sama orang itu!” ujarnya lagi lebih ketus.

Percakapan sehari-hari seperti itu mungkin sudah biasa. Memakai istilah asing dalam komunikasi sehari-hari juga sudah jadi tren yang jarang dipermasalahkan. Tak sedikit orang bicara dengan mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing yang dirasa lebih populer. Namun, tak banyak yang tahu bahwa kecenderungan seperti itu merupakan sebuah kelainan bernama xenoglosofilia. Nah loh!

Xenoglosofilia merupakan suatu kelainan psikolinguistik dengan ciri-ciri apabila orang lebih senang menggunakan istilah asing secara tidak wajar. Yang dimaksud tidak wajar yaitu apabila orang Indonesia–yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Indonesia dan daerah–senang menggunakan bahasa asing dalam komunikasi yang memang tidak menuntut untuk berbicara bahasa asing.

(sumber: google image)

Banyak motivasi dan alasan orang cenderung menggunakan istilah asing tersebut. Biar terkesan lebih berkelas tinggi, lebih keren, gaul, percaya diri, dan lain sebagainya. Gejala xenoglosofilia timbul apabila penutur yang menggunakan istilah asing, namun sebenarnya istilah tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Apalagi istilah asing tersebut digunakan tidak dalam rangka memperjelas komunikasi, namun sebaliknya.

Ironisnya, gejala ketidakwajaran berbahasa ini kian hari semakin dikampanyekan oleh media, pejabat, figur publik, khususnya kaum selebritis. Dalam suatu acara gosip, seorang artis seksi yang dikabarkan akan segera menikah dengan santai menjawab, “Ya, doakan saja. Planning untuk itu memang ada. Kita sudah prepare semuanya.”

Di Jakarta, istilah asing dikampanyekan dengan adanya bus way dan halte transit yang disebut Sky Walk Paid Area (SWPA). Di DPR, calon Kapolri dan Panglima TNI harus menjalani fit and proper test sebelum dipilih. Selain itu, salah satu televisi swasta senantiasa menyajikan breaking news setiap jamnya dan dialog hangat di Todays Dialogue. Bahkan di Bandung, sebuah halte yang dibuat promosi sebuah produk air mineral diberi nama Bus Service.

Belum lagi, kemajuan teknologi ternyata ikut berperan membuat masyarakat gemar berbahasa asing yang sebetulnya masih ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Ingin kenalan, tinggal add saja akun situs jejaring sosialnya. Lagu-lagu dengan mudah dapat di-download. Punya video, foto, atau tulisan dengan cepat dapat di-upload.

Padahal, alangkah tidak sulit membiasakan diri “akrab” dengan bahasa sendiri, misalnya menambah teman di akun jejaring sosial, mengunduh lagu favorit, hingga mengunggah video sendiri. Bahkan, banyak istilah lainnya yang nampak kurang berdaya saing dengan istilah asing yang harus mulai dikampanyekan. Seperti daring (dalam jaringan) untuk online, luring (luar jaringan) untuk offline, dan tetikus untuk mouse.

Selain itu, banyak istilah yang terbiasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, padahal masih bisa dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Seperti miss-called untuk panggilan tertunda, sms alias short message service untuk pesan pendek, charge untuk mengisi (baterai telepon genggam), dan lain sebagainya.

Jadi, sudah siapkah kita mempopulerkan bahasa sendiri? Atau, mau punya kelainan xenoglosofilia? :)