TKBI, Mengetes Kemampuan Bahasa Sendiri

Hari ini hari pertama saya berkegiatan seperti biasa lagi di Bandung. Setelah sekian lama rehat dan mendera pesakitan yang cukup lama (#tsaaa), saya harus mulai mengukuhkan lagi niat buat ngeblog. Ya, karena memang cukup terlena lama dengan hanya berjejaring sosial, bikin kekuatan dan kecepatan jari dalam mengetik menurun drastis. Belum lagi, kemampuan otak buat merangkai huruf jadi tersendat. Hmmm, mungkin ini efek berhari-hari tidur di atas tempat tidur dan kerjaannya cuma makan plus konsumsi obat. Efek lainnya adalah bobot pipi yang makin bertambah, sesuai pengakuan teman-teman di kelas :( (#GarukTiangListrik)

Baca lebih lanjut

Makjleb!

Makjleb!

Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya.

Foto di atas diambil saat saya memulai kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dua tahun lalu. Terus ada apa dengan foto ini? Rasanya emang gak ada bedanya … Tapi, coba perhatikan sejenak foto di atas dengan saksama. Silakan Sahabat hitung, ada berapa orang yang “tertangkap” kamera? Genap, bukan? Lalu, coba perhatikan pintu yang terbuka di sisi kanan? Di sana tampak bagian luar yang sedikit terlihat … Perhatikan baik-baik. Apa yang sahabat lihat? Adakah yang aneh di sana?

***

Ya, tentu Sahabat akan melihat sesuatu. Demikian pula dengan saya. Namun, bukan itu yang hendak saya bicarakan di sini. Foto ini telah mengingatkan saya pada satu pelajaran penting. Ya, cerita di balik foto ini sulit saya lupakan karena terasa membekas.

Waktu itu hari Jumat. Kelompok KKN kami baru datang hari Kamis sebelumnya. Agenda pertama kami tentu perkenalan dengan warga masyarakat di lokasi KKN (disebut lokakarya). Saya, sebagai ketua kelompok, berencana membuat lokakarya itu Jumat sore atau Sabtu, dengan terlebih dahulu mendatangi ketua dusun (mandor). Hingga waktu shalat Jumat tiba, saya belum juga mendatangi Pak Mandor.

Kagetnya, selepas shalat Jumat dilaksanakan, Pak Mandor tiba-tiba mengumumkan sesuatu di masjid. Intinya, Pak Mandor meminta masyarakat setempat berkumpul di madrasah untuk mendengarkan pemaparan rencana kerja kelompok KKN. Jleb! Makjleb! Sekali lagi, jleb! Saya dag dig dug, gak keruan. Padahal, kelompok kami (termasuk saya sebagai ketua kelompok) belum mempersiapkan segala sesuatunya. Selain memaparkan rencana program, saya juga belum menyiapkan “kata-kata” untuk bicara dalam lokakarya tersebut.

Saya minta beberapa rekan untuk “mewakili” saya bicara depan warga. Tapi, semua enggan. Saya yang sudah diamanahi untuk jadi ketua kelompok terpaksa harus bertanggung jawab. Alhasil, digelarlah acara lokakarya dadakan di madrasah. Masyarakat (semuanya bapak-bapak) sudah berkumpul. Saya dan rekan satu kelompok bergegas merapikan diri dan make up-an barang sejenak.

Di hadapan warga, kami duduk dengan tenang, meski diliputi rasa waswas. Eh, gak tahu deng kalau teman-teman lain. Yang jelas, saya saat itu nervous tingkat Samudera Pasifik. Meski pasang senyum paling menawan seprovinsi Jawa Barat, saya berusaha menyeting otak untuk menyiapkan “kata-kata” yang tepat di hadapan warga.

Ya, yang jadi momok menyeramkan saat itu adalah “bahasa” yang ingin disampaikan, bukan isi pembicaraan yang berupa rencana program. Saya pikir, kalau sekadar berbicara dan memaparkan rencana program, itu bisa direka-reka atau dibicarakan secara mendadak. Tapi, saya terkendala bahasa untuk menyampaikannya.

Warga di sana menggunakan bahasa Sunda. Tapi, bahasa Sunda mereka (Bogor) berbeda dengan dialek bahasa Sunda saya (Cianjur). Bahasa Sundanya berkesan lebih kasar dibanding dialek Cianjur yang lembut. Tapi, bukan itu masalahnya. Mau dialek kasar atau lembut, sejujurnya saya tidak bisa berbahasa Sunda dalam situasi seperti itu. Ya, meski saya biasa bicara bahasa Sunda, tentu akan berbeda antara bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan bahasa yang digunakan dalam–misalnya–forum pertemuan seperti itu. Tidak seperti bahasa Indonesia, saya selalu siap bicara dalam kondisi dan situasi apa pun.

Daripada menggalau gak keruan di depan warga, saya buka saja pertemuan itu dengan salam dan mukadimah alakadarnya. Lalu, saya mulai bicara. Oke, lebih baik saya cari aman. Saya terpaksa pakai bahasa Indonesia! Mulailah saya bicara … Namun, belum sampai 5 menit saya bicara, ada seorang bapak (kalau gak salah ingat, bapak yang duduk di sebelah kanan bapak berbaju kuning) yang nyeletuk spontan. “Da urang mah urang Sunda, geus we ku Sunda atuh, Jang (Kita, kan, orang Sunda. Udahlah, bicara pake bahasa Sunda) …,” ujarnya tiba-tiba membuat saya, lagi-lagi, makjleb! Wajah dan tatapan si bapak itu tampak sinis dan dingin.

Lalu, saya–lagi-lagi terpaksa–bicara dalam bahasa Sunda. Meski terbata-bata, meski selalu berjeda, meski harus berpikir keras mencari pilihan kata yang tepat. Ya, boleh dibilang, MEMALUKAN. Orang Sunda tapi tidak bisa berbahasa Sunda dengan baik dalam komunikasi seperti itu. Jadi, sejak saat itu, saya dapat pelajaran penting bahwa saya harus belajar banyak tentang bahasa ibu saya sendiri. Saya juga harus banyak belajar untuk berbicara bahasa Sunda (public speaking) dan mempraktikkannya saat berkomunikasi dalam masyarakat umum.

Bagaimana dengan Sahabat semua. Sudahkah menguasai bahasa ibu masing-masing?