Siapa tak mau menjadi orang baik? Saya kira, banyak orang baik di dunia ini. Dimana-mana pasti ada orang baik. Bahkan, orang disuruh untuk berlomba-lomba jadi orang baik.
Tapi, saya juga kira, orang baik banyak macamnya. Ada yang baik pada diri sendiri dan tak baik pada orang lain, ada yang baik pada diri sendiri dan pada orang lain, ada juga yang baik pada diri sendiri dan pada golongannya sendiri.

Minggu lalu saya menulis sebuah opini non-komersial alias surat pembaca. Beberapa hari kemudian, surat tersebut dimuat di
“Moal menang sia teh! (Gak bakal menang kamu tuh!)” sembur salah seorang lelaki tua yang duduk di bangku depan. Ekspresi itu muncul ketika arak-arakan kampanye capres-cawapres Mega-Pro lewat datang dari arah berlawanan di Jalan Raya Padalarang. Bus Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) Maya Raya yang saya tumpangi berhenti beberapa saat karena macet yang diakibatkan arak-arakan itu. “Panas-panas kieu euh… (panas-panas begini)” tambah kondektur yang juga berdiri di depan sambil memperhatikan penyebab macet itu.
Ada satu hal yang membuat saya tidak betah pertama kali tinggal di Bandung. Lantas saya jadi selalu ingin pulang ke rumah di Cianjur. Dan, alasannya hanya karena makanan untuk sarapan. Saya tidak mendapati makanan favorit saya di Bandung. Makanan itu adalah bubur ayam.
Masyarakat Sunda tentu lebih tahu bagaimana menerapkan pendidikan anak dengan media permainan. Hal tersebut dikarenakan dalam tradisi Sunda, dikenal aneka ragam permainan anak. Permainan atau kaulinan dimainkan anak-anak di waktu senggang mereka di sekolah, sore hari sebelum maghrib, atau hari minggu. Mereka bermain bersama, baik hanya laki-laki atau perempuan, atau berbaur bersama.