Uncategorized


orengan24

Dua hari ini, ada yang nuansa berbeda di kala magrib menjelang depan kos. Tak ada suara khas yang mengiring pengujung senja kali ini. Yaitu, suara penggorengan mas tukang gorengan. Lelaki paruh baya asal Indramayu ini biasanya nongkrong depan kos, menjajakan aneka macam gorengan favorit mahasiswa, seperti : bala-bala, karoket, gehu, ubi, goreng pisang, dan cireng.

(lagi…)

Apa hubungan ketiga kata di atas? Sekilas nampak tak ada kaitannya. Saat sendiri, yang ada hanya lamunan. Dari pada melamun, mending baca buku. Begitu? Tak terlalu benar. Namun setidaknya tiga kata tersebut cukup menggambarkan apa yang selama ini saya perbuat, saya alami, dan saya rasakan. (lagi…)

Memang ada-ada saja tingkah anak kos. Apalagi tingkah masyarakat penghuni kos GM  asuhan BT, yang saya tempati. Kebetulan mayoritas penghuninya beraktivitas di PKS yang diklaim sebagai Pejuang Kemanusiaan Sejati (ya mudah-mudahan). Dari tujuh kamar yang tersedia, ada empat kamar dengan penghuni double yang aktif di PKS dan organisasi ciri khas ikhwan, KAMMI. (lagi…)

Tinggal di Bandung –jauh dari orang tua– memaksa kita untuk tinggal mandiri. Artinya, kita hidup tanpa orang tua, tanpa pelayanan gratis, alias mencari tempat tinggal untuk ditinggali sendiri. Banyak pilihan yang tersedia di Bandung, misalnya pesantren berbayar, pesantren free of charge, atau tempat tinggal sewaan atau biasa disapa kos. (lagi…)

Februari datang!!! Bukan soal valentine, bukan hari pers nasional, bukan pula 28 Februari. Tapi kuliah kembali membayangi. Mungkin kampus ane, Universitas Impian Nenek, senang dengan hal-hal romantis. Jadi memilih awal bulan ini jadi awal perkuliahan semester genap. (lagi…)

Januari segera berkahir. Artinya liburan hampir usai. Ane yang–tumben– menghabiskan liburan di rumah di Cianjur harus segera menemui calon metropolitan, Bandung. Itu artinya ada aktivitas yang harus rela berulang. Berkutat dengan hiruk pikuk kampus dengan segala intriknya. Namun, ada perubahan yang fundamental dalam hari-hari ane ke depan. (lagi…)

palestinHampir dua pekan kita melangkah di tahun baru, hijriyah maupun masehi.Yang jelas, kita sudah merayakan tahun baru itu semeriah mungkin. Terlebih perayaan tahun baru masehi yang sudah membudaya di masyarakat kita. Nampaknya, tak akan sah malam pergantian tahun itu tanpa kembang api, petasan, dan keramaian di malam detik-detik pergantian.

Sebagian kalangan lebih ’sadar’ merayakannya dengan berdzikir atau berdoa bersama. (lagi…)

Halaman Berikutnya »