Oleh : Reza Sukma Nugraha
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan pluralitas suku, budaya, dan agama. Konon, selalu didengung-dengungkan bahwa ujung tombak perjuangan dan masa depan bangsa ini terletak pada pemuda sebagai harapan bangsa. Bukan berniat melemahkan, namun keadaan nyata menunjukkan perilaku segelintir pemuda malah membawa rasa pesimistik di antara pemuda itu sendiri. Oknum tersebut, misalnya, tergabung dalam geng motor yang selalu membawa aksi brutal, pelaku tindakan kriminal, dan lain-lain.
Mendengar kata pemuda, tentu stigma yang muncul adalah pemuda sebagai harapan bangsa. Pemuda dengan ‘kemudaan’ jiwanya mampu melahirkan sejuta prestasi dan mewujudkan kepemimpinan yang ideal bagi kemajuan bangsa. Sayangnya, saat ini jargon tersebut agaknya dikacaukan dengan perilaku segelintir pemuda yang lama-lama dikhawatirkan menjadi satu penyakit bagi bangsa ini. Bahkan, hal tersebut dapat menimbulkan rasa pesimistik bagi para pemuda itu sendiri.
Kalau disebut-sebut jaringan teroris semacam Noordin M Top lebih senang merekrut anak muda, saya (agak) setuju. Kenapa? Karena sebagai anak muda, saya pernah mengalami setidaknya dua tindak terorisme atas nama agama. Hal tersebut saya alami ketika pertama kali mengenal Kota Bandung.
Pagi tadi, saya hendak membayar tagihan air di PDAM. Setibanya di sana. lobi kantor tampak sepi. Loket-loket kosong melompong. Itu tandanya, saya tak perlu mengantre seperti biasanya awal bulan. Dapat dipastikan, waktu transaksi kali ini tak lebih dari satu menit. Syukurlah.
Siapa tak mau menjadi orang baik? Saya kira, banyak orang baik di dunia ini. Dimana-mana pasti ada orang baik. Bahkan, orang disuruh untuk berlomba-lomba jadi orang baik.
“Moal menang sia teh! (Gak bakal menang kamu tuh!)” sembur salah seorang lelaki tua yang duduk di bangku depan. Ekspresi itu muncul ketika arak-arakan kampanye capres-cawapres Mega-Pro lewat datang dari arah berlawanan di Jalan Raya Padalarang. Bus Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) Maya Raya yang saya tumpangi berhenti beberapa saat karena macet yang diakibatkan arak-arakan itu. “Panas-panas kieu euh… (panas-panas begini)” tambah kondektur yang juga berdiri di depan sambil memperhatikan penyebab macet itu.