religius


shalat-jumatSiang itu (05/12), ane pulang dari sebuah event yang digelar fakultas. Karena waktu sudah mepet untuk shalat Jumat. Kemudian, ane melaksanakan shalat Jumat di mesjid dekat kos. Kebetulan ane berangkat dan pulang dari mesjid berdua dengan sahabat dekat. Sepulang dari mesjid, sahabat ane membuka dialog sambil kaki melangkah. Menurutnya, ia punya cerita menarik untuk dibagikan. Kisah apakah itu?

Katanya, sehabis menonton acara fakultas, ia pulang dengan beberapa kawan. Salah satu kawan, sebut saja Rahman, menanyakan dimana mereka akan shalat. Lalu sahabat ane, sebut saja Dude –karena ia selalu ingin dianggap identik– mengatakan akan shalat di mesjid kampus. Namun, salah satu kawan lainnya, sebut saja Kalem, melontarkan pendapat yang serius. Yaitu, ia tak ingin shalat di mesjid kampus. Mengapa? (lagi…)

cerahkan-jiwaPagi itu ane baru pulang dari kos temen. Biasa, baru nginep. Semalam, selain sudah mengerjakan tugas, ada satu kisah yang perlu kita cermati bersama. Kisah yang banyak muatan pelajarannya. Apa sih? Cerita Nabi Sulaiman, kah? Bukan. Teman ane baru mengalami kejadian itu beberapa hari minggu lalu sejak bercerita ke ane. Sebut saja, namanya Fadil, biar ane enak ceritanya.

Fadil adalah teman ane. Ya, lumayan dekat lah. Ia pribadi yang riang, pintar, juga senang berorganisasi. Siapa sangka, kalau ternyata Fadil juga sering dilanda masalah. Tapi, ajar juga sih. Kalau setiap manusia ditimpa masalah. Namun, biasanya Fadil bukan tipe orang (lagi…)

Alhamdulillah, sudah sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan sudah terlalui. Semoga saja barakahnya dapat dirasakan oleh semua umat manusia di jagad ini. Barakah bulan yang jelas-jelas di dalamnya terdapat lailatu al-qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan lainnya. Di bulan ini juga terdapat momen mengingat turunnya pedoman hidup manusia, yakni Al-Quran Al-Karim. Siapa yang masih akan menyanggah keagungan bulan Ramadhan ini? Mangga we, asal argumennya kuat dan jelas. Toh, ane hanya meniru perkataan guru-guru ane kok.

Bicara Al-Quran, ane teringat suatu masalah yang diungkapkan oleh salah seorang dosen sastra di kelas ane. Beliau mengungkapkan, bagi anak sastra tak ada salahnya Al-Quran diduduki. Menurutnya, halal dan haram itu bukanlah kajian kita sebagai anak sastra, namun halal dan haram itu merupakan tataran syariat yang lebih cocok dingkap mahasiswa (fakultas) syariah atau hukum Islam. Ane cukup kaget, tercengang juga. Kalau begitu beliau tidak mempermasalahkan Al-Quran itu mau diinjak, dilempar, dan perlakuan kasar (lagi…)

Tadi ane bercengkrama dengan salah seorang teman. Ia pakai t-shirt, jeans belel, dan topi. Pertama liat, ia agak menekuk dahi. Wah, nampak sedang bad taste alias BT. Namanya Eyk. Agak sedikit males, ane bertanya, “sedang apa?”

Ia menjawab. Cukup panjang dan rumit apa yang dikatakannya. Yang jelas, dia sedang bokek dan hendak pulang ke rumahnya untuk munggahan. Kasihan juga. Ia mengaku tak punya uang sepeser pun. Aku agak merogoh kantong. Sama saja, kurang lebih sama. Ane juga lagi defisit alias ma fiih fulus.

Kemudian, Eyk mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebatang Dji Sam Soe. Diambilnya pula korek api gas. Pushhh, api tersulut dan asap mengepul. Tiba-tiba rasa kasihan ane pudar. Kok bisa-bisanya ngerokok, padahal katanya tak punya duit.

“Eta bisa ngaraokok?” — Itu bisa merokok. Aku tanya heran sambil agak jengkel.

“Nya, rokok mah moal bisa absen atuh,” — ya, kalau masalah rokok, ngga bisa absen. Selorohnya santai.

“Cenah teu boga duit?” — Katanya nggak punya uang.

(lagi…)

Perkenalkan neh. Nama ane Ido, umur masih abege lah, 19 tahun. Kuliah di Universitas IAIN Negeri –disingkat UIN– jurusan Bahasa dan Sastra Asing –disingkat BSA. Ane semester lima, tapi entah berapa tahun lagi ane bisa keluar dari kampus ini. Apalagi setiap hari ane berkutat dengan bahasa Arab –salah satu bahasa asing yang ada di dunia. Asing? Maka dari itu, ane pilih jurusan ini. Sekali lagi : Bahasa dan Sastra Asing. Kalau disingkat jadi BSA.

Karena kampus ane adanya di Bandung, makdarit, atau maka dari itu, ane tinggal di Bandung. Sebenarnya seh asli Cianjur. Tapi sekali lagi, karena kampus ane di bandung berarti ane tinggal di Bandung. Tinggal di sebuah kamar kos, bukan pesantren ya! Awalnya seh dipaksa musti ke pesantren. Katanya untuk membantu pemahaman bahasa asing yang ane pelajari di jurusan ane. Tapi, ane kapok –punten rada kasar– tinggal di pesantren. Dulu pernah mesantren, makdarit, ane bisa bilang kapok tinggal di pesantren.

Niat babeh ema seh alus banget. Apalagi yang dipelajari kitab kuning atau yellow book (?), pasti babeh seneng banget. Secara babeh ane orang NU. Bukan NU, tapi Islam. Islam, tapi NU. Nah, itu mungkin yang enak. Di pesantren, konon kualitas religiusitas kita akan tumbuh dengan baik. Ngaji, belajar tepat waktu, solat jamaah, taat pada kyai, dan kebersamaan dengan teman-teman. Tapi banyak juga ‘oknum’ yang memudarkan persepsi tersebut dengan ghasab, tindak pencurian, pacaran terselubung, sampai kejahatan kelamin. Belum lagi pola hidup yang kurang terbina : ngubek-ngubek air bak mandi, ke kamar dengan kaki ledug alias kotor, sampai kasur yang nggak pernah dijemur sampai melahirkan ekosistem di dalamnya.

Oleh karena itu, citra pesantren di mata ane –sendiri– udah terlalu buruk. Bukan maksud mempengaruhi. Toh ini sekedar argumentasi. Ini setidaknya yang ane alami. Makdarit, ane katakan ‘tidak’ pada pesantren. Biar di Bandung, ane tinggal di kosan saja. Insyaallah jaga diri. Insyaallah!

Di kosan jauh lebih enak dari pesantren. Sekali lagi, setidaknya itu yang ane alami. Lebih memacu diri untuk mandiri dan disiplin. Tanpa gertakan. Tanpa aturan. Berbekal didikan ema babeh, ane bertarung dengan waktu dan hawa nafsu. Ke mesjid, itu untuk shalat jamaah. Biasanya yang populer di kosan itu magrib. Kalau di kampus itu Dzuhur dan Ashar. Tapi ya, dibiasakan juga shubuh dan isya.

Kos, enak menyebutnya. Cuma satu kata. Satu suku kata. Satu helaan nafas. Tapi tiga hurufnya. TInggal di kos itu enak. Mandi bebas. Tidur tanpa batas waktu. Makan juga bebas, sebenarnya. Tapi urusan perut itu lain lagi perkaranya. Bebas tergantung sikon. Di kala hidup terhimpit krisis, maka nasi menjadi barang langka yang susah mendapatkannya. Enaknya juga, di kos itu bebas berekspresi tanpa gangguan individu lain. Nulis, gak ada yang ganggu. Baca, gak ada yang muji. Nangis, gak ada yang ledek. Telanjang, gak ada yang teriak. Bahkan tertawa-tawa sampai gila, gak ada yang nyembuhin. Saking privatnya kos.

Tapi semua itu sangat relatif. Toh, saat jari ini mengetik, ane lagi merindukan kos. Sedari siang ane berkutat dengan manusia. Malam ini ane harus menulis berita untuk naik cetak besok. So, ane rindu kos. Otomatis, yang ada di benak ane cuma kos. Kasur. Tidur.