Perkenalkan neh. Nama ane Ido, umur masih abege lah, 19 tahun. Kuliah di Universitas IAIN Negeri –disingkat UIN– jurusan Bahasa dan Sastra Asing –disingkat BSA. Ane semester lima, tapi entah berapa tahun lagi ane bisa keluar dari kampus ini. Apalagi setiap hari ane berkutat dengan bahasa Arab –salah satu bahasa asing yang ada di dunia. Asing? Maka dari itu, ane pilih jurusan ini. Sekali lagi : Bahasa dan Sastra Asing. Kalau disingkat jadi BSA.
Karena kampus ane adanya di Bandung, makdarit, atau maka dari itu, ane tinggal di Bandung. Sebenarnya seh asli Cianjur. Tapi sekali lagi, karena kampus ane di bandung berarti ane tinggal di Bandung. Tinggal di sebuah kamar kos, bukan pesantren ya! Awalnya seh dipaksa musti ke pesantren. Katanya untuk membantu pemahaman bahasa asing yang ane pelajari di jurusan ane. Tapi, ane kapok –punten rada kasar– tinggal di pesantren. Dulu pernah mesantren, makdarit, ane bisa bilang kapok tinggal di pesantren.
Niat babeh ema seh alus banget. Apalagi yang dipelajari kitab kuning atau yellow book (?), pasti babeh seneng banget. Secara babeh ane orang NU. Bukan NU, tapi Islam. Islam, tapi NU. Nah, itu mungkin yang enak. Di pesantren, konon kualitas religiusitas kita akan tumbuh dengan baik. Ngaji, belajar tepat waktu, solat jamaah, taat pada kyai, dan kebersamaan dengan teman-teman. Tapi banyak juga ‘oknum’ yang memudarkan persepsi tersebut dengan ghasab, tindak pencurian, pacaran terselubung, sampai kejahatan kelamin. Belum lagi pola hidup yang kurang terbina : ngubek-ngubek air bak mandi, ke kamar dengan kaki ledug alias kotor, sampai kasur yang nggak pernah dijemur sampai melahirkan ekosistem di dalamnya.
Oleh karena itu, citra pesantren di mata ane –sendiri– udah terlalu buruk. Bukan maksud mempengaruhi. Toh ini sekedar argumentasi. Ini setidaknya yang ane alami. Makdarit, ane katakan ‘tidak’ pada pesantren. Biar di Bandung, ane tinggal di kosan saja. Insyaallah jaga diri. Insyaallah!
Di kosan jauh lebih enak dari pesantren. Sekali lagi, setidaknya itu yang ane alami. Lebih memacu diri untuk mandiri dan disiplin. Tanpa gertakan. Tanpa aturan. Berbekal didikan ema babeh, ane bertarung dengan waktu dan hawa nafsu. Ke mesjid, itu untuk shalat jamaah. Biasanya yang populer di kosan itu magrib. Kalau di kampus itu Dzuhur dan Ashar. Tapi ya, dibiasakan juga shubuh dan isya.
Kos, enak menyebutnya. Cuma satu kata. Satu suku kata. Satu helaan nafas. Tapi tiga hurufnya. TInggal di kos itu enak. Mandi bebas. Tidur tanpa batas waktu. Makan juga bebas, sebenarnya. Tapi urusan perut itu lain lagi perkaranya. Bebas tergantung sikon. Di kala hidup terhimpit krisis, maka nasi menjadi barang langka yang susah mendapatkannya. Enaknya juga, di kos itu bebas berekspresi tanpa gangguan individu lain. Nulis, gak ada yang ganggu. Baca, gak ada yang muji. Nangis, gak ada yang ledek. Telanjang, gak ada yang teriak. Bahkan tertawa-tawa sampai gila, gak ada yang nyembuhin. Saking privatnya kos.
Tapi semua itu sangat relatif. Toh, saat jari ini mengetik, ane lagi merindukan kos. Sedari siang ane berkutat dengan manusia. Malam ini ane harus menulis berita untuk naik cetak besok. So, ane rindu kos. Otomatis, yang ada di benak ane cuma kos. Kasur. Tidur.